(Tan Malaka adalah seorang Marxis dalam pemikiran, tapi Nasionalis dalam tindakannya)
by Nurul Candrasari Masykuri on Thursday, September 30, 2010 at 8:55am
Elite Partai Komunis Indonesia (PKI) M. H. Lukman pernah menulis "Tan Malaka adalah pengkhianat Marxisme-Leninisme".
Tulisan itu dituangkan dalam surat kabar terbitan PKI Bintang Merah pada 15 November 1950.
Anggapan dari salah satu elite PKI pada saat itu jelas membingungkan. Dalam sejarah justru Tan Malaka menjadi korban politik stigmatisasi rezim Orde Baru yang mengatakan Tan Malaka adalah seorang Komunis dalam konotasi Komunis selalu disamakan dengan :
manusia yang ATHEIS.
Tan Malaka pada tahun 1919 memang pernah menyatakan dirinya sebagai seorang Marxis, dan bahkan Tan pernah menjadi ketua PKI dan ketua Komunis Internasional (Komintern) untuk kawasan Asia Tenggara. Tapi pada perkembangan selanjutnya, Tan Malaka justru menjadi musuh utama PKI pada saat itu dan keluar dari Komintern karena perbedaan pandangan ideologis.
Tan Malaka sebenarnya memiliki ciri khas tersendiri dalam menuangkan ide-ide nasionalisme, yang justru membedakan dengan tokoh-tokoh lain pada masa itu. Dalam pemikirannya terdapat konvergensi antara Marxisme yang sebenarnya bersifat internasionalis dan mengedepankan solidaritas kaum buruh sedunia, tanpa dibatasi rasa kebangsaan,
dengan nasionalisme yang memiliki ciri khas pada Nation State.
Tan Malaka bukanlah seorang dogmatis tulen sebagaimana para Stalinis, Tan berpikir menurut dialektika. Ketika Stalin mendakwa kesatuan Islam (Pan-Islamisme) dan Khalifah sebagai bentuk kolonialisme, Tan membantah anggapan Stalin tersebut. Bagi Tan, kesatuan Islam tidaklah harus berada di Asia Barat saja, Pan-Islamisme harus dibangun disetiap negeri Muslim. Islam, kata Tan, bahkan telah mengajarkan sosialisme dan anti penjajahan 12 abad sebelum Karl Marx lahir kedunia. Karena itulah menurut Tan, gerakan Islam dimanapun harus membebaskan rakyat terjajah dimanapun.
Komintern dan Soviet pun semakin gerah dengan sikap Tan yang sangat lunak terhadap gerakan Islam,
akhirnya Tan pun dipecat dari jabatan ketua Komintern Asia Tenggara.
Ada hal yang menarik saat Tan Malaka berdebat dengan Mohammad Hatta di Berlin pada Juli 1922.
Saat itu Hatta dan Tan berdebat tentang gagasan ekonomi kerakyatan atau demokrasi ekonomi.
Dalam perbincangan tersebut Tan mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintahan model diktator yang dijalankan Stalin di Soviet, tiba-tiba Hatta memotong pembicaraan dengan pertanyaan yang sangat tajam :
"bukankah kediktatoran memang inheren dalam faham komunisme?"
Pertanyaan tajam dari Hatta tersebut ditanggapi oleh Tan dengan menjelaskan
teori diktator proletariat ala Karl Marx.
Menurut Tan, diktator proletariat versi Marx hanya berlangsung selama periode transisi, yaitu selama berlangsungnya pemindahan penguasaan alat-alat produksi dari tangan kapitalis ke tangan rakyat. Selanjutnya, kaum pekerja yang sebelumnya tercerahkan di bawah panduan perjuangan kelas, akan mengambil peran sebagai penunjuk jalan dalam membangun keadilan. Hal itu akan dicapai dengan cara menyelenggarakan produksi oleh semua, untuk semua, dibawah pimpinan berbagai institusi dalam masyarakat. Hal tesebut jelas sangat bertolak belakang dengan diktator personal.
Pada tahun 1926 terjadi pemberontakan PKI di beberapa daerah. Jika Tan adalah seorang komunis tulen, tentu Tan akan mendukung pemberontakan itu dalam kapasitasnya sebagai mantan pemimpin partai dan anggota partai. Tan Malaka yang sedang berada di luar negeri menilai pemberontakan itu terlalu dini dikobarkan oleh PKI. Dan pada tahun 1927, tanpa ragu Tan keluar dari PKI untuk kemudian mendirikan Partai Republik Indonesia (PARI).
Tan Malaka juga dengan gamblangnya menunjukan sikap tidak setuju terhadap pemberontakan PKI selanjutnya di Silungkang (1927)
dan pemberontakan Banten (1926). Pada pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 pun Tan Malak menunjukan sikap tidak setuju.
Tan Malaka tetap tidak menjadi bagian dari Muso dan Alimin.Pada 1948, Tan dan pasukannya lebih memilih perang menghadapi agresi Belanda.
Sikap tersebut menunjukan Tan Malaka sebenarnya lebih rasional dari para elite PKI pada saat itu, dan sejak tahun 1927 bukan bagian dari PKI.
Memang faktanya, Tan yang sejak masa mudanya sudah terpesona oleh Marxisme-Leninisme. Namun diatas segalanya hal yang justru terpenting yang harus diingat adalah, Tan Malaka tidak berjuang untuk kemenangan partai komunis di tanah airnya agar mendapatkan kekuasaan, hal ini tentu tabu bagi para Marxist dan Leninist pada umumnya.
Yang Tan perjuangkan sepanjang hidupnya adalah kemerdekaan seratus persen untuk tanah air yang di cintainya
.
Selanjutnya jika Tan masih dikatakan seorang komunis, tapi kenapa Tan Malaka begitu menekankan aspek persatuan di antara sesama warga bangsa apapun afiliasi politik maupun ideologinya?,
kenapa Tan tidak berjuang untuk perjuangan kelas yang menjadi bagian penting dalam teori Marxis-Leninis?
Dan Tan Malaka adalah seorang MUSLIM sejati seperti yang terekam dalam tulisan-tulisan Harry Poeze bawha ketika ibunda Tan Malaka sakit, Tan sempat berulang-ulang melantunkan bacaan-bacaan dalam Al-Qur'an.
Dalam dunia gagasan, Tan Malaka dikenal sebagai pemikir yang fasih berbicara sosialisme, Marxisme, sejarah, politik, hingga ekonomi. Tapi paradoksnya adalah : Tan Malaka adalah seorang Marxis dalam pemikiran, tapi nasionalis yang tuntas dalam semua tindakannya.
Dalam aspek spiritual keagamaan dan keTuhanan, seperti yang pernah Tan ungkapkan,"mungkin aku adalah seorang radikal didepan mereka, tapi di depan Tuhan, aku hanyalah hambanya yang tidak berdaya"
.
Menyelami pemikiran dan merasakan petualangan perjuangannya,
Tan Malaka adalah seorang nasionalis sejati (ultra nasionalis) daripada seorang komunis.
Dan dalam karya nya yg Terkenal : MADILOG
di antara sekian banyak buku Tan Malaka, Madilog pantas mendapat perhatian khusus. Dalam Madilog ia memaparkan cita-citanya bagi Indonesia. Meskipun isi Madilog sebagian besar mengikuti materialisme dialektik Friedrich Engels (sahabat karib Karl Marx yang memperlengkap filsafat sosial Marx dengan filsafat alam dan ontologi materialis yang kemudian akan menjadi dasar filosofis Marxisme-Leninisme), Madilog bukan semacam “ajaran partai” atau “ideologi proletariat”, melainkan cita-cita dan keyakinan Tan Malaka sendiri. Malahan sangat mencolok bahwa Madilog bebas sama sekali dari nada tidak sedap buku-buku Marxisme-Leninisme yang senantiasa menuntut ketaatan mutlak pembaca terhadap Partai Komunis, alias pimpinannya. Madilog bebas dari segala bau ideologis, bebas dari jargon ortodoksi partai yang tahu segala-galanya.
Madilog adalah imbauan seorang nasionalis sejati pada bangsanya untuk ke luar dari keterbelakangan dan ketertinggalan.
Tan Malaka melihat bangsa Indonesia terbelenggu dalam keterbelakangan oleh “logika mistika”. “Logika mistika” adalah logika gaib, di mana orang percaya bahwa apa yang terjadi di dunia adalah kerjaan kekuatan-kekuatan keramat di alam gaib. Logika gaib melumpuhkan orang karena, daripada menangani sendiri tantangan yang dihadapinya, ia mengharapkannya dari kekuatan-kekuatan gaib itu. Daripada berbuat dan berusaha, ia mengadakan mantra, sesajen dan doa-doa.
Selama bangsa Indonesia masih terkungkung oleh logika gaib itu, tak mungkin ia menjadi bangsa yang merdeka dan maju. Jalan ke luar dari logika gaib adalah “madilog”, materialisme, dialektik dan logika. Mirip dengan August Comte, sang bapak positivisme seratus tahun sebelumnya, Tan Malaka melihat kemajuan umat manusia melalui tiga tahap:
Dari “logika mistika” lewat “filsafat” ke “ilmu pengetahuan” atau “sains”.
Dan ada al penting yang perlu diingat diantaranya :
Pada tahun 1919 ketika TAN MALAKA kembali ke Indonesia bekerja sebagai guru di Deli. Ketimpangan sosial di lingkungan perkebunan antara buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda. Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921,
Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai. Pemuda cerdas ini banyak berdiskusi dengan Semaoen mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda, juga merencanakan suatu pengorganisasian bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem kader, gerakan-gerakan aksi, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang hingga mengambil tindakan tegas.
Pemikiran-pemikiran beliau menjadi inspirasi dan motivasi bagi para pejuang kemerdekaan dahulunya. Pada masa awal kemerdekaan,
Bung Karno pernah menunjuk tokoh ini sebagai penggantinya–pengemban amanat pemimpin bangsa untuk meneruskan perjuangan
apabila beliau tertangkap atau tidak bisa melanjutkan perjuangan.
Di masa revolusi nasional, Tan Malaka adalah sosok yang disegani. Soekarno menganggapnya sebagai guru revolusi. Hatta menyebutnya sebagai sosok yang tak mudah membungkukkan tulang punggungnya. Sebagian orang malah menyebutnya sebagai filosof Indonesia yang paling awal.
Banyak hal yang tidak terjelaskan dalam sejarah bangsa ini. Dalam buku-buku sejarah dinyatakan atau dituduh bahwa beliau adalah tokoh komunis ala Orde Baru , dan yang namanya komunis maka akan ditenggelamkan dalam sejarah bangsa ini. Padahal juga diketahui, bahwa beliau adalah orang yang dimusuhi oleh tokoh-tokoh komunis masa lalu. Beliau melarikan diri kemana-kemana negeri, salah satu sebab juga diburu oleh orang-orang komunis.
Tan Malaka, anak Minangkabau yang terlahir 2 Juni 1897 di desa Pandan Gadang –Sumatra Barat. Ia termasuk salah seorang tokoh bangsa yang sangat luar biasa, bahkan dapat dikatakan sejaja...r dengan tokoh-tokoh nasional yang membawa bangsa Indonesia sampai saat kemerdekaan seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, Moh.Yamin dan lain-lain.
Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini telah banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang orisinil, berbobot dan brilian hingga berperan besar dalam sejarah perjaungan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia mendapat julukan tokoh revolusioner yang legendaris.
Beliaulah yang pertama kali mencetuskan kata “Republik Indonesia” dan mengucapkan kata “Indonesia Merdeka 100%”, tanpa konpromi sama sekali dengan penjajah.
Tokoh ini begitu berbahayanya kah hingga banyak sekali negara-negara yang mencekalnya dan mengejar-ngejar untuk ditahan bahkan dibunuh jika sulit menangkap?
Sejumlah tokoh besar seperti: Lenin, Stalin, Trotsky, Chiang Kai Sek, sampai Mao Tsu Teng menganggap tokoh ini adalah orang paling berbahaya dan terlarang! Tan Malaka dilarang memasuki Prancis, Sovyet, Baltik, Balkan, Britania, China Daratan apalagi Belanda. Tokoh ini adalah guru imajiner buat Ho Chi Minh (bapak bangsa Vietnam), Aung San (ayah dari Aung San Syu Ki) dan Joseph B. Tito (bapak bangsa Yugoslavia, yang sudah sejarah) dll.
Banyak sejarah yang mesti diungkap kebenarannya. Tulisan ini cuma sebagai pengantar kritis kita terhadap para pejuang dan pahlawan kita. Sudah saatnya kita tempatkan pejuang dalam deretan pahlawan dan para pengkhianat dalam daftar para pecundang.





