(Bagian Pertama) IMPLIKASI TSUNAMI FINANSIAL DARI SUBPRIME MORTGAGES SEBAGAI PEMICU RESESI DUNIA
Share
Monday, March 22, 2010 at 11:36am
(Bagian Pertama) IMPLIKASI TSUNAMI FINANSIAL DARI SUBPRIME MORTGAGES SEBAGAI PEMICU RESESI DUNIA
Share from : Mas Dano Ismail To : Nurul Candrasari Masykuri
* Efek Domino dan Kesalahan Manajemen Risiko yang Unprudential
Tahun 2007 adalah tahun terjadinya gejolak ekonomi dunia yang disebabkan oleh “krisis subprime mortgages” pada sektor properti dari golongan menengah ke bawah di AS yang banyak mengalami gagal bayar kredit propertinya. Selanjutnya menyebar ke sektor finansail, khususnya investment banking berskala internasional yang membeli asset subprime mortgages tadi serta menderivatifkan hingga 10 tingkatan laksana bisnis Multi Level Marketing dengan jaringan yang berjenjang dan dipasarkan ke seluruh dunia, khususnya di Eropa, Jepang, Korsel dan Negara lainnya. Dengan defaultnya debitur subprime ini, maka telah menimbulkan kerugian maha raksasa diderivatif sekitar USD 15,4 Trilyun yang telah dialami oleh banyak institusi investment banking, sekuritas, perbankan, asuransi, hedge fund serta investor ritel di seluruh dunia. Krisis ini telah banyak membangkrutkan perusahaan properti, khususnya Fannie Mae dan Freddie Mac, serta kerugian sangat besar pada Citigroup, Credit Suisse, Morgan Stanley, AIG serta banyak lagi perusahaan finansil raksasa AS. Puncak turbulensi dan gejolak krisis subprime ini terjadi pada Juli 2008 dengan tumbangnya Lehman Brothers Inc., yang berasset sekitar USD 640 Milyar telah mengalami kerugian maha besar, karena misalokasi dana kelolaannya tanpa manajemen risiko dan prudential banking yang baik, dimana justru sebagian besar dananya ditempatkan di subprime mortgages dan tingkatan derivatifnya.
Lehman telah melupakan prinsip “don’t put your eggs in one basket” yang sangat urgent pada pengelolaan bisnis yang berisiko tinggi. Banyak pengamat dan pakar ekonomi yang mengatakan bahwa kalangan Wall Street, termasuk CEO Lehman Brothers telah lalai, bodoh dan serakah dalam menjalankan bisnis finansilnya tanpa manajemen professional. Efek dari krisis subprime ini mulai menyebar ke bursa saham dunia, termasuk Dow Jones (DJIA) yang telah mencapai puncaknya di bulan April 2007 pada 14.425 point dan menyeret seluruh bursa saham dunia dengan koreksi lebih dari 50 % dan tentunya akan terus melemah menuju titik awal kebangkitan DJIA pada tahun 1992 yang berada pada titik 4.250an (awal era Presiden Bill Clinton) bahkan dapat mencapai level 2.000 – 3.000 jika menuju deflasi parah dan Obama tak mampu memberikan pemulihan ekonomi secara sehat dan sustainable yang hanya melakukan berbagai kebijakan ekonomi makro yang konservatif dan linier, demikian juga dengan nasib index Nasdaq, dan S&P 500 (AS), Nikkei 225 (Jepang), Hangseng (Hongkong), Shanghai (RRC), FTSE (Inggris), Xetra Dax (Jerman), CAC (Perancis), termasuk IHSG BEI (Indonesia) yang telah terkoreksi hingga tinggal 1.110 (awal Nopember 2008). Kepanikan di bursa saham dunia ini turut memperparah kerugian sektor finansil dunia sekitar USD 20,55 Trilyun serta di IHSG (Indonesia) telah menguap dana bursa (capital outflow) sekitar Rp. 850 Trilyun. Dengan longsornya bursa saham dunia, khususnya di AS, selain kerugian besar yang dialami oleh banyak perusahaan finansil, perbankan dan asuransi, juga menyebabkan kerugian besar bagi investor ritel, dimana di AS sebagian besar masyarakat AS, termasuk para pensiunan menaruh dananya di bursa saham. Kerugian ini akan menambah makin banyaknya rakyat miskin dengan daya beli yang menurun pula, sehingga dengan cepat merembet ke sektor riil, karena penurunan yang tajam dari konsumsi masyarakat AS. Dengan penurunan ini pula, berarti ekspor negara maju dan berkembang ke AS otomatis juga akan anjlok tajam dan memicu efek domino yang berpotensi menjadi resesi dan deflasi global yang parah.
* Teori Reflecsity George Soros, Teori Econophysics A. Tannous dan E. Fessant, Teori Semut & Kupu-kupu Paul Omerod serta Teori Bio-Economics Edmond Ferdinand L.
Teori Reflecsitas dari Georges Soros mengatakan bahwa pertumbuhan akan me- ngalami peningkatan secara linier yang sering dibubble atau dihargai melebihi nilai wajarnya demi mencapai pertumbuhan dan keuntungan yang berlebih dengan memakai segala daya upaya, strategi dan dana yang akhirnya mencapai puncaknya pada ketinggian harga tertentu. Pada pertumbuhan linier (bullish) ini akan tercapailah “tahap prosperity” yang sering membuat manusia makin bergairah, serakah dan percaya diri untuk terus bertumbuh, meski disadari atau tidak akan menimbulkan efek ketagihan mirip narkoba yang selalu mencoba naik melebihi tingkat kemampuan diri sendiri dan lingkungannya (self and environment carrying capacity) menurut teori Bio-Economic yang bersifat overdosis yang meracuni atau overbought. Sudut lereng kenaikan harga menjadi sangat terjal yang dicapai hanya dalam waktu singkat (high return high risk) yang menyebabkan kondisi tubuh atau mesin bursa dan ekonomi akan cepat memanas (overheating). Menurut metode Econophysical Tannous dan Fessant adalah mirip rangkaian listrik yang terus memberikan power untuk bergerak dan bekerja, serta menurut teori Butterfly Economic Paul Omerod adalah aktivitas kupu-kupu mencari madu bunga tumbuhan (mirip buga kredit yang terasa manis madunya atau gerombolan semut yang berkeja dan berjalan beriringan sibuk mencari makan dan gula tanpa kenal lelah. Setelah mencapai puncaknya, akan terjadilah proses “self reinforcing (penguatan diri)” dari Reflecsity( Georges Soros), kelebihan beban rangkaian listrik teori econophysical (Tannous dan Fessant), penumpuk-an gerombolan semut pada satu area sempit (bottleneck) teori Butterfly Economic (Paul Omerod), peak carrying capacity teori Bio-Economic yang dapat menghabiskan sebagian besar dana, waktu, peluang dan korban harta demi untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, tetapi ternyata tidak dapat tercapai, meski telah dilakukan berulang kali. Proses ini adalah mirip konsolidasi manajemen dan sideways ekonomi, tetapi umumnya para pelaku bisnis dan ekonom kurang tahu, bahkan tidak menyadari kondisi kritis ini dengan terus berekspansi bisnis, membeli saham pada harga tinggi, mengambil kredit berisiko tinggi, - karena berasumsi bahwa kondisi pertumbuhan ekonomi, pangsa pasar dan bursa saham masih tetap menjanjikan pertumbuhan yang prospektif. Jika telah kehabisan dana, daya dan peluang untuk naik, mulailah terjadi proses nervous, frustrasi, kebingungan pada kondisi crowded (bergerombol) yang menimbulkan kemacetan, udara panas ruangan dan banyak rumors yang membingungkan. Dan pada akhirnya terjadilah catastroph (Georges Soros), tanah longsor, snowballing, body fatique and shock (Bio-Economic), gempa bumi (Tannous dan Fessant), dan berhamburannya semut oleh gangguan tangan dari luar, dimana harga saham maupun pertumbuhan ekonomi menjadi tumbang dengan proses penurunan yang drastis atau terjadi gerakan free fall oleh gaya gravitasi untuk me- nurunkan semua massa dan asset dari ketinggian puncaknya hingga ke level bawah (base) ke tempat dimana level dia mulai naik. Disinilah terjadi proses hukum The Law of Demi- nishing Return (hukum kenaikan yang makin berkurang), dimana jika kita naik mirip sebuah lintasan peluru (ilmu mekanika) pada sudut terjal (lebih dari 70 derajat atau lebih dari lereng 45 %), katakanlah dalam waktu tempuh 1 jam pada ketinggian (Y) 1.000 m maka kita akan jatuh cepat oleh gaya gravitasi pada jarak pendek 200 m (X) dari mana kita mulai naik (titik 0). Dengan demikian segala daya upayadan kinerja manusia dalam kurun waktu tertentu akan terkoreksi secara alami pada tempat disekitar ketinggian dan lokasi dimana dia mulai melakukan pendakian, usaha dan kegiatan yang telah menghabis- kan banyak dana, usaha dan waktu yang berarti kembali pada titik Break Even Point saja. Yang mengalami kerugian adalah investor dan perusahaan yang tidak waspada, tidak hati-hati (prudential), tidak professional dan tidak efesien dalam melakukan pengelolaan dana, usaha dan kinerja tanpa mau tahu kondisi siklus bisnis manusia yang bukan saja ha- nya digerakkan oleh tangan-tangan manusia saja, tetapi juga dikendalikan oleh “Invisible Hand” dari kekuatan natural dan supernatural. Secara jangka panjang dalam ruang dan waktu, pengaruh kekuatan natural dan supernatural akan sangat dominan dalam mempengaruhi dinamika kehidupan manusia di semua aspek kehidupannya, termasuk ekonomi.
* Stimulus Ekonomi AS dengan cara Bailout dan Ease Money Policy
Bailout Depkeu USD 700 Milyar dan bailout FED sebesar USD 800 Milyar yang menye-babkan utang APBN AS dapat mencapai defisit USD 1,5 – 2,0 Trilyun serta rencana pemerintah AS menerbitkan T-Bill sebesar USD 600 Milyar. Jumlah bailout sebanyak USD 2,1 Trilyun ini tentu belum mampu memulihkan secara cepat sektor property, terutama untuk membantu debitur subprime dan finansil investment banking yang telah mengalami kerugian sebesar USD 15,4 Trilyun. Bailout ini hanya untuk memperbaiki efek psikologis pasar dan sedikit menambal kerugian yang ada dengan harapan akan muncul kembali kepercayaan pasar terhadap sektor properti, finansil dan perbankan. Rencana stimulus Obama tahun 2009 di sektor infrastuktur hanyalah bersifat darurat untuk mengu- rangi tingkat pengangguran, tetapi belum pada masalah mendasar di sektor riil property dan manufaktur. Kami setuju analisis beberapa pengamat ekonomi AS bahwa bailout otomotif AS sebesar USD 15 – 34 Milyar hanyalah buang-buang duit, tanpa menyentuh “basic problems” otomotif AS yang tidak efisien, produk mobil boros BBM, terobosan teknologi yang mahal meski life span mobil memang cukup durable. Kesulitan GM, Ford dan Chrysler selama ini adalah kalah bersaing dengan otomotif Jepang, Korsel dan Eropa baik di pasar dunia maupun di domestiknya, karena inefisiensi kronis dan boros BBM. Sedang rencana Henry Poulson sebenarnya cukup menyentuh untuk membantu debitur sub-prime dan property lain, tetapi mestinya secara menyeluruh untuk efisiensi bisnis yang baik serta perlu “take a rest, konsolidasi, innovasi, efisiensi dan turn around” untuk recharging dan returning ekonomi AS pada level sebenarnya. Tetapi dengan kondisi ekonomi yang mulai mengarah ke deflatoir, maka menurut kami, AS akan sulit untuk cepat recovery dan memang seharusnya terjadi konsolidasi dulu, termasuk akan terjadi seleksi alami bagi semua sektor bisnis. Seleksi alami ini akan banyak merontokkan perusahaan dalam kerugian besar dan kebangkrutan, sehingga kondisi ekonomi makin lemah. Disinilah perlunya kebijakan ekonomi yang dapat mem-bangkitkan secara perlahan mesin ekonomi secara alami dan bukan dengan economic tehnical engineering seperti yang telah dilakukan oleh sektor finansil, dimana bukannya semakin baik tetapi justru semakin parah. So, “don’t fight the natural law”, biarkan alam mengatur kehidupan manusia dan bukan sebaliknya yang justru akan makin memperparah kondisi ekonomi dalam jangka panjang. Deflasi ini akan membentuk laju ekonomi yang dingin (cooling step) dan bukan langsung menanjak tinggi dengan indikasi inflasi mulai meningkat kembali. Ekonomi AS dan dunia akan menuju ke musim dingin dulu untuk beberapa lama sekitar 3 – 5 tahun (2012 – 2014) dan mulai menghangat secara perlahan hingga 7 – 10 tahun (2015 – 2018). Tetapi jika manusia (ilmu ekonomi, finansil dan manajemen bisnis) berusaha keras untuk bengkit kembali dengan berbagai “acrobat economic and management policies”, malah justru akan membuat kondisi ekonomi akan makin mendingin (deflasi makin tinggi) yang membuat makin banyak perusahaan bangkrut, pengangguran makin tinggi, tingkat konsumsi makin anjlok dan orang miskin meningkat dengan kriminalitas, gejolak sosial dan politik yang juga akan makin meningkat. Dengan demikian biarkanlah kondisi bisnis akan menata kinerjanya yang didukung oleh kebijakan ekonomi pemerintah yang kondusif dengan berbagai upaya insentif untuk menstimulir mesin ekonomi untuk mulai bangkit kembali, tetapi sehat dalam jangka panjang tanpa mengalami krisis yang parah.
* Paradoxial Analisis Kekacauan Ekonomi Perang Irak
Sebenarnya ekonomi AS telah mencapai puncaknya pada tahun 2000 di era Bill Clinton setelah tancap selama 8 tahun sejak 1992. Pada era Bush senior memang telah menurun akibat kekalahan manufaktur AS dari Jepang sejak 1985 di pasar domestik AS. Clinton telah mereformsi ekonominya dengan mengandalkan innovasi teknologi, efisiensi dan stimulus terhadap korporasi komputer di Silicon Valley yang ditandai dengan banyak muncul perusahaan software dan hardware, seperti Microsoft, Dell, Apple dan dimulai- nya era Internet yang akhirnya diikuti oleh booming New Economy Dotcom (penyedia layanan provider). Sejak itu ekonomi mulai meningkat kembali dan manufaktur mulai bangkit dan mengungguli korporasi Jepang. Sejak awal 1980, korporasi Jepang melanda AS dengan mengakuisisi korporasi AS yang terkenal dengan istilah “The Rising Sun”. Tetapi pada awal 1994, sejak Jepang masuk ke resesi dan akhirnya deflasi maka kondisi- nya terbalik dimana banyak korporasi Jepang diakuisisi oleh korporasi AS, termasuk Mitsubishi, Toshiba, dll. hingga akhir era Clinton pada tahun 2000. Sebenarnya Bush da- pat melanjutkan kehebatan Clinton paling tidak hingga 2003, tetapi ada beberapa peris-tiwa dan kondisi struktural ekonomi AS yang makin membebani ekonomi dan industri AS yaitu 1). Tragedi WTC membuat mulai rontoknya bangunan ekonomi AS yang merugikan ratusan milyar USD pada dunia bisnis, pariwisata dan penerbangan AS; 2). Guncangan krisis New Economy Dotcom yang meletus pada 2001; 3) Skandal Enron dan Xerox dalam penipuan akuntansi; 4) Kerapuhan struktur ekonomi AS oleh konsumsi dan kartu kredit yang sering melebihi tingkat pendapatan rakyat AS; 5) Standard hidup dan tingkat salary dan bonus dari CEO hingga karyawan yang bergaji tinggi dibandingkan dengan gaji karyawan korporasi Jepang di AS (kasus Big Three otomotif AS yaitu GM, Ford dan Chrysler yang menyebabkan mereka merugi USD 74 Milyar sejak 2004 dan saran Senat AS untuk memangkas gaji karyawan ditentang oleh serikat buruh yang me- nyebabkan bailout sebesar USD 14 Milyar terancam batal pada 13 Desember 2008 serta kasus gaji dan bonus CEO Wall Street mencapai USD 500 juta/tahun). Standard hidup yang tinggi ini menyebabkan beban ekonomi AS makin berat serta gaji dan bonus CEO dan karyawan yang tinggi juga menjadi beban biaya operasional industri AS makin berat sehingga biaya produksi terhadap harga per unit produk makin mahal dan kalah dibanding produk Jepang (otomotif) dan Cina (makanan, elektronik dan peralatan rumah tangga). Untuk industri otomotif AS memang semestinya syarat angggota Kongres dari Partai Republik agar gaji karyawan dipotong menjadi sama dengan gaji karyawan Nissan, Honda dan Toyota untuk membuat produk mobil Big Three mempunyai harga kompetitif dengan produk mobil Jepang; 6) Kebijakan kredit perumahan model subprime mortgages sejak 1997 (era Clinton) dan kebijakan Gubernur The FED, Alan Greenspan yang cut rate FFRT secara agresif dari 6,75 % (2001) menjadi hanya 1,0 % (2003) menjadi pemicu jor-joran kredit perumahan oleh pengembang properti sekaligus boomerang bagi industri properti dan derivatif subprime yang dijual secara berjenjang oleh investment banking saat terjadinya krisis subprime mortgages; 7) Bioritmik ekonomi AS yang dipengaruhi oleh kekuatan supernatural dan natural, dimana memang seharusnya melemah pada resesi ringan hingga sedang, tetapi karena adanya ke faktor point 1 – 7, menyebabkan makin parahnya krisis ekonomi yang menyebabkan resesi ekonomi menuju kondisi deflasi serta berpotensi lebih parah yaitu ke Depresi Besar. Dengan demikian, kita semestinya lebih rational, reasonable dan tidak emosional terlalu menyalahkan Bush sebagai penyebab utama kekacauan ekonomi seperti yang dituduhkan oleh beberapa pakar ekonomi setelah kita mengetahui kronologis penyebab kekacauan ekonomi, maka perang Irak hanyalah turut memperburuk kondisi utama resesi (10 – 20 %), sedang sisanya adalah point lainnya
* Tanggapan terhadap Keluhan ALAN GREENSPAN
”Kita tidak akan pernah menemukan model yang sempura untuk menganalisis risiko. Kita takkan pernah mampu mengantisipasi ketidaksinambungan dalam pasar finansi.l”
Menurut kami itu tidak sepenuhnya benar, karena ekonom hanya memakai teori ekonomi yang bersifat linier dengan data statistik dan perhitungan matematis ekonometrik linier (berdimensi 1) pada bidang makro ekonomi dan moneter yang bersifat statis. Hal ini tentu ilmu ekonomi tak akan pernah tahu dengan prediksi akurat dan tepat terhadap gejolak psikologis, kepanikan, ketakutan, egoisme, keserakahan, cita-cita, nilai harapan, hasrat, needs & wants, sikap mental, visi dan bioritmik alamiah pada suatu bidang ruang (X Y Z) yang berdimensi 2 – 4 yang memang tak dapat diukur secara kuantitatif oleh ekonometrik.
Disamping itu adanya ”Invisible Hand” dari alam supernatural dan natural men-yebabkan terjadinya suatu interaksi antara manusia, alam natural dan supernatural yang dinamis dan selalu bergerak non linier dan fluktuatif pada setiap aktivitas manusia, termasuk ekonomi dan bisnis. Memang sifat manusia untuk selalu mau maju, menang, berkembang (growth) dan berhasil yang ditunjukkan oleh grafik garis lurus (linier) dan jika mulai menurun dan fluktuatif maka manusia akan memakai berbagai cara untuk meluruskannya agar naik lebih tinggi lagi. Tetapi ada batas kemampuan diri manusia untuk naik pada satu sesi pendakian, dimana gunung juga hanya mempunyai ketinggian tertentu dan tak mungkin naik terus menuju ke langit. Proses fluktuatif ini, yang jika naik akan dinyatakan sebagai hal positif, keuntungan, keberhasilan dan prestasi, tetapi jika menurun akan dinyatakan sebagai negatif, kerugian, kegagalan dan wanprestasi dan akrab disebut sebagai ”risiko”. Padahal positif dan negatif, untung dan rugi, menang dan kalah, prestasi dan wanprestasi adalah warna dan inti dari kehidupan itu sendiri yang tak dapat dihilangkan, tetapi dapat dihindari jika kita mengenal dengan baik alunan bioritmik aktivitas manusia di dunia. Menurut hukum alam ”The Law of Deminishing Return” bahwa jika kita makin naik tinggi dengan sudut kemiringan terjal dan kecepatan lebih besar, maka kita juga akan menghadapi risiko kejatuhan dengan kecepatan yang jauh lebih cepat (free fall) dengan akibat yang lebih parah dibanding keuntungan yang kita dapat sejak saat mendaki. Mirip kasus bursa saham, bursa komoditi, derivatif dan valas atau istilahnya ”High Return High Risk”. Anehnya manusia hanya senangnya mau naik terus, menang terus dan berhasil terus tanpa pernah mau tahu penurunan, kekalahan dan kegagalan yang akan selalu dianggap sebagai ”risiko”, sehingga hukum alam gravitasi akan menarik paksa turun jika anda sudah mendekati puncaknya dan bersifat ”manusia menara Babilonia”. Demikian juga kenaikan pertumbuhan (growth) ekonomi bisnis, saham, komoditi, valas, obligasi, derivatif dan bonds akan terjadi fluktuasi yang alamiah yaitu bioritmik aktivitas ekonomi manusia yang jika dipaksa melawan arah penurunan (self reinforcing) akan menyebabkan suatu catastroph Soros, seperti ambruknya bangun-an raksasa derivatif subprime yang diikuti oleh ambruknya suatu bangunan yang di-bangun oleh manusia dengan dana besar, waktu lama dan kerja keras, seperti bursa saham, bursa komoditi, bursa valas dan sektor riil dalam waktu yang lebih singkat, kerugian dan korban lebih banyak. Bio-Economic dengan alunan bioritmik, kita dapat memprediksi secara akurat tahun berapa (2008) dan bulan berapa (mestinya Juli-Agustus 2008) terjadinya puncak krisis yang dilanjutkan resesi AS. Ketidaksinambungan sebenarnya adalah irama fluktuasi bioritmik secara naik turun yang jika tidak dijaga dengan baik akan menyebabkan terjadinya gejolak dan catastroph, sehingga muncul ketidaksinambungan (ketidaklinieran) pertumbuhan ekonomi dan kenaikan harga saham.
Dengan mengetahui bioritmik ekonomi secara tepat dan benar, maka kita dapat menghindari risiko sistemik dan individual dari bangunan raksasa yang dibuat manusia, sehingga kita dapat terhindar dari kerugian, kekalahan, kegagalan dan bencana dari risiko sistemik. Selanjutnya kita dapat membuat suatu kondisi ”Free Risk Natural” dan bukan free risk financial yang justru sering gagal dalam meredam dan mencegah munculnya suatu risiko. Yang sering dilakukan adalah memberikan suatu komitmen untuk memberikan suatu Fix Income, Reksadana Pendapatan Tetap, Reksadana Terproteksi, yield derivatif, tetapi tak jarang terjadi timbulnya risiko dalam jangka waktu tertentu yang dikenal sebagai ”siklus ekonomi - bisnis”. Sebenarnya bangunan derivatif ber-jenjang boleh-boleh saja, tetapi kira harus membuat pondasi yang kokoh (objek derivatif yang kuat) dengan arsitektur dan konstruksi bangunan sipil yang berkualitas agar bangunannya dapat langgeng, kuat, tahan gempa dan tiupan badai, seperti kasus subprime mortgages yang pondasinya sangat rapuh. Belum lagi financial engineering junk bonds subprime yang dibungkus berbagai produk derivatif aneh-aneh untuk menghilangkan risiko yang sebenarnya tak dapat dihilangkan. Jadi kita termasuk Alan Greenspan tak perlu bingung dan frustrasi bahwa ”kita takkan pernah menemukan model analisis yang sempurna untuk mengantisipasi risiko serta ketidakmampuan untuk mengansipasi ketidaksinambungan dalam pasar finansil”. Belajarlah dari sistim, dinamika dan evolusi alam sebagai perpustakaan dan laboratorium ilmiah tercanggih yang telah disiapkan Tuhan untuk dikelola dan dimanfaatkan manusia secara bijaksana dan optimal agar tidak merusak ”rumahnya sendiri”. Menurut informasi dari Dahlan Iskan (koran Jawa Pos, Oktober 2008) bahwa karena ilmu matematika, sempoa dan geometrik, hanyalah ilmu linier berdimensi 1 (satu) yang tak mampu mengetahui, menguasai dan mengendalikan pengaruh kekuatan natural dan supernatural terhadap setiap aspek kegiatan dan kehidupan manusia), maka pasar derivatif menjadi makin canggih dan rumit. Menurut kami bahwa pelaku finansil hanyalah membuat jejaring (web) artifisial yang rumit dan berjenjang yang justru mem-buat mereka terperangkap dalam jaringan kompleksnya sendiri tanpa mampu melepaskan diri saat meledaknya tsunami subprime. Yang mana kami sendiri dengan metoda Bio-Economic telah mengetahui dengan tepat jebolnya Rupiah ke Rp. 7.500 – 10.000 dan bangkrutnya bank di Indonesia oleh Krismon (1997); prediksi naik turunnnya IHSG sejak 1997 – 2003; depresiasi Rupiah ke Rp. 11.750 oleh pengaruh BBM; akan terjadinya resesi AS pada 2007-2008 (prediksi kami sejak 2003); prediksi pada Oktober2007 tentang akan adanya ”tsunami finansil subprime” dengan puncaknya pada Nopember 2008 dengan kebangkrutan Lehman Brothers, terdepresiasinya Rupiah menembus Rp. 10.000,-, kenaikan BBM yang mendorong SBI menuju 10,0 %, growth ekonomi 2008 sebesar 5,7 – 6,0 %, penurunan FFRT (the FED) menuju 1,0 – 1,5 %, ancaman deflasi AS dan global oleh kontraksi cut rate menuju zero rate yang dilakukan oleh bank-bank sentral dunia. Menurut kami, resesi dan deflasi AS dan dunia akan lama pulih dan berlangsung hingga 2012 – 2015, dimana kesejahteraan dunia menurun kembali pada kondisi tahun 1960an dengan potensi Depresi Besar untuk kembali ke era tahun 1930an.
Beberapa kesalahan mendasar pasar derivatif yaitu : 1) pondasi sub-sektoral pada properti kelas menengah ke bawah yang semestinya menengah ke atas; 2) akurasi data tidak valid; 3) manajemen risiko yang perhitungannya tidak akurat; 4) pembuatan jaringan bangunan risiko tanpa arsitektur bagunan pencakar langit tahan gempa; 5) tingkat prediksi yang ren- dah dan tidak adanya ”early warning system” yang bekerja efektif dan cepat dalam sis-tim komputerisasinya; 6) perhitungan makro dan mikro ekonomi serta finansil dan akuntansi seperti NPV (Net Price Value) dan NFV (Net Future Value) yang bersifat linier, sehingga tidak bersifat lentur (elastis) dan efektif dalam melakukan assesment dan prediksi. Inilah yang menyebabkan kondisi bubble yang terus mendorong manusia dengan sifat yang penuh ketamakan dan kegairahan untuk melakukan ”leveraging” secara manipulatif tanpa ”underlying asset dan value ” yang sesuai dan sewajarnya.
* Pengaruh Zero Interest Rate AS terhadap Potensi Economic Deflatoir.
Suku bunga adalah mirip “say with flower” untuk menyatakan cinta, apresiasi dan kebaikan hati dari the lender / kreditur kepada the donor / debitur. Jika suku bunga makin rendah menuju zero rate (0 – 1,0 %), maka bukan yang muncul bunga-bunga baru atau tanaman makin kuat, tetapi justru makin merontokkan daun dan bunga itu sendiri, karena terjadi kondisi overdosis. Hal ini dialami oleh petani jika tanahnya telah diberi pupuk berlebih bukannya akan menghasilkan bulir padi / buah yang banyak, tetapi justru akan menurunkan tingkat produktivitas karena nutrient pupuk, terutama pupuk anorganik akan meracuni tanaman. Demikian juga interest zero rate tak akan mampu memberikan suatu stimulus peluang bagi bisnis untuk berkembang dengan rendahnya cost of fund / money, - karena kondisi ekonomi yang sangat lesu, beku dan dingin karena daya beli dan tingkat konsumsi yang rendah akan menurunkan pula tingkat produksi dan penjualan industri dan jasa serta makin banyaknya PHK, pengangguran dan kebangkrutan perusahaan. Kondisi ini memberikan efek domino “deflasi spiral” yang makin berat dan parah. Jepang juga telah mengalaminya dari 1992 – 2006 dan sampai sekarang interest ratenya tetap rendah yaitu antara 0,25 – 0,35 % selama 10 tahun lebih. Perkembangan hingga Desember 2008, menunjukkan trend makin agresifnya bank sentral Eropa dan dunia menurunkan suku bunganya sebesar 0,5 – 1,0 % dan akan berlanjut terus menuju 1,0 % dan akhirnya akan menuju zeo rate seperti yang telah dialami Jepang, diikuti oleh AS (1,0 %) yang masih akan diturunkan oleh the FED menuju 0,25 – 0,50 % serta bank sentral dunia lainnya. Kami prediksikan bahwa BI juga akhirnya akan terus menurunkan SBI menuju zero rate setelah mengalami kontraksi dari inflatoir menuju deflatoir pada 2010 – 2011 nanti. Harga-harga akan jatuh secara drastis, meski di Indonesia berlaku sebuah pemeo bahwa “harga tegar ke bawah” yang kita alami selama 30 tahun lebih, dimana kondisi inflatoir terus berlangsung yang ditandai dengan tetap tingginya tingkat SBI sejak tahun 1970an.
Krisis finansil AS telah menyebar dengan gejala sistemik dan menimbulkan efek domino pada semua lini bisnis dari perbankan, manufaktur dan jasa-jasa lainnya termasuk industri kreatif nantinya. Krisis finansil ini telah menimbulkan kerugian raksasa bagi investment banking, perbankan umum, sekuritas, asuransi, hedge fund dan investor ritel yang menyebabkan terjadinya kekeringan likuiditas perbankan dunia oleh penarikan dana AS di seluruh dunia kembali ke induk perusahaannya untuk menutupi kerugian dan mem- bayar hutang serta tagihan nasabah yang menarik dananya. Kondisi ini menyebabkan juga catastroph di bursa saham dan komoditi dunia yang menambah kepanikan investor di seluruh dunia dan beralihnya dana ini ke spekulasi valas USD, disamping dana AS yang telah diinvestasikan di negara maju dan emerging market yang menyebabkan USD makin menguat terhadap hard currency dan mata uang lainnya, termasuk Rupiah yang terus melemah dan telah menembus level Rp. 13.400 pada akhir Nopember 2008. Efek ini akan membuat BI akan sulit untuk menurunkan SBI secara agresif mengantisipasi pelemahan ekonomi akibat resesi dan ancaman deflasi dunia agar bisnis tetap berjalan terus.
Spread antara SBI dengan inflasi agar dapat menekan tingkat inflasi secara efektif adalah sekitar 1,5 – 2,5 %, dimana tingkat inflasi pada 2008 adalah sekitar 11,5 – 12,5 %, ber- arti tingkat SBI yang optimal adalah sekitar 9,5 – 10,5 %. Jika BI cenderung mengikuti penurunan bunga seperti bank sentral lain di dunia, tentunya kita menghadapi potensi pelemahan Rupiah di waktu mendatang. Tetapi kita beruntung dapat mampu meredam krisis global ini dengan melakukan turn around dari eksportir menjadi pemain local dulu sambil menunggu pulihnya ekonomi global. Dengan tetap tingginya bunga SBI, telah menjadi daya tarik investor untuk meraup untung dari perbedaan suku bunga AS 0,25 % dan suku bunga Eropa yang terus menurun dan Jepang yang sudah zero rate. Akibatnya ekonomi tetap tumbuh sekitar 4,0 % yang didukung oleh sector konsumsi dan ekspor bahan baku SDA. Masuknya aliran dana oleh aksi Carry Trade membuat nilai Rupiah menguat kembali setelah terdepresiasi oleh Capital Outflow yang membuat US$ pada akhir 2008 dan awal 2009 menguat drastis terhadap mata uang kuat dunia.
* Efek Domino terhadap Sektor Riil Dunia dan Indonesia.
Krisis subprime dan finansil telah memporakporandakan hamper semua bangunan finansil dunia dan merontokkan semua pasar saham dan finansil dunia menuju titik nadir dimana mulai mendaki gunung pada tahun 1992. Krisis ini membuat mengeringnya likui- ditas finansil pada sektor perbankan, pasar modal, pasar uang dan pasar komoditi yang juga diikuti oleh kerugian maha dahsyat yang dialami oleh semua institusi finansil (bank, sekuritas, investment banking, hedge fund) serta investor ritel yang sebagian besar adalah terdiri dari masyarakat kelas menengah dan bawah dan sedikit kelas atas (kaya raya) yang juga menanamkan sebagian modalnya di pasar saham, asuransi (wealth management), reksadana, produk derivative finansil dan paar komoditi. Memang pada saat pasar naik (bullish), kekayaan masyarakat dan institusi finansil makin kaya raya, belum lagi jika di- hitung dengan acrobat derivatif yang membuat kekayaan makin menggelembung, hanya sayang itu hanyalah bubble (busa) semata, dimana pada saat gelembung busa/buih pecah maka menguap jugalah semua kekayaan yang telah diimpikan. Oleh adanya kekayaan yang bubble ini, maka sebagian masyarakat serta institusi finansil yang “merasa kaya” akan membelanjakan secara royal dan mewah semua barang konsumsi (konsumerisme) tanpa perhitungan yang matang. Kondisi ini membuat sektor riil manufaktur, properti, perdagangan, jasa pariwisata, perhotelan dan penerbangan makin tumbuh pesat untuk menikmati laju perumbuhan kekayaan bubble yang dibiayai oleh nilai saham dan profit deviden di pasar saham dan pasar uang. Hal ini juga dialami oleh oleh sektor tambang minyak dan mineral serta komoditi pertanian dan perkebunan yang menyebabkan laju ekonomi makin kencang dengan memanfaatkan semua sumber daya alam minyak, mine-ral, pertanian, perkebunan, perikanan dan hutan untuk memenuhi kebutuhan produksi industri manufaktur (barang) dan jasa dalam rangka memenuhi tingkat konsumsi dunia. Semua negara terjun langsung ke sektor industri yang menjanjikan dan memunculkan negara industri baru, terutama AS, Jerman, Inggris, Perancis dan Jepang pada era 1960 – 1980, selanjutnya muncul macan Asia yaitu Korsel, Singapura, Taiwan, Hongkong dan Thailand pada era 1980 – 2000 dan akhirnya Cina, India, Rusia dan Brazil pada era tahun 2001 – 2008 yang juga diikuti oleh negara-negara lain di dunia III, termasuk Eropa Timur.
Puncak kegiatan ekonomi dari finansil ini berakhir pada Oktober 2007 dengan gejolak finansil dengan puncak bangkrutnya Lehman Brothers dan memicu kebangkrutan banyak institusi perbankan, asuransi, sekuritas dan masyarakat di AS, Eropa dan mulai menjalar ke Jepang dan Korsel. Dengan kerugian besar dan ke- bangkrutan ini menyebabkan terjadinya PHK massal sektor finansil AS dan Eropa serta masyarakat AS dan Eropa akan menyebabkan berkurangnya daya beli dan akhirnya ting- kat konsumsi masyarakat AS dan Eropa yang berdampak pula pada produksi industri AS dan Eropa serta ekspor negara-negara lain ke AS dan Eropa. Krisis dan resesi ini memicu pula rontoknya bursa berjangka minyak dunia yang diikuti oleh harga mineral, pertanian dan perkebunan pada akhir Oktober 2008 dan berlanjut terus pada awal Desember 2008, dimana harga minyak telah menyentuh level USD 40,5/barrel dan diikuti juga oleh harga komoditas mineral, pertanian dan perkebunan. Memang yang paling menakutkan adalah terjadinya deflasi spriral yang makin ke bawah dengan konsekwensi resesi oleh tingkat inflasi (overheating lava gunung api) digantikan oleh proses pendinginan alami ke tingkat deflasi (overcool lahar gunung api) atau musim panas (summer) menuju musim gugur (fall dengan bergugurannya perusahaan) dan akhirnya ke musim dingin (winter yang menyebabkan terhentinya kegiatan ekonomi-bisnis oleh tebalnya salju putih). Pertanyaan lanjutan : when the spring is coming ? for 10 or 15 years after ? Spring yaitu musim semi dimana dedaunan pohon dan bunga mulai tumbuh dengan berakhirnya musim dingin (suhu di bawah nol derajat dalam arti bahwa growth economy dunia juga negatif). Spring membuat suhu udara (growth dunia mulai naik perlahan sekitar 1 – 3 %) menghangat dan kegiatan manusia, termasuk ekonomi-bisnis mulai bangkit kembali. Hal ini telah kami jelaskan pada supplemen “The Death of Economics ? The answer is Bio-Economics” agar manusia semestinya akan selalu dan harus mengikuti semua alunan bioritmik alam, sehingga tidak tersesat di “bubble of economics jungle” yang bersifat “survival of the fittest” dan jatuh ke jurang gelap, dingin dan membeku selama beberapa tahun akibat krisis, resesi, deflasi dan depresi. Untuk itulah bio-economics menyodorkan sebuah kiat khusus agar manusia bukalah hidup dalam dunia binatang model Afrika yang gersang, panas, miskin, kejam dan kanibalis, tetapi semestinya hidup secara “struggle for life” dalam dunia tumbuhan model hutan yang subur, sejuk, sejahtera bagi rakyat, penuh kasih sayang, sinergis dan harmonis di dunia. Kita harus ingat bahwa jika manusia banyak makan daging, maka tubuh akan gemuk penuh lemak kolesterol (collateral junk bonds), mudah kena penyakit degeneratif (perusahaan tumbuh subur pada musim hujan tetapi akan mati atau bangkrut pada musim panas menuju musim dingin di subtropis dan kutub)
Sedang jika banyak makan sayuran dan buah, maka tubuh akan tetap langsing, lemak tak banyak, awet muda (perusahaan tetap survive hingga 100 tahun lebih), proses degenerasi makin panjang dan usia tentu makin panjang serta hidup sehat penuh bahagia tanpa suatu gejolak hidup yang penuh krisis, stress (gejolak dan turbulensi bisnis) dan depresi berat.
Menurut Stevanus Subagijo (Peneliti Center for National Urgency Studies Jakarta) bahwa ada Mitos dan Karma Krisis Global, bahwa ide dasar megakorporasi sebagai penyedia dana, developer perumahan sebagai pembangun serta konsumen yang pas-pasan sama-sama terjangkiti virus “mengejar kemajuan”. Hal ini karena filosofi pertumbuhan sendiri tidak dapat dimaknai secara benar oleh pelaku bisnis, sehingga mereka melihat hanya dari model linier bahwa growth dapat terus berjalan lurus/ linier dengan berbagai acrobat financial engineering dan professional management model tanpa mau tahu daya dukung lingkungannya suatu saat akan runtuh atau tumbang. Mirip manusia hidup dengan berbagai cara agar tidak pernah dan perlu sakit dengan memakan berbagai obat, vitamin dan gizi untuk melakukan aktivitas yang sering melewati ambang batas kemampuan dirinya. Menyitir Maria Mies dalam Mitos Mengejar Pembangunan, arah mengejar “pertumbuhanisme” adalah sebuah mitos yang tidak mampu mewujudkan tujuan yang dikehendaki. Dikatakan mitos karena bagaimana mungkin semua orang dan bangsa ingin kaya, sejahtera, maju. Padahal, biaya dan sumber daya untuk itu sangat terbatas. Menurut hemat kami, kita tidak perlu terlalu pesimis terhadap kesejahteraan dunia, karena jika manusia dapat menumbuhkan ekonomi secara benar, maka tentu dunia ini akan menjadi lebih baik dan sejahtera, tetapi harus diingat bahwa Tuhan telah menciptakan kehidupan mahluk hidup secara hirarkhis menurut kingdom, ordo, genus dan speciesnya, dimana ada perbedaan ras, agama, suku dan warna kulit sesuai adaptasi lingkungannya. Kita ambil contoh dunia tumbuhan (ekonomi memakai istilah untuk pertumbuhan) ada pohon besar, pohon perdu dan rumput dan di dalam pohon itu, ada pucuk sebagai kelas atas, ada batang sebagai kelas menengah dan ada akar sebagai kelas bawah yang bekerja secara sinergis dan harmonis untuk bertumbuh sesuai species dan kondisi lingkungannya dan membentuk sebuah piramida, seperti juga piramida umur manusia. Demikian juga dengan sebuah bangsa dapat tumbuh besar sesuai dengan kinerja dan kondisi lingkungan negaranya untuk bertumbuh menjadi besar dan makmur, tetapi tak mungkin semuanya sejahtera secara merata dan itulah keadilan Tuhan dan alam untuk dimanfaatkan manusia secara baik dan benar sesuai perkembangan kinerja mereka sendiri. Kemudian menurut ulasan kami di supplemen “The Death of Economic ? The Answer is Bio-Economic” agar manusia “Back to Nature” dengan memanfaatkan teori Relativitas Einstein yang ter-kenal dengan rumus “E = mC2”. Rumus ini dapat membuat pemakaian massa (m) yang “kecil” tetapi dengan penambahan kwadrat kecepatan proses (C2) dari suatu sumber daya alam dapat dioptimalkan seperti untuk 1 Kg Uranium dari sebuah reator nuklir akan dapat menghasilkan 10 MW dibanding pemakaian jutaan liter BBM, batubara, gas dan sumber lainnya dengan hasil yang sama. Jadi teknologi manusianyalah yang harus direvolusi agar pemanfaatan SDA dapat lebih efisien dan ramah lingkungan. Karena teori Relativitas ini menyatakan bahwa jika manusia telah dapat melakukan suatu proses bilogis, kimiawi dan fisika yang mendekati kecepatan cahaya akan menghasilkan energi mirip nuklir. Energi dapat berbentuk panas, power, sumber finansil, kinerja dan hasil proses industrial dan komputerisasi. Tentu tidaklah bijaksana jika manusia generasi sekarang menghabiskan SDA demi kenikmatan dan kesenangannya sendiri tanpa perlu mewariskan SDA bagi anak cucunya untuk 100 generasi kemudian. Sedangkan biaya (cost) dapat ditumbuhkan secara lebih baik tanpa adanya “bubble financial” seperti model yang dipakai oleh Wall Street untuk menjadi kaya raya serakah tanpa kendali dan puas diri untuk terus mendaki “gunung kemajuan” yang justru akan menjungkalkan diri mereka sendiri oleh hukuman “Alam Gravitasi” untuk kembali ke titik dimana manusia memulai pendakiannya.
Kondisi resesi, deflasi dan depresi ini akan membuat banyak perusahaan di dunia akan merugi besar dan bahkan banyak yang bangkrut (60 – 80 %), pengangguran makin bertambah, kemiskinan makin tinggi yang akan menimbulkan krisis multi dimensi yang penuh gejolak sosial dan politik. Semoga tidak terjadi perang dunia untuk memperebut- kan akses ekonomi dan sumber daya alam, seperti yang diprediksi dan ditakutkan oleh IMF pada Oktober 2007 dalam menyikapi gejolak kenaikan harga di bursa komoditi. Tetapi menurut kami bahwa prediksi IMF mengandung potensi kebenaran jika dunia tak bijaksana menghadapi resesi, deflasi dan depresi ekonomi dunia di masa mendatang.
Demikian pula telah dialami oleh Indonesia dimana banyak order bisnis telah di- putuskan secara sepihak oleh pemesan dari AS dan Eropa yang menyebabkan beberapa industri Indonesia mulai melakukan rencana merumahkan dan rasionalisasi (PHK) untuk menurunkan biaya operasi dan administrasi demi kelangsungan hidup industrinya. Gejala ini akan makin meningkat pada tahun 2009 - 2011, sehingga kemungkinan banyak industri akan menutup usaha atau bangkrut dan makin bertambahnya tingkat penganggur- an serta angka kemiskinan yang memang trendnya terus meningkat pada setiap tahunnya.
Artikel asli ditulis oleh: Edmond F. La’lang : pemerhati ekonomi dan lingkungan hidup (my fellow economist).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar