PERUBAHAN FITRAH MANUSIA SEBUAH RAS NON MANUSIAWI
Monday, May 17, 2010 at 11:03pm
( By : Nurul Candrasari Maykuri)
Kesementaraan dunia dan keabadian akhirat, merasakan dengan sangat bahwa hidup hanyalah kedipan mata, fatamorgana. Apa yang berada pada sisi manusia adalah fana, sedangkan yang disisi Allah Swt adalah baqa.
Banyak orang yang gagal dalam memerankan kecerdasan ganda (multiple intelligence) karena mereka mengganngap kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual tidak sejalan dengan qalbu (hati). Hal ini bisa dilihat dari banyaknya muncul krisis moral, buta hati, tidak toleran terhadap sesama, mengutamakan kepentingan pribadi dari pada mendahulukan kepentingan orang banyak
Memiliki pendidikan tinggi dan gelar-gelar di depan dan dibelakang nama mereka serta hanya mengandalkan logika, namun mengabaikan suara hati yang sebenarnya mampu memberikan informasi-informasi maha penting untuk mencapai keberhasilan, akhirnya terbukti suara hati itu yang benar.
Mengutip pendapat Shandel yang juga dikutip oleh Ali Syariati dalam bukunya ”Haji” mengatakan bahwa bahaya yang paling besar dihadapi umat manusia pada zaman sekarang bukanlah ledakan bom atom, tapi perubahan fitrah. Unsur kemanusiaan di dalam dirinya sedang mengalami kehancuran sedemikian cepat, sehingga yang tercipta sekarang ini adalah sebuah ras yang non manusiawi.
Inilah mesin berbentuk manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan dan kehendak alam yang fitrah. Ia telah dijual dan dia sendirilah yang harus membayar harganya, itulah gambaran orang-orang yang buta hati atau buta nurani.
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa potensi qalbu akan bisa dikembangkan melalui fitrah keberagamaan pada diri manusia, karena pengaruh jiwa akan melahirkan nilai-nilai positif terhadap bentuk perilaku dan sikap yang ditampilkan oleh masing-asing individual. Kecerdasan Ruhaniah Potensi ruhaniah merupakan kekuatan supranatural (luar biasa) yang terjadi pada diri manusia, menggali potensi di luar kebiasaan alam, orang beriman sulit untuk menolak peristiwa yang diberikan oleh agamanya walaupun tidak sejalan dengan hukum alam, bagaimana Isa As bisa lahir tanpa ayah, banyak yang tidak mengerti Maryam sang ibu sucipun bingung sehingga Allah Awt melarangnya berbicara dan menegaskan bayinya untuk memberikan penjelasan.
Dalam pengembangan kecerdasan ruhaniah ada beberapa konsep yang ditawarkan oleh Toto Tasmara dalam mencapai kedamaian qalbu sebagai upaya melatih jiwa seseorang untuk mengasah nyali kecerdasan ruhaniah.
1. Rasa cinta (mahabbah) serta pemahaman yang sangat kukuh terhadap ruh tauhid (menjadikan Allah Swt satu-satu ilahi, tumpuan dan tujuan tempat seluruh tindakan diarahkan kepadanya, memandang Allah Swt sebagai arah yang dituju.
2. Kehadiran Allah Swt memberikan kesadaran dan keyakinan yang membekas di hati bahwa Allah Swt hadir dan menyaksikan seluruh perbuatan bahkan bisikan qalbu kita, sehingga nurani kita senantiasa membisikan, ada kamera Ilahi yang terus merekam.
3. Kesementaraan dunia dan keabadian akhirat, merasakan dengan sangat bahwa hidup hanyalah kedipan mata, fatamorgana. Apa yang berada pada sisi manusia adalah fana, sedangkan yang disisi Allah Swt adalah baqa.
4. Ingin menjadi teladan, merasakan dan menghayati nilai-nilai akhlakul karimah dengan membaca dan mengerti riwayat hidup Rasulullah, para sahabat, dan para ‘arifin yang hidupnya bersih dan mengabdi pada nilai-nilai kebenaran ilahiyah. Melakukan perjalanan ruhani dn membaca berbagai hikmah sebagai nasehat hati.
5. Sederhana itu indah menguji diri dengan cara mempraktekkan kehidupan yang zuhud, agar cahaya ilahiyyah tidak tenggelam dan diambil alih oleh nyala api hawa nafsu syahwat.
Rasa ingin tahu (curiosity) mempelajari, merenungkan dan meneliti dengan rasa penuh ingin tahu yang sangat mendalam terhadap kandungan Al-quran, kemudian menjadikannya sebagai petunjuk yang memotivasi dirinya untuk bertindak.
Jadi dapat dipahami bahwa kecerdasan ruhaniah merupakan puncak dari gabungan kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual, disinilah peranan potensi ilahiyyah dalam mengembalikan manusia kepada fitrahnya. Potensi ilahiyyah bisa berkembang dengan baik jika kecerdasan ruhaniah itu berjalan secara optimal.
Sebagai catatan tambahan :
TENTANG ALAM PIKIRAN :
Descartes seorang filsuf mengkonsepkan bahwa ada dualisme antara pikiran dan tubuh yang saling bersinergi. Descartes menganggap adanya suatu kekuatan ghaib seperti hantu yang berada di tubuh kita yang mengendalikan diri kita. Hantu tersebut bisa dianggap sebagai ruh, hasil produksi Tuhan yang ghaib dan mistis. Hantu atau ruh tersebut tidak bisa disentuh, tapi dianggap keberadaanya telah mengendalikan seluruh hidup kita.
Namun hal ini diruntuhkan oleh filsafat materialisme, pikiran merupakan produk dari suatu materi otak. Tidaklah mungkin ada pikiran tanpa otak. Otaklah yang mengatur pikiran. Mari kita buktikan dari kenyataan obyektive dunia psikiatri, didalam dunia psikiatri, obat penenang bisa menenangkan pikiran dan ini berlaku secara obyektive dan akurat. Disini nampak jelas zat atau materi yang mengendalikan pikiran.
Namun ada kalanya pikiran bisa tenang sendiri, bisa menciptakan emosi sendiri. Dalam kajian neuroscience masih diperdebatkan bahwasanya perubahan pikiran juga mengakibatkan perubahan materi zat otak, demikian juga materi zat otak bisa mengakibatkan perubahan pikiran.
Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana pikiran bekerja dan mampu memproduksi zat-zat otak seperti dopamine, serotonin, perasaan senang atau cinta? Bagaimana pikiran mampu mengendalikan tubuh kita?
Apakah benar ada hantu roh mistis yang masuk dalam tubuh kita dan mengendalikan kita sehingga kita bisa merasa senang sedih dan perasaan emosi?
Dalam filsafat materialisme, pada dasarnya pikiran adalah refleksi kebendaan dari luar, yang di luar disebut matter dan yang didalam disebut idea, pikiran atau idea itu tidaklah mungkin jatuh dari langit secara mistis, tapi merupakan refleksi dari materi-materi yang sudah ada di memory kita yang telah kita susun sejak kecil. Seorang bayi, akan merefleksikan semua kejadian yang dilihat dan yang bisa diinderanya dan disimpannya ke dalam memory otak. Setelah data-data ini begitu banyak maka pikiran akan bisa bekerja secara dialektik atau otomatis. Pemahaman sintesis bisa didapatkan dari suatu thesis dan antithesisnya.
Hal ini sebenarnya bukanlah hal yang aneh, ghaib dan mistis.
Di dalam teknologi accelerator internet server, server internet dengan basis data yang telah didapatkannya mampu menebak apa yang akan diakses oleh penggunanya dan saat ini mampu mencapai rasio kebenaran menebak hingga 30% hingga 50%. Bagaimana sebuah mesin server Internet mampu menebak atau berpikir tentang apa yang akan diakses oleh penggunanya?
Hal ini tentunya didahului dengan pengumpulan data terlebih dahulu, data-data yang pernah diakses oleh pengguna dianalisis dan internet accelerator server mampu membuat kesimpulan sehingga internet accelerator server berbasis data-data yang telah dipelajarinya pada akhirnya mampu berpikir dan menebak apa yang akan diakses oleh pengguna. Semakin banyak data yang diperolehnya maka ketepatan menebak/berpikirnya juga akan semakin tinggi.
Hal ini tidaklah beda dengan cara berpikir manusia. Manusia dari kecil mengamati kejadian-kejadian, membaca pengetahuan, belajar merasakan senang,sedih, cinta, direkam didalam otaknya lalu mensinkronkan kejadian dan pengetahuan dan terciptalah pemahaman. Kejadian-kejadian yang membuat kita senang, sedih, cinta itu bermula dari refleksi kejadian di luar diri kita terlebih dahulu.
Semakin banyak pengetahuan dan kejadian yang dialaminya tentunya membuat cara berpikirnya juga semakin akurat. Namun hal itu tergantung juga data-data pengetahuan yang dibacanya. Pengetahuan atau kejadian-kejadian yang kita alami dalam filsafat materialisme boleh kita katakan sebagai materi, karena kejadian dan pengetahuan merupakan refleksi kebendaan/materi.
Jadi pikiran tidaklah secara mistis muncul begitu saja atau jatuh dari langit, pikiran bukanlah suatu ilham yang berasal dari entitas ghaib, tapi pikiran merupakan refleksi-refleksi materi yang berubah dari kuantitatif menjadi kualitatif dan mampu bergerak secara dialektik (hukum perubahan kuantitas menjadi kualitas).
DAFTAR PUSTAKA :
al-Ghazali, Muhammad (2001) Menjadi Muslim Ideal Meletakkan Islam sebagai Petunjuk dan Penenang Kehidupan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Afrinaldi (2006) Pengaruh Kecerdasan EmosiTerhadap Kepuasan Kerja dan Prestasi Kerja di Kalangan Dosen IAIN Imam Bonjol Padang Sumatera Barat. Malaysia: Tesis Master Programe Psychology Faculty of Social Science and Humanities Universiti Kebangsaan Malaysia.Agustian,
Tasmara, Toto (2001) Kecerdasan Ruhaniah. Jakarta: Gema Insani
Ary Ginanjar (2001) Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Jakarta:
Arga.Bowell, Richard A. (2004) The 7 steps of Spiritual Quotient, diterjemahkan oleh: Archangela Yenny Satriawan, Jakarta: PT Bhuana Ilmu Populer.Bustaman,
Hanna Djumhanna (1995) Integrasi Psikologi dengan Islam. Jakarta: Pustaka Pelajar.
Departemen Agama RI (1989) Al-Quran dan Terjemahannya. Semarang: CV. Toha Putra.
Goleman. D (1999) Kecerdasan Emosional. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Goleman. D (1999) Working with Emotional Intelligence. New York: Bantam Books
Goleman. D (2001) Emotional Intelligence:Iissues in Paradiggm Building. Dalam Cherniss, C. & Goleman, D. (pnyt),
The Emotionally Intelligent Workplace, San Francisco: Jossey-Bass Gymnastiar,
Abdullah, Isa, Basyar (2001) Bening Hati. Bandung: MQS Pustaka Grafika.
Lane, R.D (2000) Levels of Emotional Awareness: Neurological, Psychological and Social Perspectives. Dalam. Bar-On, R, & Parker, J.D.A. (pnyt).
The handbook of emotional intelligence: theory, development, assessment and application at home, school, and in the workplace, San Frascisco: Jossey-Bass.
Mayer,J.D. dan Salovey,P. (1995) ”What is Emotional Intelligence?” New York: Basic Books.Mayes,J.D. & Cobb,C.D (2000) Educational Policy on Emotional Intelligence : Does It make sense?”Educational Psycholgy
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




Tidak ada komentar:
Posting Komentar