RENUNGAN PEMILIK KEINDAHAN

(by : Nurul Candrasari Masykuri)
Share
Thursday, December 3, 2009 at 10:16pm




" Jika dengan betul kau baca dirimu sebagai naskah kau akan kekal, Ruh itu kebenaran, yang lain itu dusta "
( Nizami dalam Halt Paikar /Tujuh Jelita)




Seorang filsuf Italia awal abad 20 "Benedetto Croce" mengemukakan dimana ilmu pengetahuan memiliki dua bentuk penjabaran, yakni bentuk pengetahuan intuitif dan pengetahuan logis dimana pengetahuan logis akan terlukis dalam ringkasan dan dilanjutkan ketingkatan representasi mental selanjutnya berbuah sebuah konsep dari hasil penalaran silogistik.Sedangkan pendekatan dengan pengetahuan 'intuitif' kurang populis dimana hanya segelintir saja yang menerima pendekatan dengan pengetahuan intuitif. Dalam buku The Corporate Mystic yang di tulis Croce, yang menurutnya sebuah pengetahuan intuitif tidak perlu bergantung pada otoritas seorang 'guru', namun yang diperlukan adalah sebuah kepekaan intuisi yang diwarnai intelektual dan proses kreatif.Namun sayangnya pengetahuan intuitif sering menjadi rancu dan sarat mistis.




Sebenarnya sudut pandang dengan perangkat pengetahuan intuitif adalah masalah sebuah perbedaan sisi pandang dan kedalaman intuisi masing-masing sisi,yang dapat di ilustrasikan sebagai berikut dimana sebuah konsep warna bila yang menilai dari pakar dan ilmuwan fisika tentu akan memiliki perbedaan yang sangat tajam bila disanding dengan sudut pandang pengetahuan dari seorang seniman, karena perbedaan antara karya ilmiah dan karya seni akan membuahkan antara tindakan intelektual dan intuitif. Sehingga Croce mencoba memberi penekanan di dalam mengartikulasikan intuisi ternyata tidak sekedar mengenalnya sebagai independen dari sebuah konsep, namun tidak berarti intuisi berpijak pada intelektualitas. Intuisi menurut Croce sering lebih dipahami sebagai persepsi. Dimana intuisi juga terkadang diilustrasikan sebagai sebuah sensasi yang memiliki bentuk (form) dan keteraturan (order) dalam katagori ruang dan waktu . Ruang dan waktu adalah bentuk intuisi, sehingga ketika kita mengintuisi sesuatu akan tampak tergambar intuisi sebuah lokasi dalam ruang dan waktu.Intuisi disini akan menimbulkan sebuah material yang tak berbentuk ( unformed material) dimana sebuah spirit yang akan memunculkan isi, materi yang dapat membedakan intuisi kita dari orang lain. Namun sayangnya seringkali intuisi menjadi salah arti dengan sensasi yang kasar (brute sensation). Menurut Croce memori yang di intuisikan adalah self awareness.




Dengan kata lain mungkin akan lebih mudah dipahami pengetahuan intuisi adalah pengetahuan ekspresif yang independen dan otonomdari intelektual, dan tidak tergantung dari perbedaan riil dan tidak riil,yang tak lepas dari kesadaran ruang dan waktu dari sebuah sensasi perasaan the flood dan flux of sensation dari material psikis dan ini semua adalah ekspresi, singkat kata mengintuisi adalah ekspresi.Bagian yang terpenting adalah antara intuisi bila dipisahkan dari ekspresi , akan menjadi tidak dapat lagi untuk digabungkan. Akhirnya sebuah perjalanan intuisi akan menuju jalan panjang kerohanian lewat berbagai pintu dan akan mempertemukan manusia dengan dirinya sendiri. Dirinya yang hakikat, The sacred self, dimana berlanjut antara diri seorang hamba dengan Sang Pencipta. Dalam perjumpaan dengan PEMILIK KEINDAHAN (SANG PENCIPTA) hakekat ini dapat mengambil sebuah kutipan indah dari seorang penyair sufi 'Jalaluddin Rumi' :





"Apa yang harus kulakukan, o Muslim? Sebab aku tak kenal diriku
Aku bukan Kristen, bukan Yahudi, bukan Zoroaster, bukan pula Muslim.
Aku tidak dari Timur, tidak dari Barat, tidak dari darat atau lautan.
Aku tidak diciptakan dari tanah, tidak dari air, udara atau api:
Aku tidak berasal dari perputaran angkasa atau pusaran debu.
Tidak dari keberadaan wujud:
Aku tidak berasal dari India,China, Bulgaria ataupun Saqsin:
Aku tidak berasal dari kerajaan Iraq, atau dari negeri Khurasan;
Aku tidak berasal dari dunia ini atau dari dunia akan datang, tidak dari surga atau neraka;
Aku tak berasal dari Adam dan Hawa
Tidak dari taman firdaus atau kediaman malaikat Ridwan;
Tempatku tak bertempat, jejakku tanpa jejak;
Tempat asalku juga bukan tubuh dan jiwa sebab aku adalah milik jiwa Kekasih ( Pemilik Keindahan/Sang Pencipta)




Ekspresi sufisme yang disajikan lewat sebuah puisi indah tersebut bersifat transedental, disinilah diperlukan intuitive sense dan sekaligus pengetahuan intelektual . Dengan ilustrasi puisi indah tersebut diperlukan kesatuan ketajaman mata intuisi dan intelektual, yang berlandaskan keutamaan tidak sekedar bentuk namun lebih pada nilai spiritual dan tidak empiris (lahiriah).
Finally sebuah makna medasar yang hakiki tidak hanya dapat dicapai dengan sebuah kerinduan. untuk menuju intuisi menuju Pemilik Keindahan memerlukan dan melibatkan serangkaian proses rasionalitas dan kerohanian yang akan mencakup penciptaan kembali kepada tahap pribadi awalan, seperti yang terekspresi dalam sebuah puisi dari 'Jalaluddin Rumi'




Ada taman indah, penuh pohon lebat
Pohon anggur, padang rumput hijau
Seorang sufi duduk, karam dan tafakur (perenungan)
Bertanya seseorang, "Hai sufi, mengapa tak kau pandang tanda-tanda Yang Rahman"
Di sekitarmu, yang oleh-Nya
Dilihat supaya kita renungi ?
Sufi menjawab, " tanda-tanda NYA kulihat dalam diriku
Ada pun yang di luar
Hanyalah sebuah lambang dan tanda-tanda"
Jakarta,3 Desember 2009
By : Nurul Candrasari Masykur i


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NURUL CANDRASARI RADIO

Browser not supported