Bagian Kedua) IMPLIKASI TSUNAMI FINANSIAL. LEHMAN, Mana Manajemen Resiko?

(From : Mas Dano Ismail,To : Nurul Candrasari Masykuri
 Tuesday, March 23, 2010 at 9:37pm

*MANAJEMEN RISIKO. Semua orang mengakui bahwa AS merupakan suhu manajemen risiko industri perbankan dan asuransi. Tetapi tsunami finansil yang terus mencuat dari bank komersil, bank investasi dan asuransi yang menimbulkan pertanyaan nakal: DIMANA PERAN UTAMA MANAJEMEN RESIKO?

Tanggapan terhadap tulisan PAUL SUTARYONO (Asistant VP BNI Divisi Internasional): LEHMAN, Mana Manajemen Risikonya? di Koran KONTAN (OKTOBER 2008).

Ada beberapa fungsi manajemen risiko:

1). Manajemen risiko mampu memberikan informasi dan perspektif kepada manajemen ttg semua profil risiko, perubahan mendasar mengenai produk dan pasar, lingkungan bisnis dan perubahan yang diperlukan dalam proses manajemen risiko. Menurut kami ini adalah proses ”validasi dan analisis data yang akurat dan tepat” artinya apakah benar ilmu manajemen risiko yang diterapkan sudah mampu menjawab dengan tepat semua gejala symptom risiko yang akan terjadi di pasar. Karena sebagaimana diketahui bahwa Alan Greenspan sendiri menyadari bahwa analisis risiko yang ada sekarang tak akan pernah menemukan model dan analisis untuk mengantisipasi terjadinya risiko, kapan dan besarnya magnitude risiko. Karena ilmu ekonomi dan moneter saat ini sudah tak mampu memprediksikan ketepatan parameter makro ekonomi, seperti growth rate, risk rate, interest rate, inflation rate, dan beberapa rate lainnya dalam time series dan perubahan lingkungan bisnis dan ekonomi. Itulah sebabnya ekonomi yang penuh dengan asumsi serta perhitungan linier matematis yang rumit tak mampu lagi memprediksi secara tepat besaran dan waktu perubahan parameter makro ekonomi. Lha gimana mau melakukan suatu perencanaan secara tepat dan benar jika hanya merevisi berbagai asumsi makro ekonomi, dimana asumsi itu belum tentu benar pula. Ini tentu akan membuat laju pembangunan ekonomi dan bisnis juga irreversible dan tidak mulus sehingga turut memacu timbulnya gejolak ketidakpercayaan akibat ”salah prediksi” dengan salah satu akibatnya yaitu tidak dapat mengantisipasi munculnya risiko sistemik, khususnya risiko subprime mortgages di pasar domestik AS maupun diseluruh dunia yang telah saling terkait erat.

2). Manajemen risiko mampu menyampaikan isu sentral tentang formulasi kebijakan manajemen risiko dan riviewnya. Seperti hal di atas, bagaimana manajemen dapat menentukan formula kebijakan dengan tidak tepat dan akuratnya prediksi, sehingga akan terjadi revisionis dan pola trial and error yang tidak efisien dan efektif dalam perencanaan strategi bisnis untuk investasi pada berbagai sektor, dimana Lehman Inc. juga tak mampu memprediksi akan kerentanan debitur subprime dan pelemahan ekonomi AS secara mendasar dan struktural sejak 2001 akibat persaingan dengan produk Cina dan Jepang di pasar domestiknya. Hal yang sama juga terjadi pada team ekonomi dalam memacu laju ekonomi negara dan bisnis swasta secara tepat sasaran seperti yang telah ditetapkan dalam RAPBN setiap tahunnya. Hal ini tentu membuat progress bisnis dan ekonomi mengalami distorsi secara random dan menghasilkan kalkulasi bisnis mikro dan makro yang tidak tepat yang mengacu pada asumsi makro ekonomi. Dengan demikian tidak dapat diharapkan bahwa model manajemen risiko saat ini dapat memberikan isu sentral dan fokusing untuk memformulasi kebijakan manajemen risiko dan rivewnya secara benar pada kondisi makro dan mikro yang turbulensis dan penuh persaingan ketat.

3). Manajemen risiko mampu menghitung dan mengukur besarnya risk exposure.
Kalaupun manajemen risiko yang ada mampu menghitung tetapi tidak akan kena sasaran hitungan secara tepat dan dapat mengikuti alunan kecepatan kegiatan ekonomi bisnis, dimana pada suatu saat terjadi risiko kegagalan (fatique mesin pesawat) akan tak terdeteksi dengan baik untuk segera diantisipasi dengan metode ”early warning system” agar dapat mengurangi risiko kerugian yang lebih besar, akibat adanya turbulensi global.

4). Manajemen risiko mampu menetapkan alokasi sumber-2 dana sekaligus batas risiko dengan lebih tepat. Menurut kami boleh saja, karena manajemen risiko dapat dengan baik membagi risiko secara tepat dengan alokasi dana pada berbagai instrumen investasi. Tetapi jika manajemen risiko model asuransi untuk dipakai meredam/menghilangkan risiko dengan derivatif ”Credit Default Swap” tentunya akan selalu menimbulkan risiko sistemik jika terjadi suatu kegagalan (default) pada sistim besarnya seperti sub-prime, dimana credit risk malah diderivatif lagi, ya malah makin membuat risiko makin besar meski menurut perhitungan finansil ekonometrik dapat disebar tetapi justru memberikan efek gempa yang makin besar akibat saling terkait dan membentuk sebuah konstruksi bangunan raksasa yang rapuh terhadap goncangan external pada kelompok pondasinya yaitu debitur golongan menengah ke bawah yang rapuh terhadap gejolak makro ekonomi. Inilah suatu kesalahan terbesar dari manajemen resiko bahwa untuk memperkecil risiko adalah dengan membagi dan menyebar risiko utk ditanggung bersama menjadi tidak berat, seperti model asuransi. Ya memang benar tak terasa, tetapi jika ada kegagalan pada basement dan pilarnya maka secara perlahan akan memberikan efek ”WTC disaster yang atas dan tengahnya panas membara seperti saham dan perbankan” sehingga dalam waktu cepat bangunan raksasa subprime serta pelaku raksasa perbankan, investment banking serta asuransi yang raksasa itu bagaikan sebuah bongkahan bukit tanah yang longsor ke bawah akibat gaya gravitasi dan juga menimbulkan korban dibawahnya seperti negara kecil dan sektor riil yang memang sudah harus turun secara perlahan sesuai bioritmik atau siklus decadenya. So, ”we don’t fight the Natural Law!” Itu sudah saya kawatirkan sejak Gubernur FED, Alan Greenspan melakukan cut rate secara agresif dari 5,75 % (2001) menuju 1,0 % (2003) bahwa akan ada efek suku bunga rendah terhadap kegiatan bisnis, khususnya properti yang akan memakan kredit secara membabi buta tanpa mau tahu risiko masa depannya yang sekaligus diderivatif berjenjang (10 tingkat) oleh invesment banking dan asuransi. Tetapi itulah salah satu alasan dari Tuhan untuk mengempiskan gelembung ekonomi AS dan dunia untuk kembali ke dasar agar manusia tidak agresif bertumbuh secara irrasional. Lalu akan timbul suatu reaksi berantai dengan tumbukan berkecepatan tinggi sehingga membentuk suatu ledakan bom atom ke segala penjuru dan memakan korban yang sangat banyak pada berbagai lini dan wilayah disekitarnya atau mirip kasus ”tsunami NAD,” rontoknya sebuah bangunan tua telah dipasangi berbagai detonator pada pilar-pilar utamanya dan diledakkan secara serentak akan cepat runtuh atau sebuah massa tanah dengan lereng terjal yang gundul tanpa pepohonan pengikat tanah akan mudah runtuh atau longsor oleh kejenuhan massa air yang dengan gaya gravitasi (bobot) akan runtuh dan ambruk serta memakan korban banyak. Makanya bukan saja kita harus melakukan konservasi tanah sebagai tempat kultur pertanian, tetapi juga konservasi finansil yang baik di bisnis saham, obligasi, valas, komoditi maupun riil.

5). Manajemen risiko juga mampu menghindari konsentrasi portfolio berlebihan.
Hal ini cukup baik, tetapi belum mengenal secara tepat intrinsik dari setiap porfolio, bagaimana kinerjanya dalam ruang dan waktu (time series), tergantung perkembangan dan kemajuan serta risiko yang mungkin ada dan terjadi dari setiap portfolio yang akan diinvestasikan. Ya jelas jangan menaruh sebagian besar telur (dana) pada satu keranjang yaitu subprime mortgages. Jadi mesti dipilih basket portfolio dengan risiko terendahnya menurut alunan bio-ritmik waktu bulanan (monthly) dan tahunan (yearly) dan bukannya berdasarkan perhitungan matematis dan statistik linier yang sering salah dan tidak akurat dalam melakukan prediksi terhadap adanya risiko sistemik dan risiko gejolak externalnya.

6). Manajemen risiko mampu membuat cadangan yang memadai untuk mengantisipasi risiko yang sudah diukur dan dihitung.
Kami pikir tak terlalu bermanfaat, karena dengan mengetahui risiko dari naik turunnya kondisi bisnis, kita dapat secara tepat dan cepat melakukan ”strategy in and out” secara efektif dan efisien. Jika pasar bullish dan prospektif, kita dapat melakukan strategy in secara efektif dan jika pasar bearish dan turbulencies, kita dapat menghindar secara efisien terhadap potensi risiko kerugian yang ada. Inilah yang menjadi masalah karena tak mampu memprediksi secara tepat waktu dan benar, disamping faktor confidence terhadap strategi meredam risiko model derivatif yang justru tidak tepat dan berdampak buruk. Cadangan memang perlu tetapi jangan berlebihan sebab akan ada waste tanpa value added yang tinggi. Cadangan diperlukan utk menutupi kemungkinan risiko yang akan timbul di masa depan. Untuk itu perlunya ada penyeselarasan dengan perhitungan risiko pada point 5 di atas.

7) manajemen risiko mampu menghindari potensi kerugian yg relatif lebih besar.
Kita tak mengetahui apa yang dilakukan oleh unit manajemen risiko dan waktu setahun bukanlah waktu yang pendek untuk melakukan berbagai usaha preventif dalam menangani potensi risiko di depan mata. Menurut kami Lehman terlalu percaya diri dengan manajemen risiko dari derivatifnya untuk menghilangkan risiko model asuransi dimana semua pemegang polis akan menanggung risiko yang mungkin terjadi pada sebagian atau individu anggota pemegang polisnya yang jelas tak berkaitan erat dengan risiko sistemik bangunan derivatif bertingkat 10. Akhirnya sang pemegang investasi subprime dan derivatif-derivatifnya yang harus menanggung risiko kerugian dan bukan semua pemegang polisnya, ini adalah kesalahan metoda yang fatal akibatnya. Mungkin juga Lehman terlambat serta salah dalam perhitungan kemungkinan skenario terburuk (pesimistis skenario). Lehman menderita risiko likuiditas (liquidity risk) dan risiko pasar (market risk). Jelas dalam bentuk penarikan dana secara rush, sehingga terjadi kekeringan likuiditas serta risiko pasar yang bergejolak atas kepanikan investor serta kerugian atas nilai sahamnya di stock market yang anjlok drastis untuk dijual demi menutupi kerugian di subprime. Hal inilah yang menyebabkan Lehman tidak mampu memenuhi kewajibannya (gagal bayar dan komplain kerugian nasabah) yang kemudian merambah keseluruh lini bisnis Lehman. Juga risiko konsentrasi karena sebagian besar portfolio berada dalam satu keranjang yaitu subprime mortgage. Betul jangan taruh telur dalam satu keranjang.

* Hikmah dari Musibah:

Belajar dari kisruh ini, perbankan nasional kita bisa memetik beberapa hal tentang manajemen risiko. Jangan pernah mengira bahwa manajemen risiko hanya berhenti pada ujian sertifikasi manajemen risiko yang kini sedang musim semi. Menurut kami, ijasah/sertifikat dan ilmu hanyalah penopang 10 – 20 % saja dari keberhasilan seseorang. Ini adalah mindset yang salah kaprah bahwa keberhasilan seseorang hanyalah ditinjau dari tingkat pendidikan formal via intelligent quotient (IQ) dan belum menyentuh EQ (emotional quotient) dan SQ (spritual quotient) yang justru memegang peranan penting bagi karier, prestasi dan pengendalian diri serta risiko hidup dan bisnis yang benar. Mari kita belajar hidup dengan memanfaatkan ilmu biologi untuk ekonomi dan bisnis dalam bentuk bio-economic, bio-manajemen, bio-risk, bio-natural serta bio-dinamic dari sebuah pasar dunia yang terintegrasi tetapi penuh dengan risiko turbulensi dan gejolak kepanikan pasar. Ilmu bio-bio di atas adalah bersifat preventif (pencegahan) dalam berbagai aspek kehidupan, sehingga manusia dalam setiap aktivitasnya termasuk berbisnis dapat selalu dengan mudah menghindari risiko alami (natural) dan sistemik yang dibuat manusia sendiri (fisik). Dengan mengenal alunan bioritmik aktivitas manusia, maka kita dapat lebih mengenal aspek psikologis, mental dan kinerja manusia ekonomi, kapan akan naik dan turun, kapan akan terjadi gejolak, turbulensi, krisis dan resesi. Dengan manajemen waktu yang tepat maka kita dapat melakukan suatu presisi prediksi dengan benar. Hal ini tentunya dapat menjadi ”benchmark” dan rujukan bagi CEO dan manajemen dalam penetapan manajemen strategis, eksekusi decision making, action plan, kemana alokasi dana, kapan meminjam, besarnya pinjaman sesuai struktur permodalan, kapan ekspansi, kapan memesan bahan baku dan bahan penolong, kapan menambah produksi, perluasan pangsa pasar dan cukup familiar dengan pergerakan harga BBM, mineral dan komoditi lain yang penting bagi kegiatan industri, bisnis dan investasi agar risiko pasar, bisnis dan gejolak dapat diidentifikasi pelaku bisnis secara akurat dalam bentuk ”early warning system” yang baik dan benar yang menurut Soros ”berjalan di depan kurva” yaitu kita dapat mengambil kebijakan manajemen untuk tindakan pencegahan sebelum terjadinya gejolak, turbulensi, krisis dan resesi untuk memperkecil timbulnya risiko dan gagal bayar, bahkan dapat mengambil keuntungan dari risiko dan threat (ancaman) yang akan datang.

Krisis ekonomi juga telah menelan korban Grup Tribune yang memiliki 8 surat kabar terkemuka (Los Angeles Times) dan 23 stasiun televisi pada 8 Desember 2008 telah dengan sukarela memohon kebangkrutan sesuai Chapter 11 yang terjerat utang USD 12,97 Milyar dengan aset USD 7,6 Milyar. Menurut pemilik Tribune, Sam Zell ” Kenyataannya kita dan seluruh negara ini hanya punya sedikit kemampuan melihat kemana ekonomi berjalan dan bagaimana kinerja bisnis kita menghadapi resesi.” Disini terlihat bahwa kemampuan ilmu ekonomi & manajemen belum mampu sepenuhnya mengetahui alunan dan siklus ekonomi secara baik dan benar sehingga dapat memberikan early warning kepada pelaku bisnis untuk mengantisipasinya dalam arti ilmu ekonomi baru hanya bisa berjalan ”di belakang kurva dan bukan di depan kurva.” Jadi tentu gejolak dan risiko dari ekonomi, bisnis dan pasar tak akan mungkin dapat diketahui lebih awal ”kepastian (certainty)” akan datangnya bencana krisis dan resesi, sehingga hanya berlindung sambil menghibur diri bahwa itu adalah sebuah ”ketidakpastian (uncertainty)” yang tak dapat dikendalikan atau dikelola dengan benar agar kinerja bisnis dapat ”menghindari risiko.”
Manajemen risiko sebenarnya berjalan seiring dengan bisnis yang terus bergulir tiada henti dengan berbagai turunannya. Manajemen risiko perlu memasukkan unsur waktu, psikologi pasar dan dinamika bisnis yang selalu berkembang dan mempunyai alunan fluktuasi sesuai karakter bisnisnya ke dalam perhitungan risikonya dalam bentuk matematis dimensi 2 – 3. Rumusnya kian banyak turunan bisnis perbankan yang muncul akan kian banyak pula variasi potensi risiko yang lahir. Menurut kami ini benar, karena selain adanya kompleksitas pengelolaan juga akan saling berinteraksi menurut jaringan derivatifnya. Ilmu ekonomi, manajemen, industri, khususnya finansil dan akunting harus banyak belajar tentang ilmu genetik, karena banyak menderivatif (menurunkan) berbagai produk bisnis untuk dikelola secara profesional dan mendunia. Tentunya harus mengetahui ”state of the art” dari benang merah jaringannya secara benar, akurat dan baik menurut hukum Mendel serta aspek biologi, bio-kimia dan bio-fisikanya karena akan selalu berinteraksi menurut jaringan dan sistimnya serta manusia sebagai mahluk biologis yang juga mengandung unsur-unsur bio-kimia dan bio-fisika. Belum lagi lintas risiko variasi yang diderivatifkan. Risiko ini tidak dapat dicegah. Menurut kami bisa saja asal dengan mengetahui sifat khas dan dinamikanya sehingga kita dapat mengetahui dengan jelas alunan fluktuasi bioritmik dan dapat keluar masuk secara aman dengan risiko kurang dari 10 %, dimana kita dapat mengetahui dengan tepat kapan akan naik, kapan akan turun, kapan akan self reinforcing (dimulai disini pelaku pasar tak perlu tamak dan memaksakan diri untuk meraih keuntungan pada sekitar puncak pertumbuhannya) dan kapan akan catastroph (juga pelaku pasar dengan tertib tanpa perlu panik dan berdesakan (crowded) ingin keluar pasar secara berhamburan yang dapat menyebabkan kepanikan dan korban banyak yang tidak perlu terjadi, jadi pelaku pasar akan dewasa dan dapat menahan diri dari ketamakan berlebihan, mirip balapan MotoGP dan F1 kalau sudah dekat tikungan atau puncaknya, harus memakai rem pakem agar tidak tergelincir keluar lintasan. Prediksi dan arahan untuk ”buy on strength or strong short selling” seringkali dibuat secara bergairah dan serakah tanpa mengetahui secara jelas arah dan trend secara benar dan akurat. BI wajib mempelajari produk-2 itu dengan cermat sehingga tidak kebakaran jenggot kelak di kemudian hari. Seringkali kita termasuk BI selalu terlambat mengantisipasi problem yang ada, apalagi untuk mencegahnya secara tepat dengan early warning system. Kasus terbaru yaitu bangkrutnya Bank Century pada tengah Nopember 2008, dimana laporan bulan September dan Oktober 2008, CAR masih 14,5 %, tetapi saat kalah kliring pada tengah Nopember, setelah ditelisik BI, ternyata CAR telah – 2,3 % dengan loss sekitar Rp. 1,5 Trilyun yang harus di bailout JPS sebesar Rp. 2 Trilyun, belum lagi kerugian nasabah yang tertipu dengan produk derivatif fiktif. Hal yang sama juga terjadi pada sebuah BPR di Lampung yang telah merugikan nasabahnya sebesar Rp.1,0 Trilyun. Sehingga kita hanya paling banter problem solving seperti bailout atau pengawasan ketat setelah mengalami risiko kerugian, salah penempatan investasi dan banyaknya korban penipuan. Jika pelaku pasar sudah dewasa dan dapat mengendalikan diri secara baik sesuai hati nuraninya dan tak perlu berspekulasi tanpa kehati-hatian, tentulah bencana kepanikan dan bencana risiko dapat diminimalisir secara sistimatis dan terencana secara baik dalam jangka panjang. Hal ini tentu dapat mengurangi sering terjadinya krisis, resesi, depresi, kejatuhan bursa, paling tidak kita dapat memperpanjang waktu terjadinya dengan selalu menumbuhkan kegiatan ekonomi riil dan finansil secara sehat jasmani dan rohani tanpa perlu banyak asupan kolesterol, miras, viagra serta ecstacy secara overdosis, agar kehidupan ekonomi individu, perusahaan, negara dan dunia menjadi lebih sehat dan langgeng. Bank nasional wajib melakukan edukasi kepada nasabah. Bukan hanya manfaat atau keuntungan yang perlu disampaikan kepada nasabah tapi juga potensi risikonya. Jelas jika kita ingin untung dan menang besar, kita juga patut menghadapi risiko rugi besar (High Return High Risk), dimana justru bank dan pelaku sekuritas, seringkali juga tak menyadari risiko yang mungkin timbul, misalnya gempa bumi, tsunami dan badai. Tentulah AS sebagai Suhu Manajemen Risiko Dunia, tentunya tsunami finansil tak pernah terduga dan masuk dalam perhitungan ekonomis liniernya. Inilah perwujudan tata kelola perusahaan yang baik. Transparansi. Alhasil nasabah mampu memahami madu dan racun suatu produk. Risk exposure. Good corporate governance memang diperlukan agar perusahaan tidak mengalami potensi risiko, kegagalan dan kebangkrutan, tetapi tetap dapat eksis, profitable dan berekspansi secara sehat untuk bertumbuh menjadi lebih besar dan maju. Transparansi memang perlu untuk membuka semua kondisi kesehatan, kemajuan progress serta company profil bagi stakeholder, stockholder dan calon nasabah untuk mencegah moral hazard sekaligus referensi bagi mereka untuk memberi dukungan finansil dan investasi. Tetapi sekali lagi bahwa jika perusahaan tidak dapat mengenal dan mencegah terjadinya suatu risiko kerugian, gagal bayar, moral hazard, unprudential dan kalah bersaing, maka risiko operasional dan sistemik dapat terjadi tanpa disadari oleh CEO dan manajemen apalagi bagi nasabahnya yang awam dan hanya terbius angin surga promosi yang memikat hati. Sehingga nasabah seringkali terkecoh dan tak mengenal madu dan racun dari produk finansil yang ditawarkan perbankan, sekuritas, investment banking dan hedge fund. Dan satu lagi yang penting bahwa manajemen perlu mempunyai satu FILTER yang andal untuk menetapkan dan menilai data survei, empiris dan kalkulasi matematis apakah data yang masuk sudah benar-benar valid atau perlu direvisi ulang, sehingga mulai dari analis data ekonomi mikro, makro, finansil, akunting yang memakai dan menganalisis data untuk diteruskan kepada manajemen dan CEO telah benar-benar akurat dan valid agar dapat dilakukan penilaian dan desicion making yang andal dalam perencanaan strategis, jumlah alokasi dana dan portofolio investasi yang lebih prospektif dan kecil tingkat risikonya.

Yang belum disadari oleh ekonom termasuk pebisnis adalah selalu asyik dan terlena dengan ”keandalan perhitungan finansil matematis linier berdimensi 1,” sedangkan sifat pertumbuhan, nilai harapan serta banyak aspek psikologis manusia yang berdimensi 2 - 3 - 4 diabaikan oleh manajemen finansil dan risiko, dan mungkin baru manajemen pemasaran yang memasukkan aspek psikografis dan spritual marketing untuk mengenal secara lebih detil dan akurat tentang kondisi needs and wants pelanggan, perubahan dan dinamika pasar, kondisi psiko-sosial terhadap pasar dan teori lingkungan hidup pasarnya.

Naskah asli oleh: Edmond Ferdinad L., (my fellow economist)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NURUL CANDRASARI RADIO

Browser not supported