From : Herry Kariandi To : Nurul Candrasari
Wednesday, April 14, 2010 at 2:04pm
Dear mas Herry, first I would like to say "Thank You" to gv me permit to share to my friend..
& second Dear all my friend ... ini sebait puisi indah yang sangat memilukan yang menggetarkan dan membuat aku menangis membaca wajah negeriku yamg sangat menyedihkan..semoga all my sweet sister & sweet Brother .. dapat merenungkannya ..betapa kondisi ini adalah sebuah potret Indonesia kita'
Aku tak dapat lagi menulis sajak,
ketika perut lapar, dan harga-harga melambung tak terjangkau
Kami adalah generasi robot, yang diperanakkan oleh generasi feodal, warisan kolonial
sekolah kami hanya mengajarkan teori baca tulis bukan moral,
kami di cetak untuk menjadi robot di pabrik-pabrik, di sekolah, di kampus dan di kantor,
kami cuma untuk di perah, keringat, kami tenaga kami,
kami menjadi guru, dokter, tentara, pekerja pabrik, dosen, petani yg telah diprogram seperti robot.
Kami dicetak untuk menjadi robot-robot, hingga kami latah dan gagap membaca arti kemerdekaan berpikir, jumpailah kami wahai tuan pemilik modal, harga kami murah,
tuan bisa cari kami di tiap kampung, di sudut gang perkotaan, mulai dari lulusan SD, SMP, SMA, S-1, S-2, S-3, bahkan tak sekolahpun ada,
harga keringat kami murah, tuan, kami akan memupuk kekayaan tuan,
tak perlu repot, jika kami sakit, atau tenaga kami tak diperlukan lagi cukup buang kami, cukup kontrak saja, outsourcing, magang, honor, atau apalah yang penting kami kerja, nyogok pun tak apa, karena toh kami adalah generasi robot, kami adalah generasi bermental budak.
Kami generasi gagap yang di pelihara oleh generasi tak bermoral, karena sekolah kami cuma mengajar menyontek, titip absen, duplikat skripsi, tesis bahkan disertasi.
Kami tak pernah di ajar kritis karena otak kami telah di program menjadi robot.
Kami menjadi generasi hedon yang acuh tak acuh kami lebih suka shoping, pesta, hura-hura dan kami senang menyuburkan kapitalisme tuan, karena kami generasi konsumtif yang cuma berpikir memakai bukan memproduksi, kami generasi lebay, narsis dan alay, karena pejabat negeri kami juga lebay, toh yang penting hura-hura, pesta, dan menghisap candu kemunafikan.
Aku tak dapat lagi menulis sajak, ketika kujumpai berjuta orang putus sekolah, tergusur, dan lapar.
Oleh: Herry Kariandi


Tidak ada komentar:
Posting Komentar