share from:Dano Ismail,To: Nurul Candrasari Masykuri
Tuesday, March 30, 2010 at 8:25am
Paul Krugman berpesan setelah Mexico dan krisis berkepanjangan di Argentina, Asia 1977 dan stagnasi ekonomi Jepang, saat ini krisis di AS dgn efek bola salju sub-prime yang belum terlihat berkesudahan telah membuka lagi pertanyaan yang sudah lama ditutup. Inikah tanda-tanda dari awal depresi ekonomi baru? Histoire est repete? Belum satupun pakar yang bisa dengan tegas menjawabnya.
Pesan dari buku PAUL KRUGMAN (Pemenang Hadiah Nobel 2008) pada Koran KONTAN, Oktober 2008.
1). Dunia keuangan memasuki episode baru.
Bertumbangannya raksasa-raksasa bisnis keuangan telah mengubah sama sekali wajah perekonomian AS bahkan dunia. Beberapa tokoh protagonis penentu arah kebijakan makro kini telah menjadi pesakitan dan terjebak dalam peran antagonis yg menyakitkan. Mereka menjadi pihak tertuduh (aku terdakwa) pembawa virus (calon) depresi ekonomi. Itulah sebabnya banyak pihak tidak terlalu bersimpati untuk membantu dan itulah mengapa bailout pemerintah AS mendapatkan tantangan terbesarnya.
Sebenarnya menurut kami bukan terjadi depresi besar, tetapi hanyalah fase deflatoir seperti Jepang pada 1992 – 2003 (asal sektor riil cukup aman) dan sampai sekarang tidak mampu bangkit kuat karena proses pembekuan selama belasan tahun yang terlihat dari rate BOJ tetap pada 0,2 - 0,5 % saja.
2). Imbas masa lalu.
Kondisi industri keuangan saat ini mengingatkan kembali pada Paul Krugman (peraih Nobel) dalam buku ”Return of Depression Economics” pada akhir 1999 untuk memotret peristiwa ekonomi dan keuangan dunia di tahun 1990an. Tapi buku ini masih relevan terhadap kemungkinan datangnya depresi. Menurut kami bukan juga tetapi memang itulah bioritmik alami atau alunan fluktuasi yang akan selalu mempengaruhi semua aktivitas manusia baik fisik maupun psikologisnya, dimana jika anda naik terlalu cepat dengan sudut kemiringan yang terjal (>45 %), maka alam (gaya gravitasi) akan menarik semua upaya anda untuk kembali ke bawah dengan cepat pula menuju titik dimana anda naik sebelumnya.
Untuk itu cara berpikir ekonom yang masih bersifat linier tentulah seringkali tak mampu melakukan prediksi secara tepat dan akurat (besaran dan waktu) terhadap hampir semua indikator makro ekonomi dan akan selalu melakukan revisi per revisi. Depresi ekonomi didefinisikan sebagai resesi berkepanjangan (5 – 20 tahun). Teori ”Hang Over” menegaskan bahwa depresi ekonomi ataupun sekedar resesi adalah imbas, ganjaran, bahkan sebuah hukuman dari hasil kesalahan masa lalu. Mungkin itulah perangkat yang tepat untuk menggambarkan realitas masa kini. Ketidakhati-hatian dalam pemberian kredit disertai dimensi baru ekonomi modern, menyeruaknya peran spekulator yang sangat intensif; itulah dua hal besar yang kemungkinan menjadi ujung pisau tajam alasan terbesar datangnya depresi era baru.
Spekulator atau arbitrageur memilik kontribusi secara dinamis dalam menciptakan single prevailing price yang dapat menjadi ukuran banyak orang dalam melakukan transaksi (Samuelson 1948). Tapi karena kentalnya unsur spekulasi bahkan perjudian, akhirnya unsur stabilitas harga justru menjadi bumerang dengan menjadi pemicu ketidakwajaran kenaikan harga sebelum akhirnya terpelanting jatuh. Metoda kami (Bioeconomic) juga telah mengetahui sejak 2003 bahwa akan terjadi resesi ekonomi AS apapun alasannya, karena memang itulah bio ritmik yang harus dialami oleh setiap mahluk hidup, termasuk suatu negara yang dihuni oleh manusia dan alam lingkungan hidup (bio-life) dan SDA non bio-life (non renewable resources) yang akan berinteraksi terhadap dinamika ruang dan waktu yang selalu akan mempengaruhi semua aspek kehidupan dari setiap mahluk hidup beserta organisasi yang dibentuk, dikreasi dan dikembangkannya. Hangover berarti berbentuk batuan/benda yang menggantung di bukit batu yang pada suatu saat akan jatuh. Kondisi ini berbentuk self reinforcing (proses jatuh bangun Georges Soros), peak of over carrying capacity (bio- economic kami), gesekan dan benturan lempeng tanah yang kuat (econophysical Tannous dan Fessant), gerombolan semut yang menggunung pada sebuah makanan atau gula (Butterfly Economic Paul Omerod) yang jika diberi suatu trigger atau tekanan akan jatuh bebas ke bawah, guncangan permukaan tanah yang dahsyat dan berhamburannya semut ke segala penjuru. Dengan ekonometrika linier dan makro ekonomi yang penuh dengan asumsi-asumsi, tentulah ilmu ekonomi yang hanya berdimensi 1 (satu) yang dipakai oleh para ekonom dan pebisnis tak akan mampu mengetahui secara tepat dan akurat alunan fluktuasi alamiah dari agregat sifat manusia dalam cita-cita, harapan, visi, rencana, gairah, egoisme, keserakahan, psikologis, kepanikan, ketakutan serta bioritmik manusia yang berdimensi 2 - 4 baik dari suatu negara maupun secara global. Alunan fluktuasi bioritmik berupa siklus ekonomi inilah yang akan membentuk naik turunnya kondisi ekonomi yang akan mempengaruhi tingkat risiko bisnis. Semestinya manajemen risiko haruslah mempelajari ilmu lingkungan dan biologis agar dapat mengetahui dengan tepat terjadinya risiko bisnis, pasar, teknologi dan operasional terhadap suatu entitas bisnis, sektor bisnis dan makro ekonomi suatu negara maupun global. Dimana George Soros, Tannous dan Fessant, Paul Omerod dan kami sendiri dapat mengenal secara baik dengan berjalan di depan kurva atau dengan kata lain Georges Soros, Tannous dan Fessant, Paul Omerod dan kami telah mengatahui apa yang akan terjadi 6 bulan, bahkan 5 – 10 tahun ke depan tanpa memakai teori ekonometrik dan makro ekonomi, tetapi dengan reflecsity (catastrop), econophysical (gempa), butterfly economy (crash and run away) dan bio-economic (over carrying capacity dan conditional reflex), sehingga bersifat preventif dan antispasi dibanding sekedar problem solving atasi krisis yang sudah terjadi, tetapi telah banyak menimbulkan kerugian materi, waktu, korban, biaya problem solving, bailout dan bangkrutnya suatu entitas bisnis.
Stabilitas harga akan ditentukan oleh dinamika kegiatan ekonomi-bisnis-finansil. Seperti bumerang, kenaikan harga tanah & properti pada kasus Thailand, Belanda, Indonesia dan sekarang USA yang menyebabkan pemicu terjadinya krisis di Asia, Amerika Latin, sebagian Eropa dan USA, jadi bukan saja di sektor finansil. Yang lebih mengkhawatirkan kini justru spekulator masa kini dapat bermain di beragam industri. Menurut kami hidup ini adalah berspekulasi dengan peluang berbeda bagi setiap manusia bergantung kepada bagaimana manusia dapat hidup sehat dengan berkinerja baik, berprestasi, pengendalian diri, learning by doing dan learning by time. Demikian juga setiap perusahaan maupun negara mempunyai risiko dan peluang yang berbeda tergantung bagaimana dia dapat mengelola usahanya secara profesional. Seperti banyak perusahaan yang ”berjudi” dengan mengambil kredit berbunga tinggi, unprofessional management, melakukan ekspansi tanpa kendali, penjualan yang melebihi pangsa pasar-nya, iklan dan promosi yang berlebihan (heavy advertising), manajemen risiko ala kadarnya, pemberian kredit perbankan tanpa underlying asset yang wajar, kinerja yang kurang baik dan berdaya saing tinggi, kemampulabaan yang rendah, moral hazard pada kredit, ketidaksiapan manajemen untuk bersaing sehat dan lain-lain. Kelalain, ketidaktahuan, keserakahan dan ketidakhati-hatian ini menyebabkan banyak perusahaan yang default, seperti yang dialami oleh Indonesia sehingga terjadilah krisis moneter akibat ketidakpercayaan dunia terhadap perusahaan dan perbankan kita.
Berjudi adalah jika peluang bisnis dan pengelolaan dana dalam bentuk keuntungan adalah lebih kecil dari 30 – 40 %, dengan pengetahuan yang minim, tidak visioner, incompetency dan data/informasi yang kurang valid dapat membuat kesalahan pada perencanaan, desicion making dan action plan. Hidup ini, termasuk kondisi bisnis akan selalu bergerak naik turun, bersifat dimensi 2 - 4 dan tidak bersifat linier berdimensi 1 (garis lurus yang selalu bergerak positif). Risiko selalu dikaitkan dengan penurunan laba, kerugian, kekalahan yang sifatnya temporer, dimana jika naik/untung/menang adalah hal mutlak yang haruis dicapai sebagai ukuran keberhasilan, sedangkan kerugian harus selalu dihindari sebagai ukuran kegagalan atau mindset ekonomi yaitu ”maksimalisasi keuntungan”. Padahal hidup dan bisnis ini akan selalu naik turun dan mengikuti alunan bio-ritmik natural dan supernatural yang selalu akan mempengaruhi kinerja, prestasi, mood, psikologis, harapan dan visi dari mausia maupun entitas bisnis. Ini adalah kekuatan ”Invisible Hands” yang tak dapat dilawan dan dihilangkan oleh kekuatan fisik manusia dan bisnis semata.
Jika Wall Street mengenal istilah ”Don’t fight the FED on Monetary Policy”, tetapi menurut kami yang lebih penting dan utama adalah ”Don’t fight the Natural Law on your Life” yang akan selalu mempengaruhi dan membentuk dinamika kehidupan manusia dalam ruang dan waktu hingga akhir zaman. Kedekatan investor dengan Wall Street memang harus demikian karena investor akan memberikan dananya untuk dikelola secara profesional dan menguntungkan investor dalam bentuk diskusi, opini, saran, aksi, dan prediksi terhadap kondisi mikro perusahaan dan makro ekonomi agar investor tidak salah dalam melakukan tindakan transaksi buy or sell yang menguntungkan investornya.
Sering terdengar di dunia bisnis tentang adanya ”Uncertainty (ketidakpastian)” yang menyebabkan mereka tak mampu melakukan prediksi dan problem solving tepat yang berpotensi pada kerugian. Padahal sebenarnya dunia ini penuh hal-hal yang ”Certainty (kepastian)” yaitu pasti naik dan pasti turun mengikuti alunan fluktuasi bioritmik yang dipengaruhi oleh kekuatan supernatural (alam kosmis) dan natural (alam lingkungan), seperti musim hujan dan kemarau, siang dan malam hari, berkerja dan tidur, sehat dan sakit, berhasil dan gagal, menang dan kalah, untung dan rugi. Bagaimana kita dapat mengetahui dan selalu mengikuti alunan naik turunnya kondisi bisnis adalah suatu ketrampilan visioner dengan memakai indera VI (intuisi, instink dan penciuman rasa) terhadap dinamika bisnis yang selalu terjadi sesuai dengan perjalanan waktu. Jika kita dapat melakukan ”surfing” kondisi bisnis, maka peluang terjadinya risiko berupa kerugian, kegagalan, kekalahan dan masalah dapat kita eliminir bahkan terhindar dengan cara preventif dan bukan problem solving yang hanya menelan biaya, waktu dan korban kerugian. Bioeconomi adalah suatu metoda ekonomi yang memakai ilmu biologi untuk mengenal, merasa dan mengetahui fluktuasi kondisi bisnis mikro dan makro apakah akan naik (prosperity), di puncak (peak, consolidation dan turn around) ataukah sudah menurun (recession). Dengan demikian kita dapat melakukan ekspansi saat kondisi bisnis properity (pangsa pasar akan naik), konsolidasi saat mencapai puncaknya (keuntungan dan prospek mulai stagnan) dan efisiensi, hold business plan, kreatif, invensi dan innovasi saat menurun (kerugian dan kegagalan penjualan serta kalah bersaing makin bertambah).
Perangkatnya adalah rekayasa keuangan yang bersifat universal dan lintas industri. Kondisi ini pas benar dengan yang diceritakan oleh Herman Kross dalam ”American Economic Development : The progress of a Business Civilization”. Banyak pengamat mengungkapkan bahwa AS memang butuh kegagalan besar atau kejatuhan bank kelas atas utuk memberikan pelajaran atas pentingnya manajemen resiko yang justru sering tak tahu risiko alami dan psikologi sosial manusi (The FED, the inside story of the World’s Most Powerful Financial Institution Drive the Market, 2006). Hal yang kurang disadari oleh ekonom dan pebisnis tentang adanya “the art of principle based of the natural risk” yaitu intervensi “Hands of God atau Invisible Hands” yang akan selalu mengendalikan perilaku setiap mahluk manusia dan alam untuk hidup sinergis dan harmonis dalam ruang dan waktu agar jangan berlebihan untuk meraih untung besar tanpa kendali dan tanpa nilai sosial dan lingkungan serta rakus, egois, menipu dan lupa diri dengan segala trik kurang terpuji. Jadi memang Tuhan dan alam bekerja sama untuk mengendalikan ulah manusia yang overdosis dengan berbagai busa layaknya busa di mulut peminum miras beracun, pestisida dan drugs yang berlebihan.
Jadi memang kondisi bursa saham telah melewati ambang batas untu terkoreksi secara alami. Makin tinggi dan cepat anda mendaki gunung dan udara atau ke dalam air maka ada kendala alami yang akan menghentikan kita sebagai batas kemampuan diri manusia (self carrying capacity). Tetapi biasanya manusia yang telah lupa diri, tak pernah puas, serakah dan egois untuk terus menjadi kaya raya, terkenal dan berprestasi, sehingga mereka akan terus berupaya naik ”at any cost” yang menurut George Soros sebagai ”self reinforcing (penguatan diri)” secara berulang kali, tetapi apa daya bahwa bukannya mereka sukses naik, tetapi malah gagal dan jatuh dengan membawa korban materi, waktu dan aset yang menguap dalam sekejap dalam bentuk free fall (jatuh bebas) oleh gaya gravitasi menuju ke bawah ke tempat dia mulai naik atau kata pepatah ”bagai pungguk merindukan bulan, apa daya tangan tak sampai”.
Memang benar bursa saham harus diturunkan secara alami sehingga aset dan kekayaan manusia kembali menurun kembali pada saat naik yaitu tahun 1993, dengan pengorbanan waktu 15 tahun, dana USD 45 Trilyun menguap di seluruh dunia, korban perusahaan yang rugi besar, beralih fungsi, diakuisisi serta bangkrut secara memprihatikan. Inilah hukum The Law of Deminishing Return yang banyak diadopsi bidang pertanian dan ekonomi (dalam teori saja), dan hukum kekebalan tubuh (immun) dan overdosis dalam pemenuhan kebutuhan tubuh manusia. Marilah kita hidup secara sehat, tahu diri, kendali diri, puas diri, harmonis dan sinergis dengan Hukum Tuhan, Hukum Alam, Hukum Dunia, Hukum Negara dan Hukum Adat dimanapun kita berada ! Jadi manusia diajarkan melalui Firman Tuhan dan Hukum Alam untuk hidup sejahtera dan bahagia dalam kecukupan dan tidak berlebihan dalam hal apapun. Bahagia dalam rejeki sesuai dengan kemampuan diri sesuai Carrying Capacity Diri dan Lingkungan Alam. Resiko terbesar sebenarnya justru pada pertambahan/naik/untung/menang secara drastis dalam waktu singkat, karena jatuhnya akan lebih menyakitkan atau sesuai dengan proses jatuh bangunnya dari Soros. Jadi makin tinggi anda naik jika tidak terkelola dengan baik dan berjiwa besar serta selalu mempertahankan status quo dalam keserakahan akan membentuk sikap mental self reinforcing (penguatan diri) atau istilah biologisnya, pemaksaan diri yang berlebih seperti minum extacy, viagra, narkoba sebagai kompensasi untuk menipu diri sendiri dan orang lain yang telah melewati batas ambang kemampuan diri atau lingkungan (carrying capacity) maka jatuhnya lebih parah.
Pesawat ruang angkasa atau pesawat terbang kalau jatuh semua penumpang bisa tewas, atau WTC dan gedung pencakar langit yang runtuh akan menimbulkan banyak korban jiwa, harta dan citra. Sedang jika menurun perlahan atau jatuh pada level tengah atau rendah tidak banyak menimbulkan korban jiwa, harta dan citra. Jadi risiko ini janganlah selalu diartikan hanya pada kerugian dan kegagalan semata, sehingga mindset pebisnis, ekonom, perbankan, sekuritas dan bursa berjangka tentang resiko itu sendiri haruslah diubah total. Kejatuhan bank kelas atas itu telah terjadi dan memberikan pelajaran pahit. Lupakan perusahaan elit Lehman Brothers Inc. Perusahaan pencipta nilai tambah (invesment banking), pencipta nilai sosial seperti AIG, Fanni Mae dan Freddi Mac pada bertumbangan. Inikah pertanda, krisis ini akan menembus pintu-pintu lainnya? Menurut kami jelas akan masuk ke pintu sektor riil dan perbankan, perhotelan, perdagangan, jasa lainnya serta pertanian, perkebunan, kehutanan dan perikanan, karena kerugian dan penyusutan harga aset yang besar menyebabkan tingkat kesejahteraan, konsumsi dan akhirnya produksi riil makin turun. Inilah awal dari resesi di sektor bisnis, dimana perbankan dan investment banking tak bisa lagi leluasa mengucurkan kredit tanpa prudential untuk mencegah potensi kerugian di kemudian hari. Otomatis tentu sektor riil tak akan mendapatkan dana segar untuk menggerakkan roda bisnis, disamping tingkat konsumsi pasti akan turun drastis. Jadi sebenarnya sektor riil sangat bergantung dan terkoneksi secara dependent dengan sektor finansil sebagai lembaga intermediasinya. Jadi kalau sektor finance mengalami kontraksi atau krisis pasti akan menyebar juga ke riil, dimana di negara maju dan new emerging, justru sebagian besar didanai oleh pasar modal dan pasar uang (obligasi, warrant, reksadana dan valas), demikian juga jika sektor riil krisis (Industri Jepang 1991 – 2000, Properti Asia 1998, Properti USA 2007, dll), maka sektor finansil juga akan mengalami goncangan.
Bagaimana saling keterkaitan (interkoneksi) dan ketergantungan (interdependensi) antara sektor riil dan finansil dapat berjalan harmonis, tanpa turbulensi dan penuh kehati-hatian dalam mengelola bisnisnya (mikro) dan bisnis aggregatnya (makro), maka diperlukan adanya ”Economic manageable system”. Economic manageable ini adalah sikap mental dan visi bisnis yang peduli lingkungan bisnis, ekonomi dan sosial dalam persaingan ketat untuk mempunyai sikap manusiawi dalam bingkai kenegaraan dan keglobalan yang baik, bersih, jujur, tidak sikut menyikut, anti monopoli serta menang dengan cara bersih dan elegant. Sistim ini membentuk mindset pebisnis untuk mengelola bisnisnya secara baik agar dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi dan bukan merusaknya.
3). Depresi ekonomi baru.
Harap-harap cemas yang wajar memang, apalagi dgn semakin meluasnya globalisasi keuangan dan semakin dekatnya pasar modal dengan masyarakat individu, belum pernah main street sedekat ini dengan Wall Street. Index DJIA yang telah melewati angka psikologis 10.000. Kedekatan investor dengan Wall Street sebenarnya tak berbeda jauh dengan sebuah perusahaan memakai konsultan bisnis agar usahanya menjadi lebih berkembang dan menguntungkan, perusahaan melakukan strategic partner, joint venture, aliansi, merger, akuisisi, termasuk selalu dengan penguasa dan birokrasi untuk mendapatkan akses bisnis dan tender proyek pemerintah. Jadi tak ada salahnya bukan? Jadi kita tak perlu saling menyalahkan bahwa sektor riil lebih baik dari finansil yang gampang menimbulkan gejolak, tetapi dari semua gejolak ini ”pasti” akan selalu dimulai dari riil dulu baru merembet ke finansil. Baru kali ini finansil kena getahnya, itupun karena makan kredit junk bond subprime dari properti (riil). Gejolak akan selalu terlihat dari gejolak finansil meski penyebab utamanya adalah sektor riil, karena saham itu adalah wajah depan (etalase) dari emiteen sektor riil di bursa saham. Dan harus diingat bahwa setiap gejolak di pasar saham maupun valas, penyebab utama atau akar masalahnya adalah melemahnya pilar sektor riil sendiri dan kondisi ekonomi negara secara aggregat. Tak pernah ada gejolak besar karena perilaku sektor finansil, kecuali mungkin New Economy (dotcom), Enron (kejahatan akuntansi) dan kejahatan perbankan seperti yang telah dialami Indonesia yang memberikan kredit besar-besaran kepada anak perusahaan grupnya sendiri tanpa dasar feasiblity dan prudential yang baik, sehingga saat harus membayar, kebanyakan industri dan properti tak mampu melunasi kewajibannya (default).
Jadi tak sepantasnyalah kita selalu mengkambing-hitamkan sektor finansil dan bursa saham, karena saham adalah bagian integral dari sektor riil itu sendiri yang mencari dana di pasar saham (IPO) yang lebih murah dan tak harus default jika mesti membayar hutangnya, ya kalau merugi atau impas maupun untuk ekspansi, emiteen tidak memberi deviden kepada pemegang saham tanpa suatu vonnis yang keras dari pasar, kecuali kalau emiteen terlibat kejahatan seperti pada Enron, biaya operasional dotcom yang jor-joran, tentu pasar saham tak akan memvonis secara kejam, dramatis dan panik. Itulah demokrasi pasar finansil, jika anda hebat dan prestasi, maka harga saham akan naik meroket, tetapi jika merugi, jahat dan melemah, tentu pasar akan menurunkan harga sahamnya, sehingga menjadi benchmark bagi pengelola emiteen agar selalu profesional dan prudential. Pergerakan saham memang dapat cepat berpindah tempat mirip burung (fast movable) jika ada kondisi buruk atau gejolak, maka burung akan terbang dan berpindah dengan cepat ke lokasi lain yang nyaman dan aman, seperti ke US Dollar yang menguat sejak akhir September 2008 sebagai ”Safe Haven”, sedangkan aset sektor riil seperti aset tak bergerak pabrik, gedung kantor, elektronik, kecuali pesawat pribadi, kapal, mobil dan motor dapat bergerak cepat jika ada gempa (tsunami).
Nah tentunya sektor riil akan lambat terkena gempa, meski dialah penyebab utama terjadinya krisis, gejolak atau turbulensi. Turbulensi dari pergerakan burung, angin/udara dan air akan menyebabkan dampak buruk, sedangkan aset tak bergerak berupa tanah, pabrik, kantor, barang elektronik, manusia dan hewan pergerakannya akan lambat dalam melakukan reaksi terhadap gempa, badai maupun tsunami. Memang ada unsur kecepatan gerak sehingga bursa saham dapat menimbulkan gempa, badai dan tsunami dahsyat oleh pergerakan capital outflow dari pasar (saham anjlok) dan pelemahan nilai tukar (capital outflow) yang sangat deras akibat kepanikan pasar akan risiko kerugian, tergantung struktur bangunan dan keterkaitannya dengan unsur penyebab bencana (pondasi sektor properti, khususnya debitur subprime golongan menengah ke bawah yang rentan terhadap gejolak ekonomi).
Nah belajarlah dari ilmu lingkungan dan biologi seperti menajemen bisnis saat ini agar dalam melakukan prediksi, kesimpulan, praduga, strategi, action plan tidak rancu dalam menyikapi sebuah persoalan untuk segera melakukan emergensi plan secara cepat, tepat dan akurat untuk meredam, cepat keluar (move out fast) dan menyelesaikan sebuah persoalan agar tidak merembet secara berlarut. Yang terpenting adalah bagaimana agar investor dapat bermain dengan jujur, aman, bersih dan tidak mudah panik serta egois dan serakah ingin harga sahamnya naik terus seperti pebisnis maunya untung terus dengan memaksimalkan keuntungan tanpa menghiraukan aspek corporate social responsibility, community development dan damage of environment. Ini adalah sifat khas manusia tanpa memandang apakah sektor bisnisnya riil atau finansil, agama, ideologi, kapitalis, sosialis dan komunis, miskin atau kaya dan tidak harus dimana investor itu berada, tetapi kinerjanyalah sebagai penentu apakah sebuah pasar riil dan finansil dapat tumbuh baik sesuai perilaku sehat dan profesional.
Semestinya ekonom dan pebisnis perlu mengetahui dan menyadari kondisi ini bahwa Index Dow Jones (DJIA) berpotensi menuju ke 5.000 – 7.250 yang telah kami ketahui, termasuk Prof Smith (MIT) pada 2003 (setelah 5 tahun terbukti), dimana pada 18 Okt 2008 telah menuju7.589an dan kemungkinan besar menuju ke 2000 – 4.250 pada tengah 2009 hingga awal 2010. Hal ini berkorelasi cukup signifikan dengan terlewatinya angka psikologis IHSG. Apa salahnya investor ritel masuk ke saham, sedang industri juga dikuasai oleh kelompok tertentu. Inilah bentuk pemerataan income (demokrasi ekonomi) tanpa perlu banyak modal untuk memiliki sebagian kecil saham perusahaan terkenal. Yang harus disadari kita semua adalah seberapa profesional dan prudentkah pelaku bisnis finansil yang mengelola dana masyarakat dan risiko yang mengiringinya akan terjadi. Dan jika konsep ekonomi tradisional model Keyness dan Liberalism Freidman tentulah takkan mampu dan takkan pernah tahu dengan jelas adanya potensi risiko bisnis dan finansil yang turbulensi, karena ilmu ekonomi ”not have a device how to know the real market mechanism in dinamic populations” yang melibatkan banyak orang di seluruh dunia. Jadi makin terbuka ekonomi suatu negara maka makin rentan terhadap turbulensi yang bergelombang besar.
Tinggalkan pemeo dan mindset hanya besar di kolam ikan yang sempit, tetapi raihlah kebesaran, daya saing, keunggulan, keuntungan besar dan pertumbuhan bisnis yang sustainable di lautan luas, meski penuh tantangan, persaingan ketat dan keras, penuh gejolak dan turbulensi. Biarkan alam sendiri yang mengajar dan melatih manusia untuk lebih mandiri, kuat, sehat, maju dan berhasil. Marilah kita belajar dari alam lebih baik dan telah dibuktikan oleh banyak ilmuwan penemu berdasarkan hukum alam, seperti Newton, Einstein, Darwin, Wright & Brothers, James Watt, Thomas Alpha Edison, dll. dan bukan semata hanya permainan manipulasi dan simulasi matematis ciptaan manusia, tetapi tak mampu mengetahui dan mengendalikan gejala alam secara sehat dan harmonis. Manusia masa kini adalah penuh egoisme, keserakahan, ketidakpuas-an, konsumerisme, kerapuhan, kejenuhan, kegelisahan dan kepanikan manusia yang makin hidup dimanjakan oleh kemajuan teknologi industri dan tekologi informasi yang justru pada akhirnya akan menuju ke teknologi Biokompleks natural dan supernatural.
Mutual Fund telah membawa puluhan juta masyarakat berpartisipasi langsung maupun tidak langsung dengan pasar modal. Ironisnya para pensiunan menempatkan mimpi masa depannya juga di pasar modal dengan serangkaian produk yang memberikan kesempatan melakukan investasi dan proteksi pada saat bersamaan. Hal tersebut membuka peluang diskusi akan kembalinya malaise baru yang masuk melalui pasar modal. Malaise dan Depresi Besar, tentu tidak akan terjadi karena sebenarnya dana di saham tidak hangus benar, karena selama ini saham dalam kondisi ”Floating Profit” sebelum direalisasikan dan sekarang mengalami ”Floating Loss” tergantung investornya mau main jangka panjang atau pendek. Nanti setelah kondisi keuangan dan riil USA dan dunia membaik pada 2013, maka saham mulai bergairah dengan kedatangan dana dari valas USD dan komoditi.
Jadi duit itu bagaikan angin dan burung terbang ke tempat yang penuh makanan (subur) dan bukan penuh kekeringan dan kemiskinan. Jelas karena potensi kerugian ini akan mengarah kepada pengurangan konsumsi dan likuiditas pasar mengering dan melemah karena investment banking dan perusahaan AS akan menarik semua dananya di emerging market untuk membayar semua hutangnya dan di perbankan untuk berkonsolidasi terhadap risiko kredit macet debiturnya, mahalnya bunga pinjaman antar bank dan risiko terkena rush oleh nasabah depositornya. Jadi kondisi pasar finansil yang mengkerut akan berdampak juga pada sektor riil yang berakibat menurunnya tingkat konsumsi, tingkat produksi dan tingkat peredaran uang serta kredit usaha. Semestinya ekonom dan ahli keuangan mempunyai suatu perangkat metoda ”early warning system” sebagai pendeteksi awal gempa agar pelaku bisnis dan investor tidak panik tetapi secara perlahan (ngantri) keluar pasar. Jika panik dan berdesakan keluar pasar maka magnitude gempa akan makin besar, disamping ketinggian tingkat bangunan raksasa atau kebakaran di sebuah gedung tinggi, tentulah pasar akan panik apalagi kalau ada rumors yang menyebabkan bursa saham makin jatuh ke bawah. Short selling sering disalahkan, tetapi justru merekalah yang akan membeli saham yang telah dibuang investor panik pada harga sangat murah, meski spekulan melakukan ”naked shortselling” tetapi tanpa kondisi yang bergejolak mereka tentu tak dapat membeli kembali di harga murah. Pembuat rumors dan opinilah yang membuat pasar panik dan dimanfaatkan oleh pelaku shortselling, seperti yang juga dilakukan penadah barang atau lelang untuk menawar harga lebih murah pada saat seeorang atau perusahaan bangkrut yang barangnya dilelang untuk membayar utang.
AS dan Eropa tersedak dengan kasus AIG dan Fortis yang notabene cukup kuat di sektor asuransi. Belum terdengar dari Asia (sudah di Jepang asuransi besar yg bangkrut karena beli subprime), gejala epidemik mulai sayup-sayup terdengar. Menurut kami jelas mereka kuat dan hebat tetapi misalokasi dana portfolio yang sebagian besar justru pada subprime (debitur menengah ke bawah) yang rentan terhadap gejolak ekonomi dengan manajemen risikonya yang kurang tepat, akurat dan sigap dalam menganalisis dinamika data dan memprediksi terhadap gejala ekonomi konjungtur yang mungkin akan terjadi.
Paul Krugman berpesan setelah Mexico dan krisis berkepanjangan di Argentina, Asia 1977 dan stagnasi ekonomi Jepang, saat ini krisis di AS dgn efek bola salju sub-prime yang belum terlihat berkesudahan telah membuka lagi pertanyaan yang sudah lama ditutup. Inikah tanda-tanda dari awal depresi ekonomi baru? Histoire est repete? Belum satupun pakar yang bisa dengan tegas menjawabnya.
Menurut kami, ini hanyalah deflasi akibat tingginya tekanan inflasi yang memuncak dengan cepat akibat perpindahan dana investasi di bursa saham ke komoditas yang bermain di bursa minyak, tambang dan pertanian setelah krisis subprime yang merontokkan bursa AS dan dunia dan pelemahan ekonomi AS sejak awal 2001 atau mirip setelah memuai sangat panas lavanya akan membentuk lahar dingin dan akan membekukan kegiatan ekonomi. Kebekuan ini akan menyebabkan terjadinya penurunan harga secara bertahap dengan kegiatan ekonomi yang makin lesu dan melemah akibat penurunan daya beli masyarakat, belanja negara dan korporasi yang sangat minim mirip musim dingin, beku dan gelap. Kondisi ini akan menyebabkan banyak korporasi yang berguguran sebagai daun-daun yang selalu tumbuh dan gugur pada setiap musim gugur (to free fall) menuju musim dingin (winter). Ya, inilah kondisi USA mirip Jepang dengan suku bunga menuju zero rate 0,25–0,50 %. Memang deflasi yang kronis, akut dan mendalam selama beberapa tahun dapat menyebabkan terjadinya ”depresi ekonomi”.
Data ekonomi AS serta Eropa pada bulan Nopember 2008 telah menunjukkan adanya deflasi yang makin banyak pada berbagai sektor perekonomian, seperti Jepang pada 1992 – 2006 yaitu butuh 15 tahun untuk pulih kembali. Demikian juga AS dan Eropa tentu akan butuh 10 – 15 tahun yaitu pada tahun 2018 – 2025. Ini tanda-tanda akan ambruknya ekonomi dunia, baik negara maju maupun miskin. Dan memang minyak mulai turun ke USD 66,27/barrel dan terus menuju 49,50 (04 Desember 2008) yang jika tembus ke USD 40,00/bareel akan menuju USD 10 – 20,00/barrel sebagai petunjuk terbentuknya kondisi ekonomi deflatoir, dimana dunia akan menuju era dingin, beku dan gelap. Ini berarti industri AS sudah menurunkan kapasitas produksinya bahkan banyak yang bangkrut dengan tingkat pengangguran tinggi serta makin banyak orang miskin.
Beginilah kejadian sebenarnya yang tidak terlihat secara kasat mata bahwa alam telah merubah wajah dunia bahkan tidak diketahui oleh ekonom, kecuali Paul Krugman tentang slow resesi secara bertahap yang kami yakini bukanlah berdasarkan perhitungan ekonomi linier tetapi intuisinya sebagai ekonom yang diberi inspirasi oleh Tuhan. Menurut bio-ritmik atau dikenal ekonom sebagai siklus ekonomi (selalu tak terdeteksi oleh ilmu ekonomi) bahwa sejak 2003 memang secara intuisi (berdimensi 3 – 4) kami sudah mencium lewat gerakan grafik mingguan saham DJIA, Nikkei, Hangseng dan FTSE teori linier berdimensi 1 tak tahu dan tak pernah me-nyadari) bahwa AS akan resesi yg diikuti oleh dunia bukan dari sektor finansil, tetapi dari sektor riil. Jadi gempa awalnya adalah subprime finansil yang ditopang oleh riil properti dengan potensi terjadinya gempa susulan sektor riil yang mungkin lebih berat, sehingga agregat resesi menjadi makin parah dari sisi finansil dan riil. Jadi memang sudah ada kerapuhan industri (IMF sudah 2 kali menyatakannya pada 2003 dan 2005), dimana akan selalu dimulai dari properti dan menyebar ke finansil. Saat terjadi trigger di finansil, maka riil yang memang sudah rapuh mulai perlahan rontok. Seandainya bukan karena kelalaian, kebodohan dan keserakahan Wall Street dengan prediksi makro dan manajemen risiko linier (khususnya Lehman dan beberapa bank investasi AS dan Eropa) maka saya yakin sektor finansil akan terakhir merasakannya yaitu setelah sektor riil resesi dengan dipicu oleh krisis properti, lalu subprime dan berimbas ke finansil dan akhirnya ke sektor riil manufaktur dan perbankan.
Ya ini kondisi yang terbalik, dimana makin diperparah oleh kepanikan di bursa saham, komoditi dan mulai rush di perbankan AS dan Eropa, dimana perbankannya sendiri turut bermain di subprime dan derivatifnya yang menyebabkan kerugian sangat besar pada perbankan dunia. Beruntung bank sentral dunia bertindak cepat dengan intervensi dan injeksi ke pasar uang dan saham, melakukan penjaminan uang nasabah (blanket guarantee) dan serta bailout ke perbankan untuk menenangkan pasar saham dan nasabah perbankan. Jadi secara insight adalah salah jika resesi ini penyebab utamanya adalah sektor finansil. Terjadinya kekacauan ekonomi ini adalah imbas dari bioritmik AS dan dunia untuk menurun setelah kenaikan yang tinggi (20 %), kekalahan daya saing industri AS dari Cina, India, Jepang dan negara lain (15 %), standar hidup, salary tinggi, konsumsi dan hidup mewah yang dibiayai kartu kredit dari masyarakat AS layaknya besar pasak dari tiang (15 %), blunder Bush yaitu invasi ke Irak dengan biaya perang yang besar (15 %) dan kerugian raksasa akibat krisis subprime mortgages dengan berbagai tingkatan derivatifnya (40 %).
Jadi AS memang haruslah menanggung ”beban ekonomi yang bubble” dengan penerapan menajemen risiko yang kurang baik, tepat dan akurat. Hal ini jelas terlihat dari dari defisit APBN AS oleh biaya perang Irak (current account deficit) serta inefisiensi bisnis, kekalahan produk AS di domestik oleh serbuan produk Cina, tingkat konsumsi AS yang makin besar (inter-national trade balance deficit) yang membuat AS mengalami twin deficit yang besar. Sektor riil dunia memang haruslah menurun atau terkoreksi secara alami, walaupun dimanipulasi dengan berbagai cara apapun baik makro maupun mikro. Menurut kami secara Bioeconomic ini adalah bioritmik yang ”harus dialami oleh AS dan dunia” untuk kembali menurun ke bawah setelah ekonomi dunia menanjak terus sejak 1945, apapun alasan dan penyebabnya. Jelas terlihat disini adanya siklus dan gelombang besar perjalanan waktu dari aktivitas manusia yang dipengaruhi oleh hukum Alam yaitu gaya gravitasi sebagai ”Invisible Hand” yang menarik turun semua aktivitas dunia. Makin kuat kita menahannya dan tetap berusaha untuk terus naik (self reinforcing), maka alam justru akan makin kuat menekan manusia untuk turun mirip free fall, snow balling dan domino effect. Sifat linier dan fisik dari ilmu ekonomi berdimendi 1 akan selalu dipengaruhi oleh pengaruh hukum alam(biologis) berdimensi 2 – 4 yang lebih dominan dan berkuasa. Jadi krisis, resesi, deflasi maupun depresi yang akan datang tidak akan mampu ditangani hanya dari sisi ilmu ekonomi mikro, ekonomi makro (fiskal) dan moneter (interest rate) semata.
Ini adalah gejala alami untuk menyadarkan manusia agar dekat dan harmonislah dengan sesama manusianya, alam dan Tuhan Pencipta, bukanlah merusak tetapi bersinergi demi kelangsungan manusia dan alam itu sendiri, khususnya terhadap bahaya nyata ”Global Warming and Pollutions”. Jadi bersifat preventif (pencegahan) agar manusia tidak jatuh dalam berbagai krisis ekonomi, sosial, politik dan lingkungan hiduplah yang membuat hidup manusia di bumi ini menjadi lebih baik, bahagia, langgeng, aman dan nyaman tanpa perlu ada berbagai krisis yang justru membuat manusia harus mengulang kembali dari titik dimana manusia mendaki ke gunung pengharapan, cita-cita serta sedikit keserakahan dengan pengendalian diri yang baik agar manusia ini dapat hidup harmonis dan sinergi dengan sesama manusia dan lingkungan alamnya agar tidak ada lagi, paling tidak meminimalisir efek krisis, resesi dan bencana ekonomi, sosial dan alam yang lebih besar di masa yang akan datang bagi 100 generasi - generasi kita selanjutnya.
Naskah asli oleh: Edmond Ferdinand L. (my fellow economist)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar