Ali bin abi Thalib , dalam kitab Nahl Balaghah, mengatakan :
Kelompok pertama, orang beribadah karena menghendaki keuntungan, itu ibadah pedagang.
Kelompok kedua, orang beribadah karena takut siksa, itu ibadah budak.
Kelompok ketiga, orang yang beribadah hanya karena bersyukur kepada-Nya,
itulah ibadah orang merdeka.
Pencapaian Puasa Batin memberikan signal kepada umat Islam agar melakukan ibadah dengan penuh ketulusan. Salah satu rukun Islam yang hendak ditunaikan dalam rangka penyucian diri, memperkaya spiritualitas;bukan karena beban agama, apalagi menganggapnya tradisi yang mengungkung. Ketulusan menyadarkan manusia dalam menelanjangi kelemahan diri masing-masing. Berangkat dari kelemahan diri , manusia selayaknya mencoba berproses menuju pembenahan dan perbaikan diri. Dengan demikian, setiap menjalani puasa, manusia seharusnya berusaha melaksanakan perubahan transformatif yang mengantar ke dalam kehidupan lebih berarti, bukan hanya bagi diri sendiri tetapi semua manusia.
Ironisnya , puasa yang secara ritual dijalani justru dapat dikatakan tampaknya absen dari nilai ketulusan. Kita berpuasa lebih dikarenakan sesuatu selain Tuhan; semacam kenginan , misalnya, masuk surga atau demi menunjukkan tingkat keberagamaan kita kepada orang lain. Kebanyakan dari manusia yang berpuasa justru mengedepankan kesombongan, menganggap lebih baik dari yang lain, bahkan menyebarkan kekerasan karena dalam angan-angan mereka yang merasa sebagai orang suci yang telah mendapat mandat dari Tuhan untuk melakukan apa saja bagi orang lain. Akibatnya, puasa bukan lagi meningkatkan spritualitas dan religiustitas, tetapi tanpa disadari mendegradasikannya.
Fenomena ibadah untuk mencari keuntungan kini amat tampak. Berbagai ceramah keutamaan Ramadhan sebagai bulan penuh berkah: sepuluh awalnya rahmat, sepuluh tengahnya ampunan, dan sepuluh ujungnya pelepasan dari neraka. Terlebih, di bulan Ramadhan, ada satu malam yang bernilai seribu bulan (lailatul qadar). Hampir setiap penceramah mengungkap hal ini, dan mengatakan, siapa pun yang melakukan ibadah sunat pada bulan Ramadhan, niscaya nilainya dicatat sebagai ibadah wajib; siapa yang melakukan ibadah wajib, nilainya dilipatgandakan berpuluh bahkan beratus kali lipat. Kita pun ramai-ramai berebut pahala. Kita pikir, rangkaian ibadah selama bulan suci ini insya Allah akan menghapus dan mengimbangi pelbagai kekurangan, bahkan menghapus kejahatan— korupsi, penipuan, pemerkosaan hak-hak orang lain, dan lainnya—yang dilakukan sebelas bulan sebelumnya. Inilah mental pedagang yang dimaksud Ali ibn Abi Thalib.
Salah satu sebab yang tampaknya memicu kecenderungan melakukan ibadah ala pedagang adalah karena banyak ulama memberi tekanan lebih besar pada ajaran-ajaran eskatologis. Menurut tinjauan Jane I Smith Yvonne Y Haddad (1996: 2), hal itu awalnya dilakukan guna membentengi umat Islam dari pengaruh materialisme Barat. Namun, kecenderungan ini memberi dampak negatif, yakni terkikisnya nilai-nilai sosial dan kemanusiaan dalam ibadah. Akibatnya, ibadah hanya dipandang sebagai kewajiban manusia kepada Tuhan dan bekal menghadapi Hari Pengadilan.
Bukti nyata fenomena ini adalah shalat. Nabi menyatakan, shalat adalah tiang agama, penanda keislaman seseorang. Al-Quran menegaskan, shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Namun, kenyataannya, shalat sama sekali tidak berpengaruh pada perubahan sikap dan perilaku. Shalat tak membuat kita lebih menyayangi sesama, tak bisa mencegah kita menggunjingkan orang lain; tak kuasa menahan tangan untuk memalsu data dan me-mark-up anggaran, tak bisa mengendalikan tangan untuk merusak berbagai sendi kehidupan.
Begitu banyak pejabat yang tak pernah tinggal shalat lima waktu seraya tak segan menghabiskan uang rakyat. Begitu banyak pengusaha diceritakan sering puasa Senin-Kamis, tetapi enggan menghargai hak-hak pekerjanya. Begitu pun pekerjanya.
Banyak di antara mereka tak pernah tinggal shalat, tetapi mereka tak sungkan memalsu data, mengurangi kadar timbangan, dan melakukan tindakan korup uang kantor. Semua ini diakibatkan karena ego diri dan lebih mementingkan nilai-nilai duniawi.
Seharusnya, sebagaimana ditandai rukun shalat yang terakhir, shalat yang dilakukan bisa melahirkan kedamaian (salam) dan bisa membuat kita lebih menghargai hak-hak manusia.
Bukankah demkian dear all of my sweet brother & sister???

Tidak ada komentar:
Posting Komentar