(by : Nurul Candrasari Masykuri)
Wednesday, July 21, 2010 at 1:27am
Karena itu benar kata Mochtar Lubis ketika mengatakan dalam Orasi Budayanya berjudul: Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban, Jakarta 6 April 1977,
katanya: mental manusia Indonesia cenderung hipokrisi yang ciri utama suka berpura-pura, lain di muka- lain pula di belakang, lain di kata-lain pula di hati.
Pendeknya manusia Indonesia adalah manusia yang hobi berbohong dan menggadaikan keyakinan yang sebenarnya.
Mungkin ini adalah salah satu penyebab mengapa budaya korupsi menjadi trend dalam ciri sosial di republik ini.
Mungkin manusia Indonesia karena suka berpura-pura membenci korupsi, dan ternyata hanya dilakukan dalam forum resmi dan di arena publik.
Dan saat sendirian, lalu ada kesempatan apa saja yang dapat dikorupsi, maka di korupsilah
Lalu sebuah pertanyaan kritis sebenarnya mengapa ya korupsi dibenci tapi tetap saja sangat ramai dan dan banyak yang mengimami serta dilakukan banyak orang di negeri ini ?
Realitas sosial akhirnya menuju kepada perilaku budaya korupsi dan akhirnya juga melahirkan budaya baru, yakni: ga perduli apakah itu baik atau salah , main belakang dan berbohong. Akibatnya walau telah berusia 61 tahun negeri ini masih saja mengalami KEKURANGAN MANUSIA JUJUR
atau mengalami DEFISIT MANUSIA JUJUR.
Anehnya budaya macam tersebut malah menjadikan tak lagi mereka sadari itu adalah sebuah kejahatan malahan kini telah terjadi TAWAF BERJAMAAH yang dilakukan bersama dan berulang ulang seperti orang yang sedang TAWAF dan SAI dalam agama ISLAM (maaf ini hanyalah sebuah ilustrasi , bagaimana mereka para koruptor melakukan berulang-ulang dan berjamaah)
Yang uniknya malahan dijadikan ikon dari sistem sosial di republik ini. Para guru, peneliti, aktivis LSM, intelektual, bahkan mungkin para tokoh agama. Padahal mereka adalah pilar utama kejujuran dan moral.
Agamawan dan aktivis LSM kita pun tak kalah unik, mereka hanya akan bersuara lantang terhadap fenomena kejanggalan sosial di tengah masyarakat, tatkala menguntungkan suatu kelompok tertentu dan tak membahayakan aktivitas sosialnya.
Ini berarti ada suatu kepentingan yang dikorupsi.
Para agamawan aktivis LSM,Tampak seakan bermesraan dengan elite politik lokal baik dalam PEMILU atau dalam PILKADA.
Jadi sudah menjadi biasa bila kelak banyak di antara mereka menjadi pemuka-pemuka partai politik yang berakhir dengan kemiskinan rasa dan karsa.
Mungkin ada beberapa faktor penyebab kondisi tersebuti diantaranya ialah:
Pertama,kalau menurut Psikolog hilangnya atau punahnya budaya rasa malu korupsi, sedangkan malu merupakan terapi psikologis untuk menurunkan derajat korupsi. Semakin tinggi rasa malu seseorang semakin tinggi pula tingkat kontrol psikologis untuk takut korupsi.
Dan hal tersebut lagi2 mungkin kita bisa menyaksikan budaya Jepang yang sangat meninggikan budaya rasa malu sebagai cara mengangkat derajat bangsa menjadi bangsa yang unggul di atas bangsa-bangsa yang lain.
Menurut laporan News Week pada tahun 2002 yang lalu sedikitnya 30.000 orang Jepang mati dengan jalan bunuh diri dan diduga keras penyebab tingginya angka itu adalah faktor "malu".
Kedua, lemahnya sanksi moral di tengah masyarakat terhadap koruptor. Lihatlah, realitas di masyarakat para koruptor kelas kakap ..ternyata mendapat penghargaan di masyarakat dan dipuji dan ditokohkan dalam masyarakat.
TAK PERCAYA?? , coba perhatikan para koruptor biasanya adalah seorang tokoh dermawan di tengah masyarakat yang bagaikan SINTERKLASS atau ROBIN HOOD , dimana rata2 dari mereka sang KORU{PTOR adalah donatur terbesardi tempat ibadah, donatur utama panti asuhan, donatur tetap perayaan sosial di lingkungannya dan lain-lain.
LALU BAGAIMANAKAH SIKAP KITA SESUNGGUHNYA???
Artinya di satu sisi masyarakat membenci korupsi, tapi di sisi yang lain mereka amat menghargai, menghormati bahkan membutuhkan koruptor. Tak kalah pentingnya para koruptor di tengah masyarakat pada umumnya teramat lihai menarik simpati.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar