PUISI I : PERLAWANAN TIADA AKHIR From: Herry Kariandi,& PUISI II, AKU TETAP TEGAR by : Nurul Candrasari Masykuri

 Wednesday, April 28, 2010 at 1:18am
PERLAWANAN TIADA AKHIR
From my sweet brother : Herry Kariandi to Nurul Candrasari Masykuri


Aku adalah musuh para koruptor,
aku adalah musuh kaum kapitalis yg tidak peduli terhadap pekerja,
aku akan tetap menjadi musuhmu wahai penindas kaum lemah,
bunuhlah aku, penjarakan aku, cungkil biji mataku, bungkam mulutku, ikat tanganku, aku tak akan melawan
karena perlawananku adalah dengan kasih, dan cinta ku pada si miskin

Aku tak punya senjata, senjataku buku, senjataku nurani, senjataku kerja keras,
senjataku cinta kasih, senjataku pengabdian, senjataku adalah pemogokkan,
senjataku adalah pencerahan, senjataku tulisan, senjataku sajak

Kejujuran adalah lidahku, cinta kasih adalah hatiku,
tanggung jawab adalah bahuku, pekerja keras adalah tanganku,
membantu si miskin yg teraniaya dan tertindas adalah tugasku,
menuntut ilmu dan berbagi ilmu demi kebaikan adalah mataku, serakah dan sombong adalah musuhku
(by : Herry Kariandi)



AKU TETAP TEGAR
(by : Nurul Candrasari Masykuri)

AKusudah tak memiliki lagi air mata yang tersisa untuk hari ini dan hari esokku
bahkan lilinkpun hanya tinggal setengah batang lagi, aku tak memiliki apapun
bahkan beras untuk anakku esok pagi aku masih mencarinya, aku sudah tak memiliki apapun,

Anakku andai esok kau terbangun dan masih dalam laparmu,
aku sungguh tak dapat memejamkan mataku karena kumenahan laparku
aku tak memiliki apapun bahkan aku tak memiliki sebuah mimpi apapun

Aku hanya memiliki sebuah doa untuk setiap pagi, adakah pelangi yang akan kau kirimkan
bahkan aku sudahtak memiliki senyuman karena aku masih takut untuk terbangun dari tidurku
bahkan aku tak tahu lagi usaha apalagi untuk esok pagi, karena aku selalu hanya mendapatkan
sejuta caci dan maki karena aku miskin, namun aku bukan pengemis

Dan aku sungguh menyaksikan mengapa masih saja kulihat manusia-manusia dengan mobil mewah
namun itu adalah dari pajakku yang kau peras lewat keringat dinginku,
aku tak memahami mengapa begitu tega hatimu lewat tanpa kau pedulikan aku disisimu
dan aku cukup berdecak kagum dengan warna warni kostummu serta wewangian yg menyengat

Aku sungguh kagum dengan ketidak pedulian kalian yang telah melupakan kami
bahkan tak hanya melupakan, bahkan menganggap tiada lagi orang miskin di bumi pertiwi ini
sedangkan aku memang bukan pengemis, walau aku miskin dan tak memiliki apapun
dan aku masih nampak tegar dengan kemiskinanku, dan aku bukan pengemis...

Walau demikian aku masih dapat menyumbang untuk kalian orang-orang kaya,
lewat pajak yang kau pinta setiap tahunnya, dan aku adalah warganegara miskin yang taat
aku hanya merasa betapa tega hatimu melakukan penindasan ini,
namun demikian aku tetap tegar dan masih kumiliki sebuah semangat untuk membantu kaumku
(by : Nurul Canderasari Masykuri)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NURUL CANDRASARI RADIO

Browser not supported