Tan Malaka dan Partai Komunis

 (Tan Malaka adalah seorang Marxis dalam pemikiran, tapi Nasionalis dalam tindakannya)

by Nurul Candrasari Masykuri on Thursday, September 30, 2010 at 8:55am

Elite Partai Komunis Indonesia (PKI) M. H. Lukman pernah menulis "Tan Malaka adalah pengkhianat Marxisme-Leninisme".
Tulisan itu dituangkan dalam surat kabar terbitan PKI Bintang Merah pada 15 November 1950.

Anggapan dari salah satu elite PKI pada saat itu jelas membingungkan. Dalam sejarah justru Tan Malaka menjadi korban politik stigmatisasi rezim Orde Baru yang mengatakan Tan Malaka adalah seorang Komunis dalam konotasi Komunis selalu disamakan dengan :
manusia yang ATHEIS.

Tan Malaka pada tahun 1919 memang pernah menyatakan dirinya sebagai seorang Marxis, dan bahkan Tan pernah menjadi ketua PKI dan ketua Komunis Internasional (Komintern) untuk kawasan Asia Tenggara. Tapi pada perkembangan selanjutnya, Tan Malaka justru menjadi musuh utama PKI pada saat itu dan keluar dari Komintern karena perbedaan pandangan ideologis.

Tan Malaka sebenarnya memiliki ciri khas tersendiri dalam menuangkan ide-ide nasionalisme, yang justru membedakan dengan tokoh-tokoh lain pada masa itu. Dalam pemikirannya terdapat konvergensi antara Marxisme yang sebenarnya bersifat internasionalis dan mengedepankan solidaritas kaum buruh sedunia, tanpa dibatasi rasa kebangsaan,
dengan nasionalisme yang memiliki ciri khas pada Nation State.

Tan Malaka bukanlah seorang dogmatis tulen sebagaimana para Stalinis, Tan berpikir menurut dialektika. Ketika Stalin mendakwa kesatuan Islam (Pan-Islamisme) dan Khalifah sebagai bentuk kolonialisme, Tan membantah anggapan Stalin tersebut. Bagi Tan, kesatuan Islam tidaklah harus berada di Asia Barat saja, Pan-Islamisme harus dibangun disetiap negeri Muslim. Islam, kata Tan, bahkan telah mengajarkan sosialisme dan anti penjajahan 12 abad sebelum Karl Marx lahir kedunia. Karena itulah menurut Tan, gerakan Islam dimanapun harus membebaskan rakyat terjajah dimanapun.

Komintern dan Soviet pun semakin gerah dengan sikap Tan yang sangat lunak terhadap gerakan Islam,
akhirnya Tan pun dipecat dari jabatan ketua Komintern Asia Tenggara.

Ada hal yang menarik saat Tan Malaka berdebat dengan Mohammad Hatta di Berlin pada Juli 1922.
Saat itu Hatta dan Tan berdebat tentang gagasan ekonomi kerakyatan atau demokrasi ekonomi.
Dalam perbincangan tersebut Tan mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintahan model diktator yang dijalankan Stalin di Soviet, tiba-tiba Hatta memotong pembicaraan dengan pertanyaan yang sangat tajam :
"bukankah kediktatoran memang inheren dalam faham komunisme?"

Pertanyaan tajam dari Hatta tersebut ditanggapi oleh Tan dengan menjelaskan
teori diktator proletariat ala Karl Marx.

Menurut Tan, diktator proletariat versi Marx hanya berlangsung selama periode transisi, yaitu selama berlangsungnya pemindahan penguasaan alat-alat produksi dari tangan kapitalis ke tangan rakyat. Selanjutnya, kaum pekerja yang sebelumnya tercerahkan di bawah panduan perjuangan kelas, akan mengambil peran sebagai penunjuk jalan dalam membangun keadilan. Hal itu akan dicapai dengan cara menyelenggarakan produksi oleh semua, untuk semua, dibawah pimpinan berbagai institusi dalam masyarakat. Hal tesebut jelas sangat bertolak belakang dengan diktator personal.

Pada tahun 1926 terjadi pemberontakan PKI di beberapa daerah. Jika Tan adalah seorang komunis tulen, tentu Tan akan mendukung pemberontakan itu dalam kapasitasnya sebagai mantan pemimpin partai dan anggota partai. Tan Malaka yang sedang berada di luar negeri menilai pemberontakan itu terlalu dini dikobarkan oleh PKI. Dan pada tahun 1927, tanpa ragu Tan keluar dari PKI untuk kemudian mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI).

Tan Malaka juga dengan gamblangnya menunjukan sikap tidak setuju terhadap pemberontakan PKI selanjutnya di Silungkang (1927)
dan pemberontakan Banten (1926). Pada pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 pun Tan Malak menunjukan sikap tidak setuju.
Tan Malaka tetap tidak menjadi bagian dari Muso dan Alimin.Pada 1948, Tan dan pasukannya lebih memilih perang menghadapi agresi Belanda.

Sikap tersebut menunjukan Tan Malaka sebenarnya lebih rasional dari para elite PKI pada saat itu, dan sejak tahun 1927 bukan bagian dari PKI.

Memang faktanya, Tan yang sejak masa mudanya sudah terpesona oleh Marxisme-Leninisme. Namun diatas segalanya hal yang justru terpenting yang harus diingat adalah, Tan Malaka tidak berjuang untuk kemenangan partai komunis di tanah airnya agar mendapatkan kekuasaan, hal ini tentu tabu bagi para Marxist dan Leninist pada umumnya.

Yang Tan perjuangkan sepanjang hidupnya adalah kemerdekaan seratus persen untuk tanah air yang di cintainya
.
Selanjutnya jika Tan masih dikatakan seorang komunis, tapi kenapa Tan Malaka begitu menekankan aspek persatuan di antara sesama warga bangsa apapun afiliasi politik maupun ideologinya?,
kenapa Tan tidak berjuang untuk perjuangan kelas yang menjadi bagian penting dalam teori Marxis-Leninis?
Dan Tan Malaka adalah seorang MUSLIM sejati seperti yang terekam dalam tulisan-tulisan Harry Poeze bawha ketika ibunda Tan Malaka sakit, Tan sempat berulang-ulang melantunkan bacaan-bacaan dalam Al-Qur'an.

Dalam dunia gagasan, Tan Malaka dikenal sebagai pemikir yang fasih berbicara sosialisme, Marxisme, sejarah, politik, hingga ekonomi. Tapi paradoksnya adalah : Tan Malaka adalah seorang Marxis dalam pemikiran, tapi nasionalis yang tuntas dalam semua tindakannya.

Dalam aspek spiritual keagamaan dan keTuhanan, seperti yang pernah Tan ungkapkan,"mungkin aku adalah seorang radikal didepan mereka, tapi di depan Tuhan, aku hanyalah hambanya yang tidak berdaya"
.
Menyelami pemikiran dan merasakan petualangan perjuangannya,
Tan Malaka adalah seorang nasionalis sejati (ultra nasionalis) daripada seorang komunis.

Dan dalam karya nya yg Terkenal : MADILOG
di antara sekian banyak buku Tan Malaka, Madilog pantas mendapat perhatian khusus. Dalam Madilog ia memaparkan cita-citanya bagi Indonesia. Meskipun isi Madilog sebagian besar mengikuti materialisme dialektik Friedrich Engels (sahabat karib Karl Marx yang memperlengkap filsafat sosial Marx dengan filsafat alam dan ontologi materialis yang kemudian akan menjadi dasar filosofis Marxisme-Leninisme), Madilog bukan semacam “ajaran partai” atau “ideologi proletariat”, melainkan cita-cita dan keyakinan Tan Malaka sendiri. Malahan sangat mencolok bahwa Madilog bebas sama sekali dari nada tidak sedap buku-buku Marxisme-Leninisme yang senantiasa menuntut ketaatan mutlak pembaca terhadap Partai Komunis, alias pimpinannya. Madilog bebas dari segala bau ideologis, bebas dari jargon ortodoksi partai yang tahu segala-galanya.
Madilog adalah imbauan seorang nasionalis sejati pada bangsanya untuk ke luar dari keterbelakangan dan ketertinggalan.

Tan Malaka melihat bangsa Indonesia terbelenggu dalam keterbelakangan oleh “logika mistika”. “Logika mistika” adalah logika gaib, di mana orang percaya bahwa apa yang terjadi di dunia adalah kerjaan kekuatan-kekuatan keramat di alam gaib. Logika gaib melumpuhkan orang karena, daripada menangani sendiri tantangan yang dihadapinya, ia mengharapkannya dari kekuatan-kekuatan gaib itu. Daripada berbuat dan berusaha, ia mengadakan mantra, sesajen dan doa-doa.

Selama bangsa Indonesia masih terkungkung oleh logika gaib itu, tak mungkin ia menjadi bangsa yang merdeka dan maju. Jalan ke luar dari logika gaib adalah “madilog”, materialisme, dialektik dan logika. Mirip dengan August Comte, sang bapak positivisme seratus tahun sebelumnya, Tan Malaka melihat kemajuan umat manusia melalui tiga tahap:
Dari “logika mistika” lewat “filsafat” ke “ilmu pengetahuan” atau “sains”.

Dan ada al penting yang perlu diingat diantaranya :

Pada tahun 1919 ketika TAN MALAKA kembali ke Indonesia bekerja sebagai guru di Deli. Ketimpangan sosial di lingkungan perkebunan antara buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda. Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921,
Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai. Pemuda cerdas ini banyak berdiskusi dengan Semaoen mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda, juga merencanakan suatu pengorganisasian bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem kader, gerakan-gerakan aksi, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang hingga mengambil tindakan tegas.

Pemikiran-pemikiran beliau menjadi inspirasi dan motivasi bagi para pejuang kemerdekaan dahulunya. Pada masa awal kemerdekaan,
Bung Karno pernah menunjuk tokoh ini sebagai penggantinya–pengemban amanat pemimpin bangsa untuk meneruskan perjuangan
apabila beliau tertangkap atau tidak bisa melanjutkan perjuangan.

Di masa revolusi nasional, Tan Malaka adalah sosok yang disegani. Soekarno menganggapnya sebagai guru revolusi. Hatta menyebutnya sebagai sosok yang tak mudah membungkukkan tulang punggungnya. Sebagian orang malah menyebutnya sebagai filosof Indonesia yang paling awal.

Banyak hal yang tidak terjelaskan dalam sejarah bangsa ini. Dalam buku-buku sejarah dinyatakan atau dituduh bahwa beliau adalah tokoh komunis ala Orde Baru , dan yang namanya komunis maka akan ditenggelamkan dalam sejarah bangsa ini. Padahal juga diketahui, bahwa beliau adalah orang yang dimusuhi oleh tokoh-tokoh komunis masa lalu. Beliau melarikan diri kemana-kemana negeri, salah satu sebab juga diburu oleh orang-orang komunis.

Tan Malaka, anak Minangkabau yang terlahir 2 Juni 1897 di desa Pandan Gadang –Sumatra Barat. Ia termasuk salah seorang tokoh bangsa yang sangat luar biasa, bahkan dapat dikatakan sejaja...r dengan tokoh-tokoh nasional yang membawa bangsa Indonesia sampai saat kemerdekaan seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Moh.Yamin dan lain-lain.

Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini telah banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang orisinil, berbobot dan brilian hingga berperan besar dalam sejarah perjaungan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia mendapat julukan tokoh revolusioner yang legendaris.

Beliaulah yang pertama kali mencetuskan kata “Republik Indonesia” dan mengucapkan kata “Indonesia Merdeka 100%”, tanpa konpromi sama sekali dengan penjajah.

Tokoh ini begitu berbahayanya kah hingga banyak sekali negara-negara yang mencekalnya dan mengejar-ngejar untuk ditahan bahkan dibunuh jika sulit menangkap?

Sejumlah tokoh besar seperti: Lenin, Stalin, Trotsky, Chiang Kai Sek, sampai Mao Tsu Teng menganggap tokoh ini adalah orang paling berbahaya dan terlarang! Tan Malaka dilarang memasuki Prancis, Sovyet, Baltik, Balkan, Britania, China Daratan apalagi Belanda. Tokoh ini adalah guru imajiner buat Ho Chi Minh (bapak bangsa Vietnam), Aung San (ayah dari Aung San Syu Ki) dan Joseph B. Tito (bapak bangsa Yugoslavia, yang sudah sejarah) dll.

Banyak sejarah yang mesti diungkap kebenarannya. Tulisan ini cuma sebagai pengantar kritis kita terhadap para pejuang dan pahlawan kita. Sudah saatnya kita tempatkan pejuang dalam deretan pahlawan dan para pengkhianat dalam daftar para pecundang.

KISAH TRAGIS KEMATIAN SANG REVOLUSIONER "TAN MALAKA"

 (rangkaian ini aku tuliskan melengkapi tulisan sebelumnya ttg TAN MALAKA)

by Nurul Candrasari Masykuri on Wednesday, September 29, 2010 at 6:22pm

Dear all of my sweet smart brother & sister :
Sekali lagi sedikit share dengan mencoba menambahkan apa penyebab mengapa TAN MALAKA DIBUNUH  namun sebelunmnya sebagai ilustrasi  dan ini adalah sebuah catatan lanjutan ku dari beberapa catatanku tentang TAN MALAKA, ada baiknya andai yang belum membaca tulisaku yang sebelumnya anadai membutuhkannya aku akan dapat dengan senang hati untuk berbagi catatanku, sebelumnyaterimakasih dan ini masih akan berlanjut ke seri  catatanku tentang  :
“TAN MALA SANG REVOLUSIONER” :

Baiklah aku akan memulai dari sini saja :
keprihatinan mendalam Tan Malaka atas keadaan bangsanya yang belum berpikir rasional. Seluruh Madilog merupakan imbauan agar bangsa Indonesia mau ke luar dari cara berpikir tidak rasional supaya ia dapat mengambil tempatnya di antarabangsa-bangsa besar. Sampai Tan Malaka dalam Madilog dengan panjang lebar menguraikan metode-metode pendekatan ilmiah dan dalil-dalil logika seakan-akan ia mau sekaligus menulis buku teks “pengantar logika” atau “ilmu alamiah dasar”
Tan Malaka adalah orang pertama yang mencampurkan teori Marxisme dengan ilmu pasti dan ilmu alam, selain Tan Malaka, sosok yang penuh misteri..

konon, beberapa hari  setelah merdeka, Bung Karno pernah minta ke Sukarni supaya bertemu
Tan Malaka. Kedua tokoh Indonesia itu pun berdialog sampai pagi tentang negerinya...

Bung Karno kagum sekali akan ketajaman analisa Tan Malaka.
Katanya, Tan Malaka-lah yang menyarankan Bung Karno untuk memindahkan ibukota Indonesia ke daerah pedalaman,
karena nanti pasti eksistensi Indonesia terancam.

Tan Malaka sendiri mengakui bahwa berpikir dari apa yang riil mesti didukung dengan pemikiran yang dialektis.
Menurut Tan Malaka, berpikir secara dialektis berarti berpikir dalam proses“tesis-antitesis-sintetis” yang dinamis.
Karena itu, ia percaya bahwa dilektika berkembang dengan hukumnya sendiri yaitu
“...negasi atas negasi” atau pembatalan atas pembatalan, yang bergerak dari perubahan kuantitas menuju perubahan kualitas. Karena itu, yang khas bagi dialektika materialis adalah bahwa dialektika dianggap tidak pertama-tama terdapat dalam pikiran manusia, melainkan merupakan hukum gerak dan perkembangan dari materi sendiri.

Berdasarkan penjelasan ini, maka menjadi masuk akal jika Tan Malaka memandang dialektika sebagai sesuatu yang penting.

Sebab menurutnya, berpikir secara dialektis merupakan hukum berpikir sebenarnya, tentang benda sebenarnya. Lawan dari berpikir dialektis adalah berpikir non-dialektis. Menurut Tan Malaka, pemikiran non-dialektis adalah penipuan diri, kelambanan, mental budak, dan penjajahan dunia Timur oleh kekuatan-kekuatan kolonial Barat.

Dengan demikian, bagi Tan Malaka, motor penggerak perubahan sejarah adalah berpikir secara rasional murni.

Dan, dengan mengutip ungkapan Hegel  :
ia mengatakan bahwa kemajuan masyarakat kita ini berasal dari kemajuan pikiran semata.
Artinya, kemajuan pikiran manusia akan melahirkan ide-ide konstruktif dan alternatif dalam mengubah situasi yang tidak sesuai dengan keinginan individu ataupun masyarakat pada umumnya

Selama lebih dari 100 halaman Tan Malaka menunjukkan betapa lebih mampu Madilog daripada logika gaib dalam menjelaskan segala kenyataan penting yang kita hadapi: perkembangan alam raya, evolusi organisme, sejarah manusia. Orisinalitas Tan Malaka kelihatan dengan penerapan kreatif Madilog yang sebenarnya ajaran Marxisme-Leninisme dalam segala macam bidang
selanjutnya mengenai MISTERI KEMATIAN TAN MALAKA SANG REVOLUSIONER Pertama dapat kita membaca testimoninya Poeze yang mengatakan, Bahwa :

...TAN MALAKA sang penulis Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika, kitab yang menghubungkan cara berpikir ilmu pengetahuan dengan kebudayaan Indonesia dan gerakan revolusi, itu ditangkap dan ditembak mati di Selopanggung pada 21 Februari 1949.

“Dia ditembak atas perintah Letnan Dua Soekotjo dari Batalyon Sikatan bagian Divisi Brawijaya,” ucap Poeze. “Soekotjo terakhir berpangkat brigadir jenderal dan pernah menjadi Wali Kota Surabaya.”

Temuan Poeze ini menggugurkan cerita bertahun-tahun yang menyebutkan Tan Malaka mati ditembak di tepi sungai Brantas di wilayah Kediri.

Tesis ini juga merevisi dugaan bahwa pasukan Partai Komunis Indonesia berada di belakang pembunuhan itu. Sayuti Melik, pengetik teks proklamasi, misalnya, dalam buku Sukarni dalam Kenangan Teman-temannya, menyebutkan bahwa pasukan Pesindo (PKI) membunuh Tan Malaka lantaran tak menginginkan Tan Malaka yang telah mendapat testamen dari Bung Karno menjadi presiden.

Soekarno pada awal September 1945 memang mengeluarkan testamen yang menyebutkan “Bila saya dan Hatta terhalang memimpin revolusi, saudara Tan Malaka melanjutkan memimpin revolusi.”

Cerita kematian Tan Malaka itu mengisi salah satu bagian dari buku setebal 2.200 halaman dalam buku berbahasa Belanda yang berjudul "Vurguisden Vergeten, Tan Malaka, De linkse Beweging en Indonesische Revolution 1945-1949 (Tan Malaka, Dihujat dan Dilupakan, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia 1945-1949)". Terjemahan Indonesia buku tersebut sudah ada.
Dan berikut ni saya coba kutip wawancara Poeze kepada Tempo dan Tidak tanggung-tanggung edisi Tan Malaka ini terdiri dari 26 artikel yang ditulis oleh wartawan Tempo dan 8 kolom/opini yang ditulis oleh pengamat/pakar dari Asvi Warman Adam h.ingga Ignas Kleden,

Berikut ini hasil wawancara yang saya copas dari TEMPO :

Poeze yang telah 36 tahun meneliti Tan Malaka itu bercerita tentang periode akhir hidup tokoh yang disebut Muhammad Yamin sebagai “Bapak Republik Indonesia” ini. Berikut petikan wawancaranya: Bagaimana Anda sampai pada kesimpulan bahwa Tan Malaka dibunuh di Selopanggung dan bukannya di tepi kali Brantas? Saya memeriksa satu persatu berbagai versi kematian Tan Malaka. Seluruhnya ada delapan versi.

Ada yang menyebut bahwa Tan Malaka mati di tepi sungai Brantas. Ini versi yang terbanyak disebut. Ada pula versi yang ditulis seseorang pada 1980-an yang mengaku sebagai penembak Tan Malaka. Saya ketemu dia dan saya tanya seperti apa Tan Malaka yang dia tembak mati. Saya tahu persis dia salah. Nah, kemudian ada keterangan dari seorang tentara yang menyebut bahwa salah seorang hakim mahkamah militer luar biasa adalah pelaku penembakan itu. Dia tak menyebutkan namanya, karena dia takut. Maklum saat itu zaman Orde Baru. Saya cari seluruh daftar nama hakim dan satu per satu saya telusuri riwayat mereka. Saya tahu Tan Malaka pernah membangun markas gerilya di Kediri. Saya cari siapa hakim yang pernah bertugas di wilayah Kediri. Ketemu. Orang itu bernama Hendrotomo. Tapi saat itu saya belum sempat wawancara dia. Hendrotomo keburu meninggal. Sesudah meninggal, tentara yang ketakutan itu baru mengaku terus terang bahwa orang yang dia maksud adalah Hendrotomo. Ini benar-benar sejarah yang rumit, dan saya menelitinya persis seperti pekerjaan detektif.

Lalu bagaimana Anda menguji kebenaran informasi itu?

anggota Batalyon Sikatan pimpinan Soerahmat. Saya segera menghubungi Soerahmat yang pada 1980-an itu masih hidup. Tapi Soerahmat tak banyak menjawab. Ia cuma menyebut lupa. Daerah-daerah yang dikuasai batalyon ini di Kediri saya datangi. Saya keluar masuk desa, tanya ke lurah-lurah dan orang-orang tua yang mengenal seluk beluk batalyon ini. Sampai di sini belum ketemu Dusun Selopanggung dan nama Letda Soekotjo. Lalu dari beberapa orang partai Murba (partai yang didirikan Tan Malaka), saya mendapat beberapa nama orang yang menjadi pengawal Tan Malaka saat lari dari markasnya di Desa Belimbing karena serbuan TNI dari divisi Brawijaya, dan pada saat yang sama Belanda masuk ke Kediri pada agresi II. Pengawal Tan Malaka yang saya wawancarai itu bernama Jakfar dan Soekatma. Mereka ikut mengawal Tan Malaka hingga dekat Selopanggung, sebelum akhirnya melarikan diri dan meninggalkan Tan Malaka sendirian. Kaki Tan Malaka saat itu terluka sehingga tak bisa lari. Berikutnya, dari seorang bekas tentara teritorial yang tahu persis daerahnya menyebut bahwa Tan Malaka ditahan Soekotjo dan ditembak mati di Selopanggung. TNI waktu itu punya dua bagian: fungsional dan teritorial. TNI fungsional diberi tunjangan yang baik. Tentara teritorial yang berpangkat sangat rendah tak bersimpati pada TNI fungsional karena mereka tak diberi amunisi.

Sumber saya ini tampaknya tak menyukai kiprah Soekotjo. Ia pun dengan mudah menceritakan penangkapan Tan Malaka. Cerita ini mirip dengan semua informasi yang terdapat dari berbagai sumber. Inilah gambar yang benar dari pelbagai versi kejadian
Jadi yang siapa yang menembak: Soekotjo atau Hendrotomo?

Hendrotomo itu atasan Soekotjo. Dialah yang mempertanggungjawabkan tindakan Soekotjo pada atasannya, Soerahmat. Buku biografi Soerahmat yang diterbitkan anaknya, Suyudi Soerahmat, pada... 2000, menuliskan dengan jelas, ada sebuah laporan dari bawahan Soerahmat bernama Hendrotomo. Di situ disebutkan Soerahmat bertanya pada Hendrotomo: bagaimana dengan Tan Malaka? Hendrotomo bilang, “sudah dibereskan dan dikuburkan”. Ada proses? Hendrotomo bilang “ada proses”. Proses yang dimaksud di sini adalah pengadilan militer yang dilakukan oleh Soekotjo. Tentu saja ini pengadilan main-main.

Anda bertemu Soekotjo?

Tidak. Dia sudah meninggal pada 1980-an. Dia pernah menjadi Wali Kota Surabaya dan berpangkat terakhir Brigadir Jenderal. Saya hanya bertemu dengan istri Soekotjo. Saya tanya pada dia, apakah tahu hubungan antara Soekotjo dan Tan Malaka? Dia tidak tahu. Ini bisa dimengerti karena perkawinan keduanya terjadi jauh sesudah penembakan. Soekotjo tidak bercerita pada istrinya. Nah, buku ini mengungkap peran Soekotjo. Saya berharap istri dan keluarga Soekotjo tidak marah ketika saya tulis Soekotjo adalah pembunuh Tan Malaka. Ini kenyataan sejarah.

Soekotjo menembak atas inisiatif sendiri atau atas perintah atasannya?

Menurut saya, itu atas inisiatif sendiri, bukan karena perintah Hendrotomo atau atasannya lagi. Dua orang ini, Soekotjo dan Hendrotomo, adalah orang kanan dan sangat membenci semua orang kiri. Sewaktu pemberontakan Madiun mereka sangat membenci orang kiri. Hendrotomo dan Soekotjo tak bisa membedakan orang kiri dan orang radikal kiri. Soekotjo tahu bahwa orang yang dia tahan adalah Tan Malaka, orang kiri yang berbahaya. Dengan regu yang kecil, pasukan Soekotjo waswas. Kalau tidak ditembak, maka mereka yang akan ditembak bila bertemu dengan orang-orang Tan Malaka. Maka regu Soekotjo ini pun memutuskan sendiri. Hanya saja, pembunuhan itu mungkin tak akan terjadi jika tak ada perintah Soengkono, panglima divisi Brawijaya di Jawa Timur yang mengirimkan radiogram ke daerah-daerah bahwa aktivitas gerakan Tan Malaka berbahaya dan harus dihentikan. Ini kata-kata yang abstrak. Bisa ditafsirkan macam-macam. Perintahnya yang jelas adalah agar markas Tan Malaka di desa Belimbing, Kediri, harus diduduki dan batalyon Sabarudin yang melindungi Tan Malaka dibubarkan. Dalam perintah itu juga disebut mereka harus ditahan dan jika ada perlawanan bisa dipakai hukum militer. Mungkin Soekotjo menafsirkan perintah “hukum militer” sebagai tembak mati.

Saat itu pimpinan TNI tahu persis penangkapan Tan Malaka oleh Soekotjo?

Tidak. Komunikasi sangat terbatas. Hanya ada satu kurir antara kompi satu dengan kompi lain. Tidak ada radio. Makan waktu beberapa hari untuk pergi. Dalam waktu yang terbatas itu, Soekotjo beraksi sendiri, tanpa konfirmasi dari atasannya. Bagaimana ceritanya Tan Malaka ditangkap di Selopanggung, sementara di Belimbing sebetulnya dia sudah terkepung? Pada mulanya, divisi Brawijaya mengepung markas Belimbing. Tapi ketika tengah mengepung itulah datang serangan dari Belanda. Pasukan pengepung dan 50 pengawal Tan Malaka, termasuk anggota batalyon Sabarudin, lari tunggang langgang. Rombongan Tan Malaka terpecah empat. Tan Malaka dikawal enam orang. Mereka bergerak sekitar 60 kilometer ke arah Selatan mencari kesatuan yang bersimpati pada Tan Malaka. Tapi mereka harus melewati satu daerah yang dikuasai oleh pasukan yang membenci orang-orang kiri. Inilah kesatuan batalyon Sikatan. Di Selopanggung mereka bertemu regu Soekotjo. Enam pengawal Tan Malaka lari. Empat ke arah Sungai Brantas, dua lagi ke arah Selatan dan selamat. Tiga dari empat orang yang ke sungai Brantas ditembak mati. Seorang lagi melompat ke kali, berenang, dan selamat. Orang yang selamat inilah yang menjadi sumber saya. Kisah penembakan di tepi sungai Brantas itu kemudian dipercaya sebagai kisah kematian Tan Malaka. Padahal salah.

Mengapa TNI menilai Tan Malaka dan Sabarudin berbahaya?

Tan Malaka ke Belimbing untuk bergerilya. Saya bertemu sekitar 10 orang yang masih ingat kehadiran Tan Malaka di Belimbing. Di desa ini, Tan Malaka banyak menulis pamflet yang ia beri nama Dari Markas Murba Terpendam. Dia bikin pamflet yang mengecam Soekarno-Hatta yang bersedia ditahan begitu saja oleh Belanda dalam agresi II pada Desember 1948. Tan Malaka menilai keduanya mengkhianati republik karena tidak memutuskan bergerilya melawan Belanda. Dalam kondisi RI tanpa presiden dan wakil presiden itulah Tan Malaka menggunakan testamen dari Bung Karno. Dia mengajak rakyat perang gerilya melawan Belanda sebagaimana dilakukan Soedirman. Dari markas itu pula, Tan Malaka mengkritik divisi Brawijaya yang pengecut dan tak peduli pada kepentingan rakyat. Kritik ini tak disukai Soengkono yang kemudian mengeluarkan perintah penangkapan Tan Malaka.

Kenapa Tan Malaka memilih ikut Sabarudin ke Kediri?

Ini juga teka-teki untuk saya. Sesudah ditahan di 15 tempat selama dua tahun sejak Juli 1946, Tan Malaka dibebaskan, tanpa diberi amnesti oleh Soekarno. Saat itu Tan Malaka ditahan karena mengecam politik Soekarno yang tak revolusioner. Tapi ketika dibebaskan, Tan Malaka kemudian dipakai oleh Soekarno untuk menghadang politik PKI. Waktu itu dari Moskow, Muso dikirim untuk mendirikan Republik Indonesia-Sovyet. Tan Malaka dibebaskan untuk mendirikan salah satu alternatif kiri untuk melawan Muso. Lalu terjadi pemberontakan PKI Madiun pada akhir September 1948. Soekarno menumpas Muso. Pada 7 November 1948 pun Tan Malaka mendirikan partai Murba. Dia bukan ketua, tapi duduk di dewan partai. Sesudah terbentuk, kemudian ia memutuskan berkeliling daerah. Kebetulan waktu itu ada undangan dari batalyon Sabarudin untuk pergi ke Jawa Timur. Sabarudin menjamin keamanan Tan Malaka. Dia naik kereta api khusus dengan 50 pengawal dari Yogyakarta ke Kediri. Tan Malaka pergi ke sana antara November-Desember 1948, dan sibuk mendirikan organisasi pertahanan rakyat, dengan fokus kerja sama antara rakyat biasa dan kesatuan militer. Ini adalah perwujudan dari ide Tan Malaka dalam bukunya, Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi). Dalam buku itu disebut perlunya dibentuk pertahanan rakyat. Tapi gagasan itu baru dalam tahap awal, Belanda keburu datang.

Saya juga bertanya kenapa ikut Sabarudin? Padahal Sabarudin dikenal sebagai seorang aneh, gila, dan bahkan psikopat. Dia sebetulnya orang pintar, ikut sekolah Belanda, tapi otaknya terganggu. Dia tentara yang sangat mengagumi Tan Malaka. Tapi perilakunya aneh. Setiap ada tawanan, dia ingin menembak mati. Dia juga disebut senang minum darah musuh. Tindakan Sabarudin yang keterlaluan itu sebetulnya yang menyebabkan Soengkono membubarkan batalyon Sabarudin. Sebagai bagian dari divisi Soengkono, Sabarudin lebih memilih jalan sendiri. Aneh sekali, Tan Malaka yang intelektual dan mengerti betul gerakan revolusi ikut seorang psikopat. Ini kesalahan besar.

Sabarudin mati dalam pengejaran divisi Soengkono?

Tidak. Dia berhasil lolos. Dia sangat marah mendengar kematian Tan Malaka. Kembali menyusun batalyon, dia kemudian menghabisi anggota batalyon yang membantu Soerahmat. Giliran Soerahmat marah besar. Sabarudin ditangkap di Surabaya dan diputuskan diadili di Madiun. Di tengah jalan, atas perintah Soerahmat, dia ditembak mati pada November 1949.

Setelah makam ketemu apa rencana berikutnya?

Saya sudah menyerahkan kepada Departemen Sosial untuk menelusuri di sebelah mana sebenarnya makam Tan Malaka di Selopanggung. Makam harus dibongkar dan diuji DNA. Keluarga Tan Malaka sudah bersedia diambil sampel darahnya. Semua terserah pemerintah Indonesia, apa mau memindahkan makam itu atau tetap mempertahankannya di sana.

YOS RIZAL SR DWIJO MAKSUM (Tempo)

Fenomena ibadah



Ali bin abi Thalib , dalam kitab Nahl Balaghah, mengatakan  :

ada tiga kelompok manusia yang menjalankanibadah, sebagai berikut :




Kelompok pertama, orang beribadah karena menghendaki keuntungan,  itu ibadah pedagang.




Kelompok kedua, orang beribadah karena takut siksa, itu ibadah budak.




Kelompok ketiga, orang yang beribadah hanya karena bersyukur kepada-Nya,

itulah ibadah orang merdeka.


Pencapaian Puasa Batin  memberikan signal kepada umat Islam agar melakukan ibadah dengan penuh ketulusan. Salah satu rukun Islam yang hendak ditunaikan dalam rangka penyucian diri, memperkaya spiritualitas;bukan karena beban agama, apalagi menganggapnya tradisi yang mengungkung. Ketulusan menyadarkan manusia dalam menelanjangi kelemahan diri masing-masing. Berangkat dari kelemahan diri , manusia selayaknya mencoba berproses menuju pembenahan dan perbaikan diri. Dengan demikian, setiap menjalani puasa, manusia seharusnya berusaha melaksanakan  perubahan transformatif yang mengantar ke dalam kehidupan lebih berarti, bukan hanya bagi diri sendiri tetapi semua manusia.

Ironisnya , puasa yang secara ritual dijalani justru dapat dikatakan tampaknya  absen dari nilai ketulusan. Kita berpuasa lebih dikarenakan sesuatu selain Tuhan; semacam kenginan , misalnya, masuk surga atau demi menunjukkan tingkat keberagamaan kita kepada orang lain. Kebanyakan dari manusia yang berpuasa justru mengedepankan kesombongan, menganggap lebih baik dari yang lain, bahkan menyebarkan kekerasan karena dalam angan-angan mereka yang merasa sebagai orang suci  yang telah mendapat mandat dari Tuhan untuk melakukan apa saja bagi orang lain. Akibatnya, puasa bukan lagi meningkatkan spritualitas dan religiustitas, tetapi tanpa disadari mendegradasikannya.

Fenomena ibadah untuk mencari keuntungan kini amat tampak. Berbagai ceramah keutamaan Ramadhan sebagai bulan penuh berkah: sepuluh awalnya rahmat, sepuluh tengahnya ampunan, dan sepuluh ujungnya pelepasan dari neraka. Terlebih, di bulan Ramadhan, ada satu malam yang bernilai seribu bulan (lailatul qadar). Hampir setiap penceramah mengungkap hal ini, dan mengatakan, siapa pun yang melakukan ibadah sunat pada bulan Ramadhan, niscaya nilainya dicatat sebagai ibadah wajib; siapa yang melakukan ibadah wajib, nilainya dilipatgandakan berpuluh bahkan beratus kali lipat. Kita pun ramai-ramai berebut pahala. Kita pikir, rangkaian ibadah selama bulan suci ini insya Allah akan menghapus dan mengimbangi pelbagai kekurangan, bahkan menghapus kejahatan— korupsi, penipuan, pemerkosaan hak-hak orang lain, dan lainnya—yang dilakukan sebelas bulan sebelumnya. Inilah mental pedagang yang dimaksud Ali ibn Abi Thalib.

Salah satu sebab yang tampaknya memicu kecenderungan melakukan ibadah ala pedagang adalah karena banyak ulama memberi tekanan lebih besar pada ajaran-ajaran eskatologis. Menurut tinjauan Jane I Smith Yvonne Y Haddad (1996: 2), hal itu awalnya dilakukan guna membentengi umat Islam dari pengaruh materialisme Barat. Namun, kecenderungan ini memberi dampak negatif, yakni terkikisnya nilai-nilai sosial dan kemanusiaan dalam ibadah. Akibatnya, ibadah hanya dipandang sebagai kewajiban manusia kepada Tuhan dan bekal menghadapi Hari Pengadilan.

Bukti nyata fenomena ini adalah shalat. Nabi menyatakan, shalat adalah tiang agama, penanda keislaman seseorang. Al-Quran menegaskan, shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Namun, kenyataannya, shalat sama sekali tidak berpengaruh pada perubahan sikap dan perilaku. Shalat tak membuat kita lebih menyayangi sesama, tak bisa mencegah kita menggunjingkan orang lain; tak kuasa menahan tangan untuk memalsu data dan me-mark-up anggaran, tak bisa mengendalikan tangan untuk merusak berbagai sendi kehidupan.

Begitu banyak pejabat yang tak pernah tinggal shalat lima waktu seraya tak segan menghabiskan uang rakyat. Begitu banyak pengusaha diceritakan sering puasa Senin-Kamis, tetapi enggan menghargai hak-hak pekerjanya. Begitu pun pekerjanya.
Banyak di antara mereka tak pernah tinggal shalat, tetapi mereka tak sungkan memalsu data, mengurangi kadar timbangan, dan melakukan tindakan korup uang kantor. Semua ini diakibatkan karena ego diri dan lebih mementingkan nilai-nilai duniawi.
Seharusnya, sebagaimana ditandai rukun shalat yang terakhir, shalat yang dilakukan bisa melahirkan kedamaian (salam) dan bisa membuat kita lebih menghargai hak-hak manusia.

Bukankah demkian dear all of my sweet brother & sister???

Sudah Merdekakah Indonesiaku?

by Nurul Candrasari Masykuri on Wednesday, August 18, 2010 at 6:29am




Bangsa merdeka adalah bangsa yg bebas dari penjajahan ,
bebas menentukan nasib sendiri dan menciptakan masyarakat adil dan makmu
saat ini apakah kita sudah "MERDEKA"
Lalu andai memang sudah merdeka apa saja yang sudah kita capai sebagai bangsa yg merdeka,
Lihatlah secara hati nurani dan fakta riil .


Gegap-gempita dan pekik merdeka sebentar lagi akan kembali membahana. Pidato-pidato heroik kepahlawanan akan mulai bergema. Makna dan semangat kemerdekaan akan kembali bersuara. Anak-anak akan mulai berlomba, para remaja pun bernyanyi bersuka ria.


Sementara itu orang-orang tua dan para veteran akan mulai semangat bercerita
Di tengah hingar-bingar kegembiraan dan suka cita tersebut, diam-diam sebuah mesin politik yang sudah aus terus bekerja.
Megap-megap dan terengah-engah. Tidak mampu mengendalikan kemiskinan, kemelaratan serta ketergantungan kepada pihak luar. Ya, ditengah pekik merdeka dan pidato patriotik tentang kemandirian dan kemerdekaan, kontrak-kontrak tidak adil terus dilanjutkan,




SDA kita pun terus tergadaikan, serta ketergantungan terhadap asing pun terus dilestarikan
Diantaranya, hutang-hutang baru terus dibuat, bahkan terus meningkat berlipat-lipat.
Masalah Pendidikan
Bagaimana carut marutnya berbagai persoalan Politik, Ekonomi ,Sosial Budaya, Pedidikan
dari segi pendidikan secara umum masih sangat menyedihkan dimana banyak sekolah
yg masih reot dan sistem kasta dalam pendidikan lihatlah simiskin akan tetap bodoh,



Masalah Ekonomi Menurut beberapa narasumber di bawah ini :


Dani Setiawan, Ketua Koalisi Anti Utang (KAU) menilai, pemerintah selalu mengedepankan citra dalam mengurus utang daripada kerja kongkrit mengatasinya. Pemerintah selalu menebar siasat pencitraan, dengan mengatakan, kondisi utang aman.


Sebab, menurut Dani, dengan menggunakan produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang sebesar Rp6.253,79 triliun, rasio utang RI turun jadi 26%. "Padahal, yang dibandingkan adalah rasio utang terhadap PDB sedangkan utang terus bertambah," katanya.



Dani memaparkan, jumlah utng RI semakin membesar.







Pada semester pertama 2010, utang RI bertambah Rp34,97 triliun dari posisi 2009, dari Rp1.590 triliun jadi Rp1.625 triliun. "Siasat pencitraan itu, sama sekali tidak mencerminkan membengkaknya utang yang berdampak pada beban anggaran," tukasnya.



Akibatnya, lanjut Dani, beban fiskal pemerintah semakin memburuk. Sebab, selama 5 tahun terakhir dari 2005 hingga 2009, akumulasi beban cicilan pokok dan bunga utang dalam APBN mencapai Rp879,22 triliun. "Angka itu gabungan utang luar negeri maupun dalam negeri," ujarnya.







Untuk 2010 saja, imbuh Dani, pemerintah merencanakan pembayaran cicilan utang pokok dan bunga sebesar Rp237 triliun. Sedangkan anggaran belanja pemerintah pusat hanya Rp725 triliun. "Jadi, hampir setengah dari belanja pemerintah pusat, digunakan untuk membayar cicilan pokok dan bunga utang," ucap Dani.







Keadaan ini dinilainya sebagai kerawanan dan ancaman besar dalam ekonomi Indonesia. "Sebab, anggaran untuk belanja publik, tidak mendapat prioritas utama dibandingkan prioritas pembayaran cicilan utang yang selalu jadi nomor satu," timpalnya.







Alhasil, lanjut Dani, pemberantasan kemiskinan dan penyediaan lapangan kerja baru bukan lagi jadi tugas pemerintah jika dilihat dari postur anggaran semacam itu. Ke depan, tanggung jawab itu, mungkin akan diserahkan ke swasta atau investor asing.



"Penjajahan baru melalui mekanisme utang!" tandas Dani.







Di sisi lain, karakter tambahan utang baru ke luar negeri biasanya dalam bentuk program atau biasa disebut development policy loan. Ini merupakan kerjasama pemerintah dengan Bank Dunia, ADB, Jepang dan lain-lain.



"Sejak 2004, development policy loan mengontrol dan mengarahkan kebijakan ekonomi RI, agar sesuai dengan keinginan dari pihak kreditor," ungkapnya.







Kontrol itu berupa perintah untuk segera memotong subsidi energi seperti listrik dan Bahan Bakar Minyak (BBM). Selain itu juga berupa intervensi seperti, perintah untuk segera merevisi aturan-aturan mengenai Daftar Negatif Investasi agar lebih terbuka dan bebas bagi asing. "Semua itu tertulis dalam utang development policy loan itu," urai Dani.







Dari sisi utang dalam negeri pun bertambah kacau. Sebab, dalam penerbitan obligasi negara pun, sudah bergeser fungsinya. Pada mulanya, obligasi digunakan untuk menutupi defisit anggaran. "Dengan semakin banyaknya kepemilikan asing di Surat Utang Negara (SUN) dan di tengah perlambatan ekonomi Eropa dan AS, RI jadi pasar potensial obligasi bagi para spekulan," imbuhnya







Setelah krisis ekonomi Eropa dan AS pecah, kepemilikan asing di SUN terus meningkat. Hingga Agustus 2010, kepemilikan asing di SUN mencapai Rp177 triliun dengan bunga 8% sangat jauh dari AS 0,58%. "SUN menjadi instrumen pasar keuangan bagi para spekulan dan bukan lagi untuk pembiayaan defisit APBN," jelas Dani.







Selanjutnya menurut Latif Adam, Koordinator Tim Kajian Pusat Penelitian Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan, utang telah menggerogoti kemandirian ekonomi.







Sebab, pada saat utang lobi kesepakatan antara kreditor dengan debitor ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi.



"Lobi ini tidak pernah transparan, ada agenda atau konsesi apa bagi kreditor di balik pemberian utang," ujarnya.







Di sisi lain, Latif mengakui, rasio utang RI terhadap PDB mengalami penurunan. Tapi, ini jadi politik pencintraan bahwa pemerintah berhasil menekan rasio utang terhadap PDB. "Padahal, yang pas untuk mengukur rasio utang adalah besaran utang terhadap PNB (Produk Nasional Bruto)," timpalnya.



PDB mencerminkan, masyarakat Indonesia dan asing memiliki kewajiban membayar utang. Padahal asing tidak. Sedangkan PNB, lebih merepresentasikan rakyat yang harus membayar utang. "Saat ini, rasio utang terhadap PNB tidak pernah disebut-sebut," pungkas Latif.







Andai akan dibandingkan utang RI tahun 1998 (238 trilyun)



maka utang RI Maret 2009 berlipat 7 kali lipat! 7 kali lipat lebih parah dari 32 tahun ORBA!



Bahkan kalau mau yang dilihat cuma yang 400 trilyun saja (yang dihutang di 5 tahun terakhir)



itu pun masih lebih besar dari utang hasil ORBA yang cuma 238 trilyun.







Pada gilirannya, membayar cicilan dan bunga utang tadi akan mencekik rakyat karena mengambil porsi besar dari APBN,



serta bisa menguras cadangan devisa. Sungguh ironis,







Di bulan Agustus yang bernuansakan kemerdekaan, kemandirian, dan anti penjajahan ini, pemerintah dalam RAPBN 2010 justru menaikkan pos pembayaran beban utang, bahkan lebih besar dibandingkan anggaran pembangunan infrastruktur:







Beban bunga utang pemerintah dalam anggaran negara kian membengkak dan membebani rakyat. Pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2010, beban utang ditetapkan 115,6 triliun rupiah, meningkat dibandingkan pada 2009 sebesar 101 triliun rupiah. Jumlah tersebut lebih besar dibandingkan anggaran pembangunan infrastruktur RAPBN 2010 sebesar 93 triliun rupiah.







Padahal tidak sedikit studi-studi yang mengkaitkan utang sebagai alat imperialisme atau penjajahan modern. Studi pertama yang secara khusus melakukan hal itu adalah yang dilakukan oleh Teresa Hayter. Berangkat dari hasil penelitiannya yang dibiayai Bank Dunia pada tahun 1970 di empat negara Amerika Latin, Columbia, Chile, Brazil, dan Peru. Hayter kemudian mem-publish hasil risetnya dalam sebuah buku dengan judul Aid as Imperialism.







Hayter secara tegas menyimpulkan bahwa utang luar negeri pada dasarnya bukanlah transfer sumber daya yang bebas persyaratan. Menurut Hayter, hal-hal yang dipersyaratkan dalam pemberian utang luar negeri meliputi:







Pertama, pembelian barang dan jasa dari negara pemberi pinjaman.







Kedua, peniadaan kebebasan dalam melakukan kebijakan ekonomi tertentu, misalnya, nasionalisasi perusahaan asing. Dan







Ketiga, permintaan untuk melakukan kebijakan-kebijakan ekonomi "yang dikehendaki", terutama peningkatan peran sektor swasta dan pembatasan campur tangan langsung pemerintah dalam bidang ekonomi.







Berbagai studi lain juga meng-confirm temuan Hayter,



seperti yang ditulis oleh Hudson (2003), dalam bukunya Super Imperialism: The Origin and Fundamentals of US World Dominance, :



menyebutkan bahwa tujuan pemberian pinjaman oleh Amerika sejak 1960 memang tidak dimaksudkan untuk membantu negara-negara penerima pinjaman, melainkan untuk meringankan tekanan terhadap neraca pembayaran negara tersebut. Kebijakan itu erat kaitannya dengan upaya pemerintah Amerika untuk mensubsidi peningkatan ekspor berbagai barang dan jasa mereka ke seluruh penjuru dunia.







Bukti mutakhir utang sebagai salah satu instrumen penjajahan modern, dibeberkan oleh John Perkins (2004) dalam bukunya yang fenomenal dan kontroversial, Confessions of an Economic Hit Man. Buku ini seperti melengkapi dan menguatkan argumen para peneliti sebelumnya, karena Perkins mengaku mantan "orang dalam" yang berprofesi sebagai economic hit men, dengan misi berikut:







Economic hit men (EHMs) are highly paid professionals who cheat countries around the globe out of trillions of dollars. They funnel money from the World Bank, the U.S. Agency for International Development (USAID), and other foreign "aid" organizations into the coffers of huge corporations and the pockets of a few wealthy families who control the planet's natural resources. Their tools included fraudulent financial reports, rigged elections, payoffs, extortion, sex, and murder. They play a game as old as empire, but one that has taken on new and terrifying dimensions during this time of globalization.







Setelah para EHMs berhasil menggolkan pinjaman tersebut, tugasnya selanjutnya adalah memberikan proyek atau tender raksasa membangun infrastruktur negara seperti pembangkit listrik, pelabuhan, airport, industri minyak, sebagai skenario pembelanjaan hutang tadi, kepada korporasi-korporasi besar AS. Kita bisa membayangkan besarnya keuntungan yang diperoleh korporasi tersebut dengan memenangkan tender sebuah negara! Apalagi, baik perusahaan multinasional atau bank yang memberikan pinjaman, sebenarnya dimiliki oleh pihak yang sama. Ini artinya uang triliunan dolar yang dipinjamkan sebenarnya hanya "berpindah" dari rekening sebuah bank swasta di Washington, ke rekening sebuah bank perusahaan konstruksi di New York. Bank tersebut mendapatkan keuntungan dari bunga hutang, sedangkan perusahaan konstruksi mendapatkan keuntungan dari proyek infrastruktur negara tadi, dan pemerintah AS mendapat keuntungan dari "upeti" pajak.







Kalau sudah seperti ini, utang ribuan triliun tadi sebenarnya untuk siapa? Rakyat banyak atau segelintir rezim?







(Perkins menyebutnya rezim korporatokrasi; sebuah simbiosis mutualisme antara politisi dan konglomerat).







Sayup-sayup pekik merdeka masih terdengar. Begitu pula pidato parapejabat tentang semangat kemerdekaan dan kebebasan dari segala bentukpenjajahan. Anak-anak pun berlomba makan krupuk dan lari karung denganriang gembira. Para remaja masih asyik terbuai oleh alunan musik dan lagu yang mereka nyanyikan di atas panggung 17-an.



Sementara itu para veteran berbicara dengan mata berbinar tentang perjuangan dan pengorbanan mereka.



Pada saat yang sama, entah dimana, para politisi busuk tengah angkat gelas dan toast dengan para EHMs merayakankemenangan mereka.







Belum lagi masalah lainnya yang belum lagi aku sempat membahas lebih dalam yakni sejumlah masalah Politik , Sosial dan Budaya... sungguh Ironis negeri ini



Lalu apakah ini yang namanya "MERDEKA"

My Memory of Chemistry class

 cerita dari my best friend 'Denny Rambo'(SMA AL AZHAR 1983)written by : Nurul Candrasari Masykuri
 Sunday, February 7, 2010 at 11:22am



Reuni part: 2
'from Denny Rambo story'
"Chemistry..oh Chemystry... ( memory from class IPA 2, Al-Azhar, High School)
written by : Nurul Candrasari Masykuri

Seperti biasanya .... yang namanya pelajaran yang menjadi momok siswa/i dari mulai SMP dan SMA salah salah satunya adalah... mata pelajaran 'Chemistry" or Kimia......pada kelas kami dulu gurunya adalah pak 'Martin' ..seorang guru Kimia yang cukup lumayan kental wibawanya.... dan kami semua di kelas cukup ketar ketir klo yang namanya ulangan mo tiba... biasalah cari data cari model ulangan..dan yang pasti usaha belajar barengan...
Di kelas ku ini seperti kelas2 yang lainnya pastilah anak2nya terdiri dari berbagai tingkat kemampuan ya dari yang super genius s/d yg biasa2 aja....(aku yg termasuk biasa2 aja)

Dan yang the best diantaranya ada yang namanya :
1. Mr. Benny Bintang Humusta ( om Beben)
2. Mr Juniarto (om EBOOT)
3. Ms.Yufanti Sujudi (teteh' fanti )

Dan seperti juga kelas2 biasanya pasti ada yang so nakal..so baik..kalem..
nach ini my best friend 'Kang Denny Rambo' (memang wajahnya klo di jejerin sm si Rambo..seperti saudara kembar ..lain bapak beda ibu..he...he.. yg pasti ' Handsome lah' )
Denny lumayan lucu..suka jail dan ya..termasuk kemampuan sama lah sama aku..standard-standart aja....dan Denny biasanya suka jalan sama yang namanya om Bondan Luthfi' dan om Budi Sadatoen.. mrk ya sukalah mengganggu yang namanya si 'EBOOT' ...ga ganggu sich benerannya klo jelang ulangan apalagi..langsung lah kang Denny dengan gayanya yang khas Rambo... setengah mendesak dan mimik di kejam2in dikit dengan suara yang agak di serem2 in dikit.... langsung menekan si 'EBOOT' ...singkatnya 'Ebot mah kudu nurut ngajarken ka kang Denny sama kang Bondan'...
Nah pas besoknya mo ulangan..si Eboot kudu ngineplah di rumah kang Denny..di Pondok Indah
dan Bondan ikut juga nginep, ceritanya mo belajar barengan serius.. dng gaya seriusnya dengan bahasa keren kang Denny bilang 'Bot' lw kudu ngajarin gw sm Bondan ..biar bisa dunk skale2 ngalahin si Beben... he..he...
Mulailah si pak guru Ebot dengan serius dengan wajahnya yg memang sdh serius dan lugu abis.. transfer pelajaranlah ke mrk .. baru mulai ga ada bbrp menit ..kang Denny sm Bondan sdh bete abiz..ngantuk...++++ lah... yang pasti ga masuk2 pelajaran klo seperti itu ..padahal ulangan besok pagi jam pertama lagi... wah kudu ada penyemangat dan jalan keluarnya nich biar bisa 100% masuk ke otak...
Finnally ..kang Denny mencari solusi..dan keputusannya minumlah obat penambah kekuatan kerja otak... dengan yakinnya langsung minum CEREBROVIT 2 butir/ orang si Denny &Bondan
ckck...ckckckck.. ternyata memang beneran efektif..langsung kerja otak ..sprint..pokoknya menurut kang Denny wow Amazing...semangat abis..sampai ga'ngantuk..
tapi menjelang shubuh..sehabis shalt shubuh... ceritanya mo getting rest 4 a while before starting to going to school' ....tidurlah mereka semua..
Dan setelah jam yang sudah harus..ke sekolah...dengan keyakinan hmmm "MANTABB"
Pe de abis..yakin bisa..100%.. nich...
Ternyata bgitu bel berbunyi..selesai ikrar... dan masuk kelas... dan menghadapi selembar kertas putih kosong..+ soal chemistry.... apakah yang ada di benak dan pikiran kang Denny dan kang Bondan... ternyata......KOSONG..KOSONG..dan KOSONG...
Waduch cilaka 13.... HELP..HELP..HELP..... EBOOOOOOOOOOOTTTTTT
eboot want you take me please... u're answer sheet please......ha..ha...ha....
untung kaca mata eboot ga jatuh ke lantai..saking ribetnya untuk buatin contekan untuk mereka berdua....WASSALAM BOOOT..dimanakah dikau..... Selamat anda layak dapat BINTANG'
telah berhasil mengantar 2 temanku minum 'CEREBROVIT'...ha..ha...ha..

Kang Denny ..kang Bondan... bgitukah ceritanya???? ha..ha...
Cerita selanjutnya...di episode berikutnya ya teman..he..he..he
Alumni Al Azhar, di tahun 1983 an...

NURUL CANDRASARI RADIO

Browser not supported