Tuesday, May 11, 2010 at 7:14pm
by : Nurul Candrasari Masykuri
Masalah gedung miring, tentu tidak akan mencuat menjadi "berita hangat" jika yang miring itu bukan Gedung DPR RI, dan bukan anggota DPR yang menyatakan nya. Andai yang miring adalah gedung SD atau Puskesmas. Pastilah berita tak akan sehangat miring nya Gedung DPR. Lalu, kenapa miring nya gedung DPR menjadi cukup menghebohkan, bahkan ICW pun menegaskan ada nya unsur kebohongan publik, terkait dengan masalah tersebut diatas ? Celaan ICW cukup beralasan, karena berdasarkan penilaian dari Litbang PU, ternyata gedung itu tidak miring dan hanya mengalami kerusakan dan butuh perbaikan.Sedangkan yang diajukan adalah harga RENOVASI dengan anggaran ± Rp. 1,8 triliun..
Arti nya, bila tiba-tiba muncul pandangan dari anggota DPR yang menyatakan bahwa gedung tersebut miring, tampak nya membutuhkan "penilaian ulang" yang lebih akurat. Hal ini penting kita cermati, karena jika penilaian nya hanya dengan menggunakan pandangan mata, tanpa menggunakan teknologi yang terukur, bisa jadi hasil akhirnya bakal mengundang debatibel yang berkepanjangan. Apalagi jika tidak ada kesepakatan apa sebetul nya yang disebut dengan pengertian miring itu sendiri. Maksud nya kalau gedung itu bergeser 1 derajat atau 0,1 derajat apakah layak dikatakan miring ? Atau ada ketentuan bahwa yang dikatakan miring dan tidak tegak itu, bila melewati batasan angka tertentu. Kayak nya, kalau hal yang demikian mau di bawa ke ranah hukum, tentu nya ketepatan dan akurasi data dasar, bakalan menjadi input yang sangat penting.Sedangkan beberapa waktu lalu Dinas PU melaporkan adanya kemiringan gedung tempat berkantor ratusan anggota dewan tersebut, hingga 7 derajat.
Menurut Dinas PU yang hanya menyarankan agar dilakukan suntik beton.
Mengacu pada pernyataan anggota DPR tentang miring nya Gedung DPR (Nusantara 1), mungkin tidak akan melahirkan beragam penafsiran, andai memang tak memiliki unsur rekayasaa atau keterkaitan nya dengan biaya renovasi yang membutuhkan anggaran sekitar 1,8 trilyun rupiah. Menurut pandanganku tak akan muncul polemik yang terkesan tiba-tiba, karena seharusnya sudah ada penjelasan yang logis terhadap kondisi riil gedung Nusantara 1.
Akan lebih baik, jika mata anggaran yang 1,8 trilyun itu pun diuji publik dan dijelaskan berapa derajat kemiringan gedung tersebut. Mengingat proses ini tidak ditempuh atau memang tidak dianggap perlu, maka wajar-wajar saja jika kemudian muncul perbedaan tafsir dan persepsi yang diajukan. Banyak dugaan, upaya merenovasi Gedung DPR ini sarat dengan kepentingan, khusus nya bagi yg ikut dlm tender renovasi kelak. Dalam sebuah "negeri yang serba tak jelas ini ", tidak menutup kemungkinan ada nya "rekayasa proyek". Bahkan penting menjadi perenungan kita bersama, ada yang menengarai bahwa proyek renovasi Gedung DPR adalah program "akal-akalan" untuk meraup bermacam kepentingan.
Andai kebenaran soal miring nya gedung DPR (walau masih diperdebatkan), tidak dimaksudkan untuk mengalihkan isu-isu politik yang lebih penting. Bukan juga sebagai langkah untuk memojokkan' anggota DPR di mata publik. Artinya, sungguh memilukan jika para politisi kita terjebak dalam hal-hal yang tidak berkorelasi positif dengan jeritan dan penderitaan rakyat. Ini penting dijadikan bahan perenungan oleh para anggota DPR, karena tampak nya masih banyak agenda yang tertunda dan butuh kerja keras para anggota DPR. Sebagai "wakil rakyat" tentu mereka harus semakin sungguh-sungguh dalam mengawal dan mengawasi kasus Bank Century. Karensa DPR RI seharusnya untuk tidak berhenti mengungkap "mafia pajak" yang sekarang ini terkesan datar-datar saja. Juga soal Susno Duaji. Kita berharap agar mereka lebih fokus dan serius, daripada hanya meributkan soal gedung DPR yang AKURASI kemiringannya belum TERUJI dan mungkin saja hanya membutuhkan perbaikan di beberapa titik saja.
Dan menurutku mengapa tak memanggil ahli-ahli dalam struktur bangunan untuk segera mengukur kebenaran dan seberapa daya dukung bangunan Gedung Nusantara 1 apakah benar sudah separah yang sekarang ini di takutkan oleh bbrp anggota dewan yang terhormat ??
Sehingga menurutku agar mampu memberi solusi atas sebuah persoalan sudah saatnya panggilah profesiaonal di bidang strukur agar tak menjadi polemik yang tak jelas.
Namun andai miring nya gedung DPR mampu dijadikan obyek wisata, sebagaimana miring nya Menara Pisa di Italia ,mungkin akan jadi lain soal kalee ya..he..he..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar