(From : my sweet lovely Brother "MAS DANO ISMAIL"
Thursday, March 11, 2010 at 9:18pm
TERJADINYA KRISIS KEUANGAN GLOBAL YG MEMBAWA DUNIA KEDALAM RESESI EKONOMI YG BERKEPANJANGAN SAAT INI, TELAH MEMBUKA MATA KITA ATAS SUATU FAKTA BAHWA KAPITALIS TANPA CAMPUR TANGAN PEMERINTAH DIDALAMNYA, TELAH BERUBAH MENJADI KANIBALIS YG GANAS DIMANA YG BESAR MEMAKAN YG KECIL, MELAHIRKAN SIFAT PRIMITIF MANUSIA YAITU SIFAT RAKUS MATERI UANG TANPA BATAS. HAL INI TELAH MENYEBABKAN LEMBAGA2 KEUANGAN GLOBAL MEMPERLAKUKAN DUNIA KEUANGAN GLOBAL LAYAKNYA "MEJA KASINO" SEMATA.
Pada tanggal 22 September 1985 tercipta suatu kesepakatan yg dikenal dengan "Plaza Accord" sebagai hasil keputusan tujuh orang menteri keuangan negara-negara yg tergabung dalam kelompok 7 atau G7: Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, Canada dan Jepang. Mereka bertemu di Hotel Plaza New York, sepakat utk menghancurkan nilai mata uang dolar Amerika. Maklum pada saat itu semua barang dagangan bermerek Jepang laris diseantero negara-negara barat. Hampir semua negara maju tekor/deficit berdagang dengan Jepang. Khususnya Amerika telah mengalami defisit perdagangan dgn Jepang yg luar biasa besar nilainya. Oleh karna itu Amerika mengganggap tdk ada cara lain selain membuat lemah mata uang dolar Amerika sehingga barang-barang Amerika menjadi murah diluar negeri. Amerika meminta bantuan negara-negara G7 untuk menghancurkan nilai mata uang dolar Amerika. Sejak saat itu terjadi "concerted action" atau "cordinated intervention" yaitu aksi menjual dolar Amerika secara bersamaan dari bank-bank sentral ketujuh negara industri terkaya didunia tsb untuk membuat nilai dolar AS hancur terhadap mata uang lainnya didunia.
Tahun 1980 nilai dolar AS setara dengan 340 Yen Jepang namun sejak tahun 1985 dolar AS terpuruk dan bahkan pernah mencapai setara dengan 79 Yen melalui drama yg dikenal dengan Drama Yendaka pada tahun 1995.
Sejak tahun 1985 itulah banyak sekali bermunculan "Hedge Fund Manager" yg bisnis utamanya 'membuat uang dari uang' atau mencari untung dengan jual beli mata uang dimana dalam semalam saja dapat meraup keuntungan yg luar biasa besarnya karna nilai dollar AS jatuhnya searah. Maka sejak tahun 1985 inilah uang sudah benar2 dilegalisir sebagai barang dagangan atau komoditi dan bukan lagi semata-mata hanya sebagai alat pembayaran.
Tahun 1992 terjadi drama lain sebelumnya yg dikenal dengan Drama Moneter Eropa. Tujuh tahun sejak spekulan makin banyak bermunculan, mereka merajalela dan semakin berani. Pada tanggal 21 September 1992, Inggris terpaksa keluar dari 'European Monetary System' akibat ulah kaum spekulan yaitu serangan George Soros terhadap Poundsterling Inggris.
Biasanya bank sentral yg dikenal sebagai penguasa moneter dan pemilik cadangan devisa terbanyak dan terkaya didunia sangat ditakuti pasar. Hanya dengan berbicara saja atau sesumbar, dan belum melakukan aksi yg dikenal dgn intervensi, pasar valas sudah ketakutan; maksudnya pasar sangat segan dan takut melawan bank sentral. Namun melalui 'Drama Moneter Eropa' tersebut, tercatat tidak kurang dari 17 bank sentral terkaya didunia melakukan intervensi pasar. Namun aksi ini dilawan oleh para Hedge Fund, nama keren dari para spekulan yang dipimpin oleh George Soros sehingga saat itu sejumlah bank sentral dibuat terkapar dan poundsterling tetap lemah lunglai.
Tanggal 22 September 1992 Harian Kompas mengulas tentang drama yg terjadi di Eropa tersebut dan saat membaca ulasan beberapa pengamat keuangan, maka sempat terpikir bahwa "bukan tidak mungkin orang-orang yang sama akan datang memporak-porandakan kawasan lain yang menurut pengamatan mereka dapat dijadikan mangsa." Dan benar, tepat lima tahun kemudian, tahun 1997, mereka datang ke Asia, masuk melalui Thailand kemudian menghancurkan seluruh kawasan Asia. Macan-macan Asia terluka, lunglai dan rontok satu persatu melalui drama yg dikenal sebagai "Contagion Effect." Sebetulnya menurut pengamatan kami, incaran utamanya adalah China. Namun utk menghancurkan Yuan China yang nilai kursnya selalu dipatok, mereka harus masuk melalui Hong Kong. Namun dolar Hong Kong dijaga secara ketat dan smart oleh otoritas keuangannya.
Modus operandi dan taktik yg digunakan oleh para spekulan dalam menghancurkan mata uang lokal adalah dengan cara; mula-mula meminjam sejumlah besar mata uang lokal dari bank2 setempat pada saat suku bunga overnite sangat murah, dan kemudian uang lokal tersebut dijual dan dibelikan dolar AS. Biasanya bank sentral setempat pada saat melihat ada indikasi pembelian dolar AS secara besar-besaran, maka reaksi spontan yg segera dilakukan adalah menaikan suku bunga overnite. Apa yg terjadi selanjutnya adalah "double jackpot" bagi keuntungan sang spekulan. Nilai dolar AS akan segera menguat terhadap mata uang lokal, spekulan untung atas selisih kurs, kemudian meraup keuntungan lagi dari kenaikan suku bunga overnite tersebut; DOUBLE JACKPOT IN HANDS. Mama mia lezato!!!
KIAT HONG KONG. Apa yg dilakukan oleh otoritas Hong Kong saat itu? Saat otoritas mencium adanya peminjaman mata uang lokal secara besar-besaran dengan suku bunga rendah untuk dibelikan dolar AS, mereka segera dengan kekuasaan otoritas ditangannya memperingatkan (warning) semua bank2 lokal untuk tidak memberikan pinjaman dalam bentuk mata uang lokal kepada fund manager asing; langkah yg luar biasa SMART. Pengumuman warning dilakukan pada hari Jumat dan pada Senin berikutnya, saat kantor bank buka, petugas-petugas otoritas Hong Kong langsung masuk ke bank-bank setempat, mengawasi detil transaksi bank pada hari itu, dan hasilnya, hari Selasa keesokannya para spekulan asing langsung mengambil langkah seribu meninggalkan Hong Kong. China pun selamat!!!
Sedihnya saat itu Indonesia kecolongan karena otoritas kita terlalu 'smart' melawan spekulan dengan terus membiarkan KURS RUPIAH mengambang bebas dan tidak mengendalikan pencairan kredit dadakan di bank2 lokal. Maka akibatnya Rupiah kita terjun bebas sampai menyentuh level 18.000-an per dollar AS sehingga terjadilah krisis multidimensi yg berkepanjangan. Pak Harto pun jatuh!!!
Dana Talangan (Bailout) dan Stimulus: laksana melempar garam kelaut.
Pukul 1.30 malam WIB atau siang waktu Amerika pada tanggal 6 Maret 2009, Indeks DJIA (Dow Jones Industrial Average) di Bursa Wall Street Amerika sempat menyentuh titik 6666,66, terendah sejak April 1997. Hal ini disebabkan karna berita bangkrutnya General Motor, pilar industri kebanggan AS yg berumur ratusan tahun. Padahal beberapa hari sebelumnya Presdien AS Barack Obama didepan Senat AS berpidato dengan luar biasa hebatnya, mengatakan bahwa saatnya untuk mulai membeli saham. Apa yg terjadi di Wall Street yg mewakili mood di Main Street sangat berbeda dengan di Capitol Hill tempat Obama berpidato. Saham-saham berjatuhan, bahkan saham Citibank Corp. hancur dibawah satu dolar AS per saham. Bagaikan rangkaian domino, perusahaan keuangan Amerika rontok satu persatu. Sebut saja; Lehman Brother, Morgan Stanley, Bear Stearns, Merril Lynch, Bank of America, American Express dan nama-nama besar lainnya.
Singkat cerita, utk menyelamatkan korporasi Amerika yg kolaps tersebut, Menteri Keuangan AS berencana memberikan dana talangan (bailout) sebesar 700 milyar dollar AS utk membantu korporasi AS tersebut. Dan tanggal 3 Oktober 2008 DPR AS menyetujui paket tersebut.
Bayangkan 700 milyar dollar AS (yang kemudian membengkak menjadi 1,3 trilyun dollar AS) utk menyelamatkan korporasi yg listing di Wall Street. Dikatakan bahwa dana talangan merupakan sesuatu yg tidak boleh tidak, harus dijalankan (conditio sine qua non). Adilkah? Para pelaku Wall Street sudah kaya raya namun perusahaan tempat mereka bekerja dibuat bangkrut. Ini tidak adil, perusahaan mereka ditolong sedangkan puluhan juta rakyat AS jatuh miskin oleh ulah mereka. Bayangkan jumlah tersebut setara dengan pendapatan setahun 23 juta warga AS dengan pendapatan rata-rata 30.000 dollar AS.
Namun ada pesan Milton Friedman, ekonom kawakan AS dan peraih hadiah nobel bidang ekonomi yg meninggal di usia 94 tahun, sama dengan anjura Adam Smith, bapak ekonomi pasar, bahwa dalam keadaan ekonomi mengering, pemerintah diharapkan bisa menjadi stimulus bagi perekonomian dengan mengeluarkan anggaran, jika perlu sampai dengan DEFISIT... wah?
Virus kebangkrutan ini kemudian menjalar ke negara-negara Eropa. Commerzbank, bank kedua terbesar di Jerman bermasalah dan meminta dana talangan pemerintah sebesar 8,2 milyar Euro. HBOS Lloyd di Inggris rugi 5,18 milyar poundsterling. Bank Dexia dan Bank Kommunalkredit di Austria bermasalah dan diambil alih pemerintah. Allco Finance Australia batal membeli Quantas dan Quantas bangkrut meninggalkan hutang 1 milyar dollar Australia. Carnegie, bank tertua dan terbesar di Swedia diambil alih pemerintah karna bangkrut. Bank Santander Spanyol bangkrut, ditalangi pemerintah. Masih banyak lagi rentetan kebangkrutan yg terjadi pada korporasi keuangan maupun perusahaan yg punya nama besar diseantero dunia mulai dari Jepang, China, India, Iceland dll.
Setelah membaca semua angka-angka dana talangan dan kerugian serta kehancuran nama-nama perusahaan raksasa dunia tersebut, mari kita simak apa yg dikatakan oleh Gubernur Bank Central AS, Ben Bernanke, tanggal 3 Maret 2009 di Washington: "pemulihan ekonomi dari krisis sangat tergantung pada kemampuan pemerintah memulihkan pasar uang yang masih terus bergolak." Pernyataan Bernanke ini menggelitik pemikiran lanjutan kita: "mengapa krisis terus memburuk padahal sejumlah negara sudah menyuntikan dana kesejumlah bank dan lembaga keuangan itu?" Menurut pengamatan kami, ini hanya ibarat melempar garam ke laut, percuma karena tidak mengubah keadaan sama sekali. Tanpa pengaturan secara ketat perilaku para spekulan, pemberian dana talangan hanya akan melanggengkan praktik aji mumpung (moral hazard) di Wall Street alias praktek-praktek penipuan keuangan terus berlanjut. Sebagaimana yang terbukti kemudian bahwa sebagian dana talangan pemerintah AS atau TARP disalahgunakan oleh lembaga keuangan AS utk membayar bonus dan gaji karyawannya (tulisan saya pada 20 Juli 2009). Jika hal ini terus berlanjut maka berapapun uang yang dikucurkan ke korporasi AS akan lenyap ditangan para petualangan Wall Street.
Menurut pendapat kami, pemerintah AS terlalu berpikir dgn cara jalan pintas berdasar pengalaman masa lalu saat terjadi Depresi Berat Dunia tahun 1929, Malaise, AS juga mengandalkan stimulus utk memacu perekonomian mereka pada saat itu. Pemikiran text book thinking seperti ini membawa AS pada situasi dimana talangan sudah bernilai trilyunan dollar AS namun keadaan ekonomi belum juga berangsur pulih. Ada yg dilupakan oleh otoritas AS yaitu bahwa keterkaitan dunia keuangan global sudah sedemikian saling kait mengait dlm bentuk jual beli instrumen2 derivative yg sudah sangat sulit utk dihitung berapa besar "magnitudo-nya" karna instrumen tersebut sudah beranak pinak dan terdistribusi secara luas ke korporasi2 keuangan global. Stimulus hanya merupakan salah satu alat penyelamat ekonomi, namun penyelamatan krisis juga tergantung pada penciptaan sebuah tatanan baru keuangan global. Demikian yg disampaikan Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, didepan Konggres AS. Alistair Darling, Menteri Keuangan Inggris menambahkan: "Sejauh ini tidak ada yg tahu kedalaman krisis, tdk ada yg tahu apa yg terjadi. Ketidaktahuan ini membuat dunia tidak tahu harus berbuat apa terhadap krisis yang dihadapi." Pernyataan ini luar biasa mencengangkan saya.
Sampai saat inipun masih muncul dan terus berlangsung spekulasi akbar dipasar uang. Produk-produk yg tidak jelas statusnya terus diperjualbelikan dan regulator tak mampu mengawasinya. Hal ini memunculkan gejolak pasar yang makin membuat runyam kepercayaan konsumen dan perusahaan. Bernanke memberi contoh AIG, perusahaan raksasa Asuransi Amerika, turut berperilaku sebagai Hedge Fund, dengan aksi spekulasi yang dahsyat. Hal ini menimbulkan guncangan hebat dalam sektor keuangan global. Pernyataan ini disampaikan resmi oleh seorang gubernur bank sentral AS, Ben Bernanke didepan Senat AS.
Mantan gubernur bank sentral AS yg pernah memimpin sampai enam periode, Alan Greenspan, sempat mengatakan bahwa fundamental ekonomi suatu negaralah yg perlu diubah dan dijadikan kuat ketimbang mengeluh dan mempersalahkan spekulan. Bahkan Greenspan pernah mengatakan: "spekulan diperlukan utk mengoreksi nilai mata uang yg tidak sesuai dengan fundamental ekonomi." Namun fakta berbicara lain dalam prakteknya. Apakah masih kurang bukti bahwa negara2 kaya dengan fundamental kuat tiba2 harus menghadapi kenyataan bahwa negara merekpun terkena daya rusak krisis keuangan ini, sehingga perlu menyiapkan dana talangan bermilyar dollar??? Harian Kompas tanggal 5 Maret 2009 mengutip pernyataan pimpinan HSBC, Stephen Green, yang mengakui bahwa kesalahan dan kerakusan korporasi keuangan global merupakan penyebab krisis. Beliau menambahkan: "DIPERLUKAN SEBUAH ETIKA YANG HARUS DIJALANKAN SECARA KETAT OLEH PELAKU DISISTEM PERBANKAN." Saat ini bukan saja AIG namun sebagian bank global juga masih terus aktif berspekulasi dengan harapan bisa meraih untung walau dengan resiko akan menelan korban baru.
Disinilah kita dapat melihat secara jelas terjadinya kegagalan kapitalisme dalam tata keuangan dunia dimana yang besar melakukan kesalahan namun mereka harus dibantu dengan uang hasil jerih payah dari rakyat pembayar pajak, dan hanya menyisakan sedikit dana untuk rakyat terbanyak. Untuk menyelamatkan korporasi yang listing di Wall Street dari kebangkrutannya ditalangi dengan dana sebesar 700 milyar dolar dan menyiapkan stimulus 787 milyar dolar, suatu angka yang fantastik. Sedangkan untuk bantuan kepada negara-negara miskin, dunia melalui IMF hanya menyiapkan dana sebesar 25 milyar dolar, itupun bantuan yang penuh dengan kondisionalitas. SUNGGUH IRONIS!!! Seharusnya ada penataan yang lebih baik dalam tata keuangan dunia ini, tidak melulu mengikuti PYRAMID OF CAPITALIST SYSTEM dimana sang raja penguasa hidup dari memangsa orang2 yang tidak beruntung yang berada dilapisan piramida dibawahnya (gambar ilustrasi).
Makanya menjadi relevan jika banyak negara, terutama negara2 dunia ketiga mempertanyakan keadilan dalam tata keuangan dunia saat ini yaitu antara konsep bailout/stimulus vs debt relief/pengampunan utang. Dulu seusai perang dunia kedua, Robert Mac Namara, presiden Bank Dunia pertama, bahkan meminta setiap negara kaya untuk menyumbang kepada negara2 miskin sebesar 5% dari GDP mereka. Mungkinkah saatnya negara2 miskin saat ini meminta debt relief atau debt forgiveness. IMF spontan menjawab menanggapi permasalahan ini dengan mengatakan bahwa dalam surveillance mereka sudah ada 71 negara "low income" yang berpotensi bermasalah akibat krisis global. Namun IMF berpendapat bahwa itu tidak utk debt relief atau debt forgiveness, namun cukup dengan pinjaman bersuku bunga sangat rendah.
Konsep IMF ini justru membuat negara2 miskin seperti Conggo berpaling dan meminta bantuan China membangun infrastruktur mereka ketimbang meminjam dari IMF yang terlalu banyak persyaratannya. Demikian juga negara Iceland yang bangkrut belakangan ini, lebih cenderung meminta bantuan Rusia dari pada IMF. Indonesia pun pernah mengalami uluran tangan IMF namun dengan konsekwensi kita harus mengadopsi seluruh konsep dan agenda IMF dalam hal: debirokratisasi, non subsidi, open market-globalisasi, free trade, pasar bebas, HAM dll, yang menurut pengamatan kami adalah agenda2 terselubung semata. Menurut AS, sudah menjadi kesepakatan internasional bahwa setiap negara yang bermasalah dengan neraca pembayarannya harus meminta IMF utk masuk dan menolong, bukan lembaga lain. Sehingga kita pernah ingat, pada saat terjadi krisis Asia tahun 1997 lalu, Mahathir Mohammad pernah mengusulkan dibentuknya AMF (Asian Monetary Fund) karna Asia hanya butuh 100 milyar dolar utk mengatasi krisisnya, dana tersebut bisa didapat dari China dan Jepang. Namun konsep ini ditolak dengan keras oleh Amerika dan sekutunya karena dianggap moral hazard.
Apabila negara2 miskin tidak ditolong maka akan terjadi kelaparan, pengangguran, tragedi kemanusiaan, malapetaka dan kesengsaraan, penyakit dan meningkatnya kriminalitas dalam masyarakat.
Akhirnya Presiden AS, Barack Obama dan Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, kini mulai sadar dan bersepakat membereskan tindak tanduk liar sektor keuangan, termasuk perusahaan asuransi, perbankan dan lembaga keuangan lainnya karena sejatinya dari lembaga2 inilah lahirnya perilaku spekulasi yg tanpa kendali sehingga menyebabkan terjadinya krisis dunia saat ini.
Mudah2an dengan membaca note singkat saya ini, teman2 semua dapat menarik hikmah dari krisis keuangan dunia saat ini yang telah menarik dunia kedalam krisis ekonomi yang terus menghantam secara berantai laksana domino saat ditarik satu dadunya. Krisis belum lagi berakhir, bahkan cenderung memakan korban baru. Namun setidaknya kita telah dapat mengidentifikasi penyebabnya sehingga masih dapat memperbaiki tatanan keuangan dunia dan aturannya yang lebih baik lagi kedepan.
Rasanya menceritakan krisis keuangan tanpa menyinggung SUBPRIME MORTGAGE akan tidak lengkap, karna melalui instrumen inilah para spekulan membangun MODUS OPERANDINYA. Keterbatasan halamanlah yang membuat saya akan sajikan tulisan tentang Subprime Mortgage ini dalam notes berikut. Jika ada kekurangan dalam penyajian tulisan ini mohon teman2 dapat memberi masukan melalui kolom comment yang tersedia. Salam sukses selalu

BERITA BAIK! BERITA BAIK!
BalasHapusUntuk memperkenalkan diri dengan betul,
Ibu saya SUSAN [SYARIKAT PINJAMAN SUSAN BOWMAN]
Saya seorang pemberi pinjaman swasta, syarikat saya menyediakan pinjaman semua jenis dengan kadar faedah 2% sahaja. Ia adalah peluang kewangan di langkah pintu anda, memohon hari ini dan mendapatkan pinjaman cepat anda.
Terdapat ramai di luar mencari peluang atau bantuan kewangan di seluruh tempat dan masih, tetapi mereka tidak dapat mendapatkannya. Tetapi ini adalah peluang kewangan di langkah pintu anda dan dengan itu anda tidak mampu untuk melepaskan peluang ini.
Perkhidmatan ini menjadikan kedua-dua individu, syarikat, lelaki dan wanita perniagaan.
Jumlah pinjaman tersedia antara jumlah pilihan anda untuk maklumat lanjut hubungi kami melalui e-mel:
Susanbowmanloancompany@gmail.com