by Nurul Candrasari Masykuri
Friday, April 9, 2010 at 7:51am
Dear : Indonesia Negeriku,
Dalam heningku kurenungkan dimanakah aku ini ??
negeri apakah ini , rasanya begitu asing, dan sungguh sedih melihatnya
aku hanya salah seorang dari duaratus juta jiwa RAKYAT BIASA
disini aku terlahir, disini ibu pertiwi menyatakan bahwa aku salah seorang anak negerinya
Kutelusuri sepanjang perjalanan pulangku tanah yang terhampar luas menghijau
tampak kaya raya negeri ini... seharusnya hasil bumi melimpah ruah..tapi mengapa beraspun ternyata masih lebih baik dari NEGERI TETANGGAKU SAKURA atau Negeri lainnya???
sedangkan negeri tetangga tak sehijau dan seluas negeriku..???
Aku tetap termenung menatap hijaumu
Di negeri aku terlahir ini aku sebagai rakyat biasa telah menunaikan kewajibanku
menunaikan berbagai aturan main negeri termasuk pajak'..
disini aku menunaikan kewajiban ku , ternyata
pajak yang telah telah ku bayar, tagihan LISTRIK , Air Kubayar, Telepon juga Kubayar,
dan kewajiban lainnya telah kupatuhi...
Bahkan untuk mendapatkan tanda pengenal di negeri ini juga harus membayar walau tertulis GRATIS......
Sejenak tetap kuterpana dan berkecamuk segenap pertanyaan klasik
sesungguhnya KEPADA dan untuk SIAPA aku membayar ????
apakah ini untuk alasan membangun negeriku ini????
apakah kewajiban dalam negara ini kita terus membayar ?
tanpa tahu untuk apa digunakan uang keringat ku itu ??
Lalu apakah ada penjelasan untuk kami yang telah memenuhi kewajiban kami membayar pajak dan tetek bengek yang selalu membayar dan membayar bahkan andai telat membayar kami dikenakan sanksi ....??? bahkan untuk soal Listirk pernah tanpa bertanya ketika terlambat membayar dengan sesuka hati dicabut' ..dengan alasan dari petugas... ini peraturan yang sudah tertulis..dan kami sebagai Rakyat Kecil dibungkam oleh aturan yang menyiksa...
Slogan yang ditayangkan dengan isi pesan kurang lebih :
WARGA NEGARA YANG BAIK MEMBAYAR PAJAK DENGAN TAAT & TEPAT"
dimana kata baik itu bila akhirnya hanya untuk mensubsidi para penguasa ?????
Karena ternyata uang keringat kami hanya kenyataan yang menyakitkan faktanya :
Ketika pajak yang aku bayar dari setiap tetes keringatku , ternyata hanya untuk tabungan para penguasa di negeri ini.... untuk mensubsidi mereka membeli mobil mewah sedangkan aku berjalan kaki dan dari angkot ke angkot dari satu terminal ke terminal lainnya...
dan uang keringatku hanya untuk membelikan simpanan apartemen dan rumah mewah mereka sedangkan gubug reotku sudah akan tumbang dan rubuh, dimana setiap hujan kebocoran tetes demi tetes membasahi selimut tidur malam keluargaku...dan ketika kuterbangun masih ada tagihan listrik yang tertunda karena uang gajiku yang tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kami sehari-hari....
Betapa kejamnya ternyata setiap tetes keringatku uang keringatku ternyata ditabung para penguasa untuk menambah tabungan hari depan mereka bahkan untuk tujuh turunan...
Dimanakah Hati nuran mereka??? Terbuat dari apakah Hati Nurani mereka???
Dan selalu yang disodorkan kepada kami Rakyat jelata sebuah kertas yang bertuliskan janji politik para politisi dengan berjualan politik di secarik kertas berisikan sebuah janji :
"PERCAYALAH KAMI AKAN MERAWAT NEGERI INI DAN NEGERI INI AKAN KITA BANGUN"
Dan janji yang telah kalian ucapkandan tertulis dalam flyer kampanye sampai detik ini kami tak menerimanya..sedangkan ketika Pemilu kami diwajibkan memilih kalian... bahkan kalian untuk dapat duduk rela membeli dan membayar tunai dengan harga beli yang murah ..karena kalian tau kami terhimpit selembar rupaih mulai dari harga 10 ribu s/d 50 rb dapat membeli kami untuk melanggengkan singasan kalian di negeri ini
lalu kami dituntun dan di beri pencerahan agar menjadi warga negara yang patuh dan santun...
apakah kesantunan dan kepatuhan hanya untuk kami kaum jelata???
Kini yang tertinggal di sudut bingkai hatiku dan aku terus menangis karena hendak menggantikan sepasang sepatu anakku saja masih harus menabung dan aku merasa TERASING DI NEGERI MERDEKA !!!!!!!!!!!
ATAU AKUKAH YANG SALAH TELAH MEMBAYAR ???
By : Nurul Candrasari Masykuri



Tidak ada komentar:
Posting Komentar